Kami semua lalu pergi ke kantor polisi dan menjelaskan semuanya. Gilbert ditahan, sementara yang lain dipersilakan pulang.
"Aku masih penasaran," kataku saat kami sudah sampai di kamar penginapan, "memangnya apa isi surat itu?" Holmes lalu tergelak. "Ini, bacalah." katanya sambil memberikan surat itu padaku.
Kepada Yang Terhormat
Mr. Sherlock Holmes
Mr. Holmes, kita memang belum terlalu kenal satu sama lain, tetapi kau harus tahu, aku memiliki kelainan orientasi seksual, jadi, ya, aku suka padamu. Oleh karena itu, aku akan membeberkan semuanya.
Aku dan Bonnefoy tidak memiliki pekerjaan. Seorang lelaki datang pada kami, yang belakangan ini kuketahui bernama Roderich Edelstein. Ternyata ialah pelaku pembunuhan yang sebenarnya. Ia menawarkan pekerjaan terkutuk itu — menjadi informan. Karena bayarannya yang besar, 50 Goldmark* per hari, kami akhirnya menerima pekerjaan itu.
Lalu aku bertemu dengan dirimu. Aku melihat tingkahmu, mendengar suaramu, baiklah, ini mungkin terdengar menjijikkan, tapi aku jatuh cinta.
Aku benci pada diriku sendiri. Aku ingin mati saja. Lalu aku menulis surat ini. Mungkin ini kali pertama dan terakhir aku bicara padamu.
Carriedo
"Wah, kau populer juga ya..." kataku. Holmes tertawa kecil.
Beberapa hari kemudian, aku dan Holmes pulang ke Inggris. Gilbert dibebaskan karena perlakuannya dianggap penyelamatan.
Kami lalu sampai di Inggris. Kami kembali ke kehidupan biasa, tanpa tantangan, tanpa kasus.
Aku mengunjungi flat Holmes pada tanggal 31 Desember jam 10 malam. Kami lalu berbasa-basi. "Omong-omong," kataku, "Sepertinya Hoffman juga menyukaimu."
Holmes tertawa kecil. "Benarkah itu, Watson? Sepertinya undangan ini membantah teorimu." kata Holmes sambil memberikanku secarik kertas tebal.
KEPADA YANG TERHORMAT
SHERLOCK HOLMES & DR. JOHN WATSON
UNDANGAN PERNIKAHAN
LUDWIG BEILSCHMIDT
VIVIANA HOFFMAN
4 JANUARI 1888
GEREJA KATEDRAL BERLIN
"Mereka menikah?" tanyaku takjub. "Ya, sungguh hidup yang aneh." kata Holmes sambil menghisap cerutunya.
Lonceng gereja berbunyi, menandakan bergantinya tahun. Holmes lalu tersenyum.
"Selamat tahun baru, Watson."
Goldmark= Mata uang resmi yang dipakai Jerman sejak 1873, lalu digantikan oleh Papiermark. Papiermark mengalami hiperinflasi (inflasi yang terlalu tinggi), lalu Papiermark digantikan oleh Rentenmark pada 15 November 1923, dan digantikan lagi oleh Reichmark pada 1924. 2 Goldmark = 1 Euro.
(Sumber= wikipedia.org )
Senin, 31 Desember 2012
Kamis, 27 Desember 2012
Just Info (The Quest of Eldorado)
Halo~ kabar gembira nih buat yang nungguin Eldorado~
Jadi kan awalnya Eldorado gue tunda ke Februari karena Januarinya gue mau bikin OC, nah gue tuh lagi habis akal banget buat itu OC, makanya OC itu gue tunda sampe Februari.
Ya jadi The Quest of Eldorado gue bakal mulai di Januari!
Jadi kan awalnya Eldorado gue tunda ke Februari karena Januarinya gue mau bikin OC, nah gue tuh lagi habis akal banget buat itu OC, makanya OC itu gue tunda sampe Februari.
Ya jadi The Quest of Eldorado gue bakal mulai di Januari!
Selasa, 25 Desember 2012
Serigala dan Kelinci
Sebelumnya, Selamat Hari Raya buat yang merayakan! Terutama buat Fio~ makin makin yaa...
Karena gue BOSEEEN banget nungguin Tahun Baru (yang mana akan gue post part 13 pada tanggal tersebut) tapi gue mengalami WB akut buat cerita-cerita selanjutnya, akhirnya gue bikin cerita gaje bin mabok ini. Yaudah biar kaliangila nggak bosen, baca aja ya...
Karena gue BOSEEEN banget nungguin Tahun Baru (yang mana akan gue post part 13 pada tanggal tersebut) tapi gue mengalami WB akut buat cerita-cerita selanjutnya, akhirnya gue bikin cerita gaje bin mabok ini. Yaudah biar kalian
“Auuuuu!” teriak
serigala yang putus asa. “Ngapa lu?” tanya seekor kelinci yang abis begadang
nonton bokep. “Gue WB lagi nih.” jawab si serigala galau. “Oh, WB doaaang...
Gampang!” kata si kelinci sambil bayangin adegan bokep yag barusan ia tonton
(mohon jangan dikira kalau si kelinci ini kelinci household yang unyu-unyu.).
“Beneran lu cin? (ini
gak enak banget ya manggilnya cin) Gimana caranya?” tanya si serigala dengan
senyum sumringah. “Datanglah! Ke klinik Tong Fang TCM!” kata si kelinci. Tanpa banyak
bacod, serigala pun langsung menerkam si kelinci. Si serigala pun terbebas dari
WBnya dan membuat cerita ini.
Problem?
Sabtu, 22 Desember 2012
The Quest of Eldorado Teaser
Februari gue bakal bikin fanfic crossover Sherlock Holmes sama Detektif Conan. Gue bikin teasernya dulu ya. Hehe.
The Quest of Eldorado
Aurelia Vespucci, seorang penjelajah Spanyol, ditemukan mati tertembak di kapal penjelajahannya yang sedang singgah di Inggris. Ia menggenggam sepotong peta yang diduga adalah peta menuju kota emas Eldorado.
Seluruh dunia gempar. Sherlock Holmes pun beraksi. Dalam penyelidikan, ditemukan tulisan '1412' pada naskah peta. Sang detektif SMU dari timur Jepang – Shinichi Kudo, dipanggil karena besar kemungkinan pelakunya adalah Kaito KID.
Akan tetapi, perjuangan mereka terhalangi oleh Black Organization dan pemimpinnya, Anokata, yang juga ingin menguasai kota Eldorado.
Berhasilkah Sherlock Holmes mengungkap misteri pembunuhan Vespucci? Berhasilkah Shinichi Kudo meringkus Kaito KID dan menemukan kota Eldorado? Akankah identitas Anokata terbongkar?
Temukan jawabannya
Februari 2013
The Quest of Eldorado
Aurelia Vespucci, seorang penjelajah Spanyol, ditemukan mati tertembak di kapal penjelajahannya yang sedang singgah di Inggris. Ia menggenggam sepotong peta yang diduga adalah peta menuju kota emas Eldorado.
Seluruh dunia gempar. Sherlock Holmes pun beraksi. Dalam penyelidikan, ditemukan tulisan '1412' pada naskah peta. Sang detektif SMU dari timur Jepang – Shinichi Kudo, dipanggil karena besar kemungkinan pelakunya adalah Kaito KID.
Akan tetapi, perjuangan mereka terhalangi oleh Black Organization dan pemimpinnya, Anokata, yang juga ingin menguasai kota Eldorado.
Berhasilkah Sherlock Holmes mengungkap misteri pembunuhan Vespucci? Berhasilkah Shinichi Kudo meringkus Kaito KID dan menemukan kota Eldorado? Akankah identitas Anokata terbongkar?
Temukan jawabannya
Februari 2013
Jumat, 21 Desember 2012
Tiga Pengembara
Daripada bengong nungguin part 13, mendingan gue nyampah aja ya.
Eh iya kemaren gue dapet joke dari temen gue, Roy, dan gue gak bisa berhenti ketawa. Tapi sori ya kalo gue ceritainnya agak dry gitu.
Suatu hari, ada tiga orang pengembara. Mereka nemu lampu ajaib. Pengembara pertama menggosok lampunya. Keluarlah jin.
"Kalian masing-masing diberi satu permintaan." kata si jin itu.
Pengembara pertama itu suka main cewek. "Bangunkan aku sebuah gua, yang didalamnya ada wanita-wanita tercantik dari seluruh dunia, masukkan aku ke dalamnya, dan tutup gua itu selama 10 tahun." kata si pengembara pertama.
Pengembara kedua suka mabok-mabokan. "Bangunkan aku sebuah gua, yang di dalamnya ada tuak-tuak terbaik dari seluruh dunia, masukkan aku di dalamnya, dan tutup gua itu selama 10 tahun." kata si pengembara kedua.
Pengembara ketiga suka merokok. "Bangunkan aku sebuah gua, yang didalamnya ada rokok-rokok terbaik di dunia, masukkan aku kedalamnya, dan tutup gua itu selama 10 tahun." kata si pengembara ketiga.
Sesuai perjanjian, 10 tahun kemudian, gua itu dibuka.
Si pengembara pertama, sangat kurus, karena melayani nafsu wanita-wanita yang berada di dalam gua itu. Ia pun terkapar di tanah, mati.
Si pengembara kedua, sangat gemuk, karena kerjanya meminum tuak saja. Nasibnya pun tidak jauh dari si pengembara pertama.
Si pengembara ketiga keluar dari gua dalam keadaan sehat walafiat. Lalu ia berteriak keras-keras,
"WOY DASAR LU SETAN GOBLOK! KOREKNYA MANA???"
Eh iya kemaren gue dapet joke dari temen gue, Roy, dan gue gak bisa berhenti ketawa. Tapi sori ya kalo gue ceritainnya agak dry gitu.
Suatu hari, ada tiga orang pengembara. Mereka nemu lampu ajaib. Pengembara pertama menggosok lampunya. Keluarlah jin.
"Kalian masing-masing diberi satu permintaan." kata si jin itu.
Pengembara pertama itu suka main cewek. "Bangunkan aku sebuah gua, yang didalamnya ada wanita-wanita tercantik dari seluruh dunia, masukkan aku ke dalamnya, dan tutup gua itu selama 10 tahun." kata si pengembara pertama.
Pengembara kedua suka mabok-mabokan. "Bangunkan aku sebuah gua, yang di dalamnya ada tuak-tuak terbaik dari seluruh dunia, masukkan aku di dalamnya, dan tutup gua itu selama 10 tahun." kata si pengembara kedua.
Pengembara ketiga suka merokok. "Bangunkan aku sebuah gua, yang didalamnya ada rokok-rokok terbaik di dunia, masukkan aku kedalamnya, dan tutup gua itu selama 10 tahun." kata si pengembara ketiga.
Sesuai perjanjian, 10 tahun kemudian, gua itu dibuka.
Si pengembara pertama, sangat kurus, karena melayani nafsu wanita-wanita yang berada di dalam gua itu. Ia pun terkapar di tanah, mati.
Si pengembara kedua, sangat gemuk, karena kerjanya meminum tuak saja. Nasibnya pun tidak jauh dari si pengembara pertama.
Si pengembara ketiga keluar dari gua dalam keadaan sehat walafiat. Lalu ia berteriak keras-keras,
"WOY DASAR LU SETAN GOBLOK! KOREKNYA MANA???"
The Algebraic Murder - Pt. 12
Aku juga melakukan hal yang sama pada Hēdērvary. Aku lalu mendatangi kawan dekatku, Antonio Carriedo dan Francis Bonnefoy. Kutawari sejumlah bayaran, dan mereka setuju menjadi informan. Aku terkejut, keesokan harinya Hoffman datang bersama Sherlock Holmes. Aku nyaris tidak punya harapan.
Aku lalu mendatangi Carriedo dan Bonnefoy. Aku terkaget melihat Carriedo sudah terbaring dengan pisau menancap di dadanya. "Apa yang terjadi?" tanyaku heran. "Aku tidak tahu, aku datang dan tiba-tiba ia sudah terbaring disini!" kata Bonnefoy linglung. Kami lalu bertengkar. Pikiranku kacau, aku menembak Bonnefoy. Lalu dengan ceroboh aku menaruh pistol itu di tangan kanan Bonnefoy. Lalu aku pulang.
Malam ini, Sherlock Holmes, Hoffman, dan kawan-kawannya datang. Aku sudah pasrah, mereka mungkin sudah tahu apa yang aku lakukan. Ternyata tebakanku benar.
"Roderich... Mengapa kau tidak memberitahuku?" tanya Hoffman. Roderich tersenyum, tiba-tiba ia mengeluarkan pistol dari sabuknya, lalu ia mengarahkannya pada Hoffman dan...
DOR!
Edelstein menembak Hoffman, tetapi Ludwig dengan sigap meloncat di depan Hoffman untuk melindunginya. Tanpa terduga, Gilbert menembak Edelstein di saat yang bersamaan.
Edelstein sudah tak bernyawa dengan bekas peluru di kepalanya, Ludwig mencengkram bahunya yang sedang berdarah, Hoffman terpaku di hadapan Ludwig yang kesakitan, dan Gilbert menjatuhkan senjatanya perlahan.
"Beilschmidt?" tanya Hoffman pada Ludwig. Ludwig mengangguk, manandakan bahwa ia baik-baik saja.
"Penyelamatan yang bagus, Tuan Beilschmidt, keduanya." kata Holmes.
"Tugasku dan Watson sudah selesai. Terima kasih atas bantuan anda semua."
Aku lalu mendatangi Carriedo dan Bonnefoy. Aku terkaget melihat Carriedo sudah terbaring dengan pisau menancap di dadanya. "Apa yang terjadi?" tanyaku heran. "Aku tidak tahu, aku datang dan tiba-tiba ia sudah terbaring disini!" kata Bonnefoy linglung. Kami lalu bertengkar. Pikiranku kacau, aku menembak Bonnefoy. Lalu dengan ceroboh aku menaruh pistol itu di tangan kanan Bonnefoy. Lalu aku pulang.
Malam ini, Sherlock Holmes, Hoffman, dan kawan-kawannya datang. Aku sudah pasrah, mereka mungkin sudah tahu apa yang aku lakukan. Ternyata tebakanku benar.
"Roderich... Mengapa kau tidak memberitahuku?" tanya Hoffman. Roderich tersenyum, tiba-tiba ia mengeluarkan pistol dari sabuknya, lalu ia mengarahkannya pada Hoffman dan...
DOR!
Edelstein menembak Hoffman, tetapi Ludwig dengan sigap meloncat di depan Hoffman untuk melindunginya. Tanpa terduga, Gilbert menembak Edelstein di saat yang bersamaan.
Edelstein sudah tak bernyawa dengan bekas peluru di kepalanya, Ludwig mencengkram bahunya yang sedang berdarah, Hoffman terpaku di hadapan Ludwig yang kesakitan, dan Gilbert menjatuhkan senjatanya perlahan.
"Beilschmidt?" tanya Hoffman pada Ludwig. Ludwig mengangguk, manandakan bahwa ia baik-baik saja.
"Penyelamatan yang bagus, Tuan Beilschmidt, keduanya." kata Holmes.
"Tugasku dan Watson sudah selesai. Terima kasih atas bantuan anda semua."
The Algebraic Murder - Pt. 11
Aku segera meraup dokumen itu dari atas meja dan berlari menuju kamarku.
Jantungku berdegup cepat. Aku takut. Aku takut ada yang menyakitiku lagi. Aku takut!
Aku jatuh terduduk di atas ranjangku. Aku terdiam. Aku membayangkan aku akan disiksa lagi seperti dulu saat aku masih kecil. Aku gemetar membayangkannya.
"Ada apa, Roderich?" tanya Abellard yang sudah terbangun. Abellard lalu melihat dokumen itu. Ia terbelalak. Ia marah. Ini pertama kalinya kulihat ia marah.
"Roderich?" bisiknya lembut. "Abellard, tolong, jangan beritahu ini kepada siapapun. Bahkan kepada Hoffman dan Hēdērvary. Aku akan membakar dokumen ini, lalu aku akan kabur, saat ini juga. Kau mengerti, Abellard?" kataku serius.
Abellard menengok pada Hoffman dan Hēdērvary yang masih tertidur. "Tapi Roderich..." kata Abellard lirih. "Percayalah padaku." kataku sambil menggenggam erat tangan Abellard. Air mata Abellard meleleh. Ia balas menggenggam tanganku dan tersenyum.
"Berjuanglah sobat, Tuhan menyertaimu!" bisiknya pelan di telingaku. Aku mengangguk, membereskan barang-barangku, dan kabur lewat jendela. Aku menengok ke belakang, aku melihat bangunan itu.
"Selamat tinggal Abellard..."
11 TAHUN KEMUDIAN
"... Sekian, terimakasih." kataku mengakhiri sebuah pidato. Semua orang bertepuk tangan. Aku turun dari podium.
"Pengaruh Perang Prancis-Prusia pada pendidikan, Tuhan, kau hebat, Edelstein!" kata Greenfield, teman sesama dosen. "Terima kasih, Greenfield." jawabku.
Aku pulang ke rumahku. "Tuan, ada surat..." sambut pelayan. "Terimakasih." jawabku.
KEPADA RODERICH EDELSTEIN
DARI ABELLARD SCHWESSER
"Abellard?" gumamku pelan. Aku lalu membaca isi surat itu.
Roderich,
Sudah 11 tahun kita tak saling bertemu. Aku rindu kau. Kudengar kau sekarang mengajar di Universitas Berlin? Kau hebat, Roderich!
Aku mengirim surat ini hanya untuk memberikan kabarku. Semenjak kepergianmu, aku menjaga jarak dari ayah. Tenyata ia hanya ingin mengambil keuntungan darimu, hatiku sakit sekali. 3 tahun yang lalu, ayahku meninggal. Ia terbunuh oleh Pembunuh Aljabar. Kau pasti tahu kan? Yah, entah mengapa aku tidak merasa kehilangan.
Entah.
Sekarang aku menjadi konduktor. Ini mimpiku, Roderich! Aku sangat senang. Viviana sekarang menjadi kekasihku.
Aku sangat ingin bertemu denganmu lagi.
Salam hangat,
Abellard Schwesser
P.S. : Hēdērvary masih sendiri...
Ceria dan berbasa-basi. Sangat khas Abellard.
Aku membalik kertas itu.
51 Slavik St.
Berlin, Jerman
Temui aku kapanpun.
Aku termenung. Tanpa sadar aku mengambil sebilah belati perak dari dalam laci meja kerjaku. Aku mendapat ide.
Tak lama kemudian, aku sudah berada di dalam kereta. Aku membawa belati itu dan secarik soal aljabar.
Astaga, pikirku, Aku akan jadi seorang kriminal! Pikiranku kalut. Takut, tapi ingin kucoba.
Digerogoti pikiran sendiri, aku sampai tak sadar kalau aku sudah berdiri di depan pintu rumah Abellard.
Pintu itu terbuka. Keluarlah seorang lelaki gagah, namun berpembawaan lembut. Berambut pirang dan bermata hijau. Ya, dialah Abellard, pikirku.
"Roderich? Kau Roderich?" tanya Abellard senang. Ia melonjak bahagia ketika aku mengangguk.
"Roderich Edelstein, guru besar Universitas Berlin!" kata Abellard sambil menepuk punggungku bersahabat. Lalu kami masuk.
Kami berbasa-basi, lalu pada pukul 8, Abellard menyiapkan diri untuk pergi. "Mau kemana kau, Abellard?" tanyaku. "Kencan dengan Hoffman." jawabnya sambil tersipu malu. Aku lalu berdiri di belakang Abellard, mengambil belatiku, dan dengan seluruh kekuatan...
STAB!
Abellard terbaring telungkup di atas lantai. "Mengapa, Roderich... Mengapa..." kata-kata terakhir Abellard.
"Dendam, Abellard. Karena air susu dibalas dengan air tuba..."
Jantungku berdegup cepat. Aku takut. Aku takut ada yang menyakitiku lagi. Aku takut!
Aku jatuh terduduk di atas ranjangku. Aku terdiam. Aku membayangkan aku akan disiksa lagi seperti dulu saat aku masih kecil. Aku gemetar membayangkannya.
"Ada apa, Roderich?" tanya Abellard yang sudah terbangun. Abellard lalu melihat dokumen itu. Ia terbelalak. Ia marah. Ini pertama kalinya kulihat ia marah.
"Roderich?" bisiknya lembut. "Abellard, tolong, jangan beritahu ini kepada siapapun. Bahkan kepada Hoffman dan Hēdērvary. Aku akan membakar dokumen ini, lalu aku akan kabur, saat ini juga. Kau mengerti, Abellard?" kataku serius.
Abellard menengok pada Hoffman dan Hēdērvary yang masih tertidur. "Tapi Roderich..." kata Abellard lirih. "Percayalah padaku." kataku sambil menggenggam erat tangan Abellard. Air mata Abellard meleleh. Ia balas menggenggam tanganku dan tersenyum.
"Berjuanglah sobat, Tuhan menyertaimu!" bisiknya pelan di telingaku. Aku mengangguk, membereskan barang-barangku, dan kabur lewat jendela. Aku menengok ke belakang, aku melihat bangunan itu.
"Selamat tinggal Abellard..."
11 TAHUN KEMUDIAN
"... Sekian, terimakasih." kataku mengakhiri sebuah pidato. Semua orang bertepuk tangan. Aku turun dari podium.
"Pengaruh Perang Prancis-Prusia pada pendidikan, Tuhan, kau hebat, Edelstein!" kata Greenfield, teman sesama dosen. "Terima kasih, Greenfield." jawabku.
Aku pulang ke rumahku. "Tuan, ada surat..." sambut pelayan. "Terimakasih." jawabku.
KEPADA RODERICH EDELSTEIN
DARI ABELLARD SCHWESSER
"Abellard?" gumamku pelan. Aku lalu membaca isi surat itu.
Roderich,
Sudah 11 tahun kita tak saling bertemu. Aku rindu kau. Kudengar kau sekarang mengajar di Universitas Berlin? Kau hebat, Roderich!
Aku mengirim surat ini hanya untuk memberikan kabarku. Semenjak kepergianmu, aku menjaga jarak dari ayah. Tenyata ia hanya ingin mengambil keuntungan darimu, hatiku sakit sekali. 3 tahun yang lalu, ayahku meninggal. Ia terbunuh oleh Pembunuh Aljabar. Kau pasti tahu kan? Yah, entah mengapa aku tidak merasa kehilangan.
Entah.
Sekarang aku menjadi konduktor. Ini mimpiku, Roderich! Aku sangat senang. Viviana sekarang menjadi kekasihku.
Aku sangat ingin bertemu denganmu lagi.
Salam hangat,
Abellard Schwesser
P.S. : Hēdērvary masih sendiri...
Ceria dan berbasa-basi. Sangat khas Abellard.
Aku membalik kertas itu.
51 Slavik St.
Berlin, Jerman
Temui aku kapanpun.
Aku termenung. Tanpa sadar aku mengambil sebilah belati perak dari dalam laci meja kerjaku. Aku mendapat ide.
Tak lama kemudian, aku sudah berada di dalam kereta. Aku membawa belati itu dan secarik soal aljabar.
Astaga, pikirku, Aku akan jadi seorang kriminal! Pikiranku kalut. Takut, tapi ingin kucoba.
Digerogoti pikiran sendiri, aku sampai tak sadar kalau aku sudah berdiri di depan pintu rumah Abellard.
Pintu itu terbuka. Keluarlah seorang lelaki gagah, namun berpembawaan lembut. Berambut pirang dan bermata hijau. Ya, dialah Abellard, pikirku.
"Roderich? Kau Roderich?" tanya Abellard senang. Ia melonjak bahagia ketika aku mengangguk.
"Roderich Edelstein, guru besar Universitas Berlin!" kata Abellard sambil menepuk punggungku bersahabat. Lalu kami masuk.
Kami berbasa-basi, lalu pada pukul 8, Abellard menyiapkan diri untuk pergi. "Mau kemana kau, Abellard?" tanyaku. "Kencan dengan Hoffman." jawabnya sambil tersipu malu. Aku lalu berdiri di belakang Abellard, mengambil belatiku, dan dengan seluruh kekuatan...
STAB!
Abellard terbaring telungkup di atas lantai. "Mengapa, Roderich... Mengapa..." kata-kata terakhir Abellard.
"Dendam, Abellard. Karena air susu dibalas dengan air tuba..."
Jumat, 14 Desember 2012
The Algebraic Murder - Pt. 10
BAGIAN 2
Kisah Hidup Roderich Edelstein
PLAK! DASH! DUG! BRAKK!
Ayah memukuliku tanpa belas kasihan. Ibu hanya menatap dingin seolah setuju. "Dasar anak haram!" hardik Ayah berulang-ulang. Hatiku sakit sekali. Tubuhku dan hatiku sama saja; tidak kuat menghadapi ini. Setiap sore ayahku pulang bekerja, setiap kali itu pula aku dihantam seperti ini.
Aku tidak tahan lagi. Aku akhirnya kabur.
Aku tidak tahu, yang aku lakukan hanya berlari. Berlari sejauh mungkin dari rumah jahanam itu. Lelah, lapar, haus, tak kurasakan. Aku ingin hidup! Aku ingin hakku untuk hidup!
Entah sudah berapa jauh aku berlari, aku melihat sebuah bangunan, besar, berhias lampu-lampu yang indah. Aku sangat lelah. Tapi aku takut, kalau aku masuk bangunan itu, aku akan bertemu seseorang yang akan menyiksaku lagi. Akhirnya aku terhuyung-huyung duduk di depan bangunan itu. Aku lalu tertidur.
Aku lalu terbangun dalam suatu ruangan. Tercium semerbak bunga mawar. Dimanakah ini?
"Halo, sobat kecil." kata anak laki-laki, mungkin berusia 10 tahun.
"Namaku Schwesser, tapi kau bisa memanggilku Abellard. Siapa namamu?" tanya anak itu.
"Roderich," kataku, "Roderich Edelstein."
Aku lalu mengobrol dengan anak itu. "Jadi, bagaimana kau bisa sampai ke tempat ini?" tanya Abellard. Aku lalu menceritakan apa yang telah aku alami. "Oh, astaga kawan, kau beruntung bisa sampai disini!" kata Abellard. "Memang tempat ini apa?" tanyaku. "Ini adalah sebuah teater. Aku adalah anggota dari orkestra teater. Kau bisa bermain alat musik?" kata Abellard. "Yah, aku bisa sedikit bermain piano.." kataku. "Aku ingin lihat permainanmu. Ayo, ikut aku!" kata Abellard sambil menarik tanganku.
Aku lalu sampai di sebuah aula, aku melihat sebuah gendang, banyak cello, tapi satu benda yang menarik perhatianku; sebuah piano tua, teronggok manis di pojok kiri ruangan, sungguh indah.
"Ini tempat kami berlatih dan..." kata-kata Abellard terputus oleh suara langkah kaki yang berat dari balik punggung kami. Aku menoleh. Berdirilah seorang lelaki paruh baya yang sudah agak beruban. Aku bergidik membayangkan ayahku. Namun pria ini memiliki sorot mata kebapakan.
"Siapa ini, Abellard?" tanya bapak itu sambil berjongkok agar tingginya sama denganku. Aku menunduk, aku jadi teringat makian ayahku dan tatapan dingin ibuku. "Oh, namanya Roderich. Roderich, perkenalkan, ini ayahku, Auckman Schwesser. Ayahku pemilik orkestra ini." kata Abellard. Ia lalu menceritakan apa yang telah kualami.
"Bocah malang," kata Tuan Schwesser sambil menatapku iba, "Nah, sekarang ayo kita lihat kemampuanmu!" kata Tuan Schwesser sambil menarik kursi piano untukku.
Aku lalu memainkan lagu kesukaanku, "Symphony No. 40 In G Minor". Aku senang sekali memainkannya. Bermain piano membebaskan pikiranku dari segala ketakutan.
Tuan Schwesser tercengang. Abellard pun tak jauh berbeda. "Kau hebat sekali! Siapa yang mengajarimu?" tanya Tuan Schwesser. "Aku tidak tahu, aku hanya... mendengar." jawabku ragu.
Tuan Schwesser tercekat. "Jangan-jangan kau..." Tuan Schwesser terguncang, "Jangan-jangan bapakmu itu... Mösen Edelstein?"
Aku lalu teringat tulisan di depan flat ayah – Mr. Mösen Edelstein. "Ya... Ada apa?" tanyaku.
"Mösen Edelstein dulunya adalah bintang di orkestra ini. Semuanya berubah ketika Ia menghamili ibumu, Miller Grosling, yang sudah menjadi tunangan dari pengusaha terkenal, Sebastian Verde. Ayahmu pun dikeluarkan dari orkestra. Grosling pun diceraikan oleh Verde. Jadi mungkin itu penyebab kemalanganmu." jelas Tuan Schwesser.
"Tapi kau kan sudah berada di sini," kata Abellard, "Jadi kau akan aman! Ya kan, ayah?"
"Ya, aku akan memasukkanmu dalam orkestra ini. Kau akan punya nama panggung!" kata Tuan Schwesser sambil mengguncang-guncang tubuhku. "Sekarang beristirahatlah," kata Tuan Schwesser, "Aku tahu kau lelah. Hari sudah malam. Beristirahatlah. Asrama ada di sebelah sana. Antarkan dia, Abellard."
"Baik, Ayah." jawab Abellard patuh.
Aku terbangun. Arloji di samping tempat tidurku menunjukkan pukul 8 lewat 16. "Selamat pagi, Roderich! Ayo kita sarapan!" sambut Abellard hangat. Lalu aku mengikutinya ke ruang makan. Di ruang makan aku melihat sudah ada dua anak perempuan. Perawakan mereka sama, tapi satu anak berwajah keras, berambut hitam lurus dan sangat panjang, berkulit sangat putih, putih seperti salju. Satu lagi berwajah lembut dengan rambut pirang yang mengembang alami dan kulitnya lebih cerah dari pada si rambut hitam.
"Abellard! Selamat pagi!" sambut si rambut pirang. "Menu hari ini sup jagung." kata si rambut hitam sambil tersenyum tipis.
"Bagus!" kata Abellard. "Perkenalkan, namanya Roderich Edelstein. Ia anggota baru kita." kata Abellard memperkenalkanku.
"Halo, Edelstein! Namaku Elizaveta Hēdērvary! Aku violinis junior disini. Salam kenal!" kata si rambut pirang.
"Selamat pagi, Edelstein. Namaku Viviana Hoffman. Aku sama dengan Hēdērvary. Salam kenal. Apa yang membawamu ke sini?" kata si rambut hitam. Abellard lalu menceritakan kejadian yang menimpaku. "Astaga," kata Hoffman, "Ayo makan dulu, lalu kita akan latihan."
Hari demi hari berlalu. Persahabatanku dengan ketiga anak itu berkembang, menjadi persaudaraan. Heinrich Dressler, nama panggung yang dikalungkan padaku. Aku menjadi bintang di orkestra tersebut. Tak terasa 6 tahun berlalu. Pada usia 11 tahun, aku resmi menjadi virtuoso. Hidupku baik-baik saja dan masa depanku terjamin bersama orkestra ini. Hingga kejadian itu menimpaku.
Aku terbangun dari tidurku. Aku menengok disampingku, Abellard masih tertidur. "Hei! Abellard!" bisikku pelan. Ia tetap tidak terbangun. Kami memang baru saja melaksanakan pertunjukan penting di pusat kota semalam, jadi tidak heran kalau ia kelelahan.
"Apa boleh buat," kataku sambil mengangkat bahu. Aku lalu berjalan-jalan di sekitar koridor. "Apa yang anda lakukan, Tuan muda?" tanya Waters, pelayan yang sudah agak lama tinggal di sini. "Tolong jangan panggil aku Tuan muda," kataku sambil tersenyum, "Yah, aku hanya berjalan-jalan, aku tidak bisa tidur."
Aku lalu melihat sebuah pintu terbuka. Aku lalu masuk ke dalamnya. Ternyata itu adalah ruang kerja Tuan Schwesser. Aku hampir keluar ketika aku melihat sebuah dokumen yang bertuliskan namaku di atas meja kerja.
NAMA: RODERICH EDELSTEIN
USIA: 11 TAHUN
TERIMA DARI: AUCKMAN SCHWESSER
HARGA: 1,000,000 POUNDSTERLING
"Apa..?" kataku syok.
"Aku..."
"Dijual...??"
Kisah Hidup Roderich Edelstein
PLAK! DASH! DUG! BRAKK!
Ayah memukuliku tanpa belas kasihan. Ibu hanya menatap dingin seolah setuju. "Dasar anak haram!" hardik Ayah berulang-ulang. Hatiku sakit sekali. Tubuhku dan hatiku sama saja; tidak kuat menghadapi ini. Setiap sore ayahku pulang bekerja, setiap kali itu pula aku dihantam seperti ini.
Aku tidak tahan lagi. Aku akhirnya kabur.
Aku tidak tahu, yang aku lakukan hanya berlari. Berlari sejauh mungkin dari rumah jahanam itu. Lelah, lapar, haus, tak kurasakan. Aku ingin hidup! Aku ingin hakku untuk hidup!
Entah sudah berapa jauh aku berlari, aku melihat sebuah bangunan, besar, berhias lampu-lampu yang indah. Aku sangat lelah. Tapi aku takut, kalau aku masuk bangunan itu, aku akan bertemu seseorang yang akan menyiksaku lagi. Akhirnya aku terhuyung-huyung duduk di depan bangunan itu. Aku lalu tertidur.
Aku lalu terbangun dalam suatu ruangan. Tercium semerbak bunga mawar. Dimanakah ini?
"Halo, sobat kecil." kata anak laki-laki, mungkin berusia 10 tahun.
"Namaku Schwesser, tapi kau bisa memanggilku Abellard. Siapa namamu?" tanya anak itu.
"Roderich," kataku, "Roderich Edelstein."
Aku lalu mengobrol dengan anak itu. "Jadi, bagaimana kau bisa sampai ke tempat ini?" tanya Abellard. Aku lalu menceritakan apa yang telah aku alami. "Oh, astaga kawan, kau beruntung bisa sampai disini!" kata Abellard. "Memang tempat ini apa?" tanyaku. "Ini adalah sebuah teater. Aku adalah anggota dari orkestra teater. Kau bisa bermain alat musik?" kata Abellard. "Yah, aku bisa sedikit bermain piano.." kataku. "Aku ingin lihat permainanmu. Ayo, ikut aku!" kata Abellard sambil menarik tanganku.
Aku lalu sampai di sebuah aula, aku melihat sebuah gendang, banyak cello, tapi satu benda yang menarik perhatianku; sebuah piano tua, teronggok manis di pojok kiri ruangan, sungguh indah.
"Ini tempat kami berlatih dan..." kata-kata Abellard terputus oleh suara langkah kaki yang berat dari balik punggung kami. Aku menoleh. Berdirilah seorang lelaki paruh baya yang sudah agak beruban. Aku bergidik membayangkan ayahku. Namun pria ini memiliki sorot mata kebapakan.
"Siapa ini, Abellard?" tanya bapak itu sambil berjongkok agar tingginya sama denganku. Aku menunduk, aku jadi teringat makian ayahku dan tatapan dingin ibuku. "Oh, namanya Roderich. Roderich, perkenalkan, ini ayahku, Auckman Schwesser. Ayahku pemilik orkestra ini." kata Abellard. Ia lalu menceritakan apa yang telah kualami.
"Bocah malang," kata Tuan Schwesser sambil menatapku iba, "Nah, sekarang ayo kita lihat kemampuanmu!" kata Tuan Schwesser sambil menarik kursi piano untukku.
Aku lalu memainkan lagu kesukaanku, "Symphony No. 40 In G Minor". Aku senang sekali memainkannya. Bermain piano membebaskan pikiranku dari segala ketakutan.
Tuan Schwesser tercengang. Abellard pun tak jauh berbeda. "Kau hebat sekali! Siapa yang mengajarimu?" tanya Tuan Schwesser. "Aku tidak tahu, aku hanya... mendengar." jawabku ragu.
Tuan Schwesser tercekat. "Jangan-jangan kau..." Tuan Schwesser terguncang, "Jangan-jangan bapakmu itu... Mösen Edelstein?"
Aku lalu teringat tulisan di depan flat ayah – Mr. Mösen Edelstein. "Ya... Ada apa?" tanyaku.
"Mösen Edelstein dulunya adalah bintang di orkestra ini. Semuanya berubah ketika Ia menghamili ibumu, Miller Grosling, yang sudah menjadi tunangan dari pengusaha terkenal, Sebastian Verde. Ayahmu pun dikeluarkan dari orkestra. Grosling pun diceraikan oleh Verde. Jadi mungkin itu penyebab kemalanganmu." jelas Tuan Schwesser.
"Tapi kau kan sudah berada di sini," kata Abellard, "Jadi kau akan aman! Ya kan, ayah?"
"Ya, aku akan memasukkanmu dalam orkestra ini. Kau akan punya nama panggung!" kata Tuan Schwesser sambil mengguncang-guncang tubuhku. "Sekarang beristirahatlah," kata Tuan Schwesser, "Aku tahu kau lelah. Hari sudah malam. Beristirahatlah. Asrama ada di sebelah sana. Antarkan dia, Abellard."
"Baik, Ayah." jawab Abellard patuh.
Aku terbangun. Arloji di samping tempat tidurku menunjukkan pukul 8 lewat 16. "Selamat pagi, Roderich! Ayo kita sarapan!" sambut Abellard hangat. Lalu aku mengikutinya ke ruang makan. Di ruang makan aku melihat sudah ada dua anak perempuan. Perawakan mereka sama, tapi satu anak berwajah keras, berambut hitam lurus dan sangat panjang, berkulit sangat putih, putih seperti salju. Satu lagi berwajah lembut dengan rambut pirang yang mengembang alami dan kulitnya lebih cerah dari pada si rambut hitam.
"Abellard! Selamat pagi!" sambut si rambut pirang. "Menu hari ini sup jagung." kata si rambut hitam sambil tersenyum tipis.
"Bagus!" kata Abellard. "Perkenalkan, namanya Roderich Edelstein. Ia anggota baru kita." kata Abellard memperkenalkanku.
"Halo, Edelstein! Namaku Elizaveta Hēdērvary! Aku violinis junior disini. Salam kenal!" kata si rambut pirang.
"Selamat pagi, Edelstein. Namaku Viviana Hoffman. Aku sama dengan Hēdērvary. Salam kenal. Apa yang membawamu ke sini?" kata si rambut hitam. Abellard lalu menceritakan kejadian yang menimpaku. "Astaga," kata Hoffman, "Ayo makan dulu, lalu kita akan latihan."
Hari demi hari berlalu. Persahabatanku dengan ketiga anak itu berkembang, menjadi persaudaraan. Heinrich Dressler, nama panggung yang dikalungkan padaku. Aku menjadi bintang di orkestra tersebut. Tak terasa 6 tahun berlalu. Pada usia 11 tahun, aku resmi menjadi virtuoso. Hidupku baik-baik saja dan masa depanku terjamin bersama orkestra ini. Hingga kejadian itu menimpaku.
Aku terbangun dari tidurku. Aku menengok disampingku, Abellard masih tertidur. "Hei! Abellard!" bisikku pelan. Ia tetap tidak terbangun. Kami memang baru saja melaksanakan pertunjukan penting di pusat kota semalam, jadi tidak heran kalau ia kelelahan.
"Apa boleh buat," kataku sambil mengangkat bahu. Aku lalu berjalan-jalan di sekitar koridor. "Apa yang anda lakukan, Tuan muda?" tanya Waters, pelayan yang sudah agak lama tinggal di sini. "Tolong jangan panggil aku Tuan muda," kataku sambil tersenyum, "Yah, aku hanya berjalan-jalan, aku tidak bisa tidur."
Aku lalu melihat sebuah pintu terbuka. Aku lalu masuk ke dalamnya. Ternyata itu adalah ruang kerja Tuan Schwesser. Aku hampir keluar ketika aku melihat sebuah dokumen yang bertuliskan namaku di atas meja kerja.
NAMA: RODERICH EDELSTEIN
USIA: 11 TAHUN
TERIMA DARI: AUCKMAN SCHWESSER
HARGA: 1,000,000 POUNDSTERLING
"Apa..?" kataku syok.
"Aku..."
"Dijual...??"
Sabtu, 08 Desember 2012
The Algebraic Murder - Pt. 9
Hoffman terbelalak. "Roderich... Tidak mungkin!" Hoffman marah. "Tapi Nona, pendengaranku masih baik..." kata Mallard. "Baiklah Tuan, terima kasih atas bantuan anda." kata Holmes. Kami lalu kembali ke kereta pergi ke rumah Roderich Edelstein. Hoffman masih terpaku. "Aku.. Aku tidak percaya..." kata Hoffman. "Segalanya bisa terjadi, Nona Hoffman. Selama belum 0%, segalanya masih bisa terjadi." kata Holmes.
Kami lalu sampai di kediaman Edelstein. Saat itu sudah tengah malam. "Aku akan masuk lewat belakang." kata Hoffman. "Tidak." kata Holmes menahan tangan Hoffman. Terjadi kesunyian. Hoffman menatap mata Holmes yang tajam lekat-lekat. "Ayo, kita tidak punya banyak waktu." kata Holmes sambil menarik tangan Hoffman ke depan pintu. Holmes mengetuk pintu itu. Tidak ada jawaban. "Tentu, dia sudah tertidur." kata Holmes. "Tidak. Ia selalu terjaga hingga pagi datang lagi." kata Hoffman. Benar saja, pintu itu terbuka.
"Oh, kalian! Ada apa kali ini?" tanya Edelstein ramah. "Boleh kami masuk?" tanya Holmes. "Baiklah. Silakan masuk." kata Edelstein kemudian. "Jadi, apa yang bisa kubantu?" tanya Edelstein.
"Sebenarnya kami tidak ingin minta tolong. Tapi aku ingin bercerita tentang sesuatu." kata Holmes sambil tersenyum. Semua orang keheranan. "Baiklah." kata Edelstein tersenyum heran.
"Jadi, kau ingin membunuh semua anggota orkestra. Lalu kau mengetahui tentang latar belakang Hoffman. Kau melihat ini sebagai sebuah... Kau tahu, kesempatan. Lalu kau berpikir untuk membunuh konduktor, yaitu Schwesser. Kau menggunakan modus operandi Hoffman, jadi Hoffmanlah yang akan dituduh."
"Benar saja, Hoffman lalu ditangkap. Kau pun kalap dan membunuh Hedervary."
Wajah Gilbert memerah.
"Disini kau melakukan kesalahan. Kau tampaknya tidak tahu kalau Hoffman beraksi sendiri. Begitu mayat Hedervary ditemukan, polisi langsung membebaskan Hoffman. Lalu kami membawakan kertas yang berisi soal aljabar. Kali ini aku yang melakukan kesalahan. Aku tidak melihat kertas itu, dan malah mempercayaimu."
"Mengapa itu salah?" tanya Edelstein.
"Itu artinya aku mempermudahmu melakukan trik psikologi terbalik. Kau mengatakan sifat yang sama sekali berlawanan denganmu."
"Dari kunjungan itu, aku mengetahui satu hal yang pasti,"
"Carriedo dan Bonnefoy sudah mengenalmu sebelumnya. Aku tahu itu karena Bonnefoy kidal. Saat kau bersalaman dengannya, kau mengulurkan tangan kiri. Kalau kalian belum saling kenal, kau akan mengulurkan tangan kananmu. "
"Lalu baru saja malam ini, kau datang ke kediaman Carriedo dan Bonnefoy. Entah apa yang kalian bicarakan, tampaknya seru sekali. Sampai-sampai pemilik flat itu mendengar beberapa kata dari pertengkaran kalian. Tapi dari surat ini," kata Holmes sambil mengambil surat dari Carriedo dan mengacung-acungkannya ke udara, "Aku tahu kalau mereka adalah informanmu."
"Holmes! Apa-apaan kau ini? Semua omong kosongmu itu!" kata Ludwig marah. Memang Carriedo dan Bonnefoy adalah sahabat baik Ludwig.
Tanpa mengindahkan kata-kata Ludwig, Holmes melanjutkan ceritanya. "Carriedo ingin berhenti karena alasan pribadi. Lalu entah mengapa kau membunuh Bonnefoy. Lagi-lagi kau melakukan kesalahan, kau terburu-buru. Kau meletakkan pistol itu di tangan kanannya. Yah, itu adalah segala hal yang kutahu."
Edelstein hanya diam. Namun tatapan matanya tetap tenang. "Tolong katakan semua itu salah.. Tolong, Roderich.." kata Hoffman.
Edelstein tersenyum dan menggeleng. "Yah, apa yang dikatakan tuan ini ada benarnya. Tapi aku akan menambahkan apa yang kalian tidak ketahui."
Kami lalu sampai di kediaman Edelstein. Saat itu sudah tengah malam. "Aku akan masuk lewat belakang." kata Hoffman. "Tidak." kata Holmes menahan tangan Hoffman. Terjadi kesunyian. Hoffman menatap mata Holmes yang tajam lekat-lekat. "Ayo, kita tidak punya banyak waktu." kata Holmes sambil menarik tangan Hoffman ke depan pintu. Holmes mengetuk pintu itu. Tidak ada jawaban. "Tentu, dia sudah tertidur." kata Holmes. "Tidak. Ia selalu terjaga hingga pagi datang lagi." kata Hoffman. Benar saja, pintu itu terbuka.
"Oh, kalian! Ada apa kali ini?" tanya Edelstein ramah. "Boleh kami masuk?" tanya Holmes. "Baiklah. Silakan masuk." kata Edelstein kemudian. "Jadi, apa yang bisa kubantu?" tanya Edelstein.
"Sebenarnya kami tidak ingin minta tolong. Tapi aku ingin bercerita tentang sesuatu." kata Holmes sambil tersenyum. Semua orang keheranan. "Baiklah." kata Edelstein tersenyum heran.
"Jadi, kau ingin membunuh semua anggota orkestra. Lalu kau mengetahui tentang latar belakang Hoffman. Kau melihat ini sebagai sebuah... Kau tahu, kesempatan. Lalu kau berpikir untuk membunuh konduktor, yaitu Schwesser. Kau menggunakan modus operandi Hoffman, jadi Hoffmanlah yang akan dituduh."
"Benar saja, Hoffman lalu ditangkap. Kau pun kalap dan membunuh Hedervary."
Wajah Gilbert memerah.
"Disini kau melakukan kesalahan. Kau tampaknya tidak tahu kalau Hoffman beraksi sendiri. Begitu mayat Hedervary ditemukan, polisi langsung membebaskan Hoffman. Lalu kami membawakan kertas yang berisi soal aljabar. Kali ini aku yang melakukan kesalahan. Aku tidak melihat kertas itu, dan malah mempercayaimu."
"Mengapa itu salah?" tanya Edelstein.
"Itu artinya aku mempermudahmu melakukan trik psikologi terbalik. Kau mengatakan sifat yang sama sekali berlawanan denganmu."
"Dari kunjungan itu, aku mengetahui satu hal yang pasti,"
"Carriedo dan Bonnefoy sudah mengenalmu sebelumnya. Aku tahu itu karena Bonnefoy kidal. Saat kau bersalaman dengannya, kau mengulurkan tangan kiri. Kalau kalian belum saling kenal, kau akan mengulurkan tangan kananmu. "
"Lalu baru saja malam ini, kau datang ke kediaman Carriedo dan Bonnefoy. Entah apa yang kalian bicarakan, tampaknya seru sekali. Sampai-sampai pemilik flat itu mendengar beberapa kata dari pertengkaran kalian. Tapi dari surat ini," kata Holmes sambil mengambil surat dari Carriedo dan mengacung-acungkannya ke udara, "Aku tahu kalau mereka adalah informanmu."
"Holmes! Apa-apaan kau ini? Semua omong kosongmu itu!" kata Ludwig marah. Memang Carriedo dan Bonnefoy adalah sahabat baik Ludwig.
Tanpa mengindahkan kata-kata Ludwig, Holmes melanjutkan ceritanya. "Carriedo ingin berhenti karena alasan pribadi. Lalu entah mengapa kau membunuh Bonnefoy. Lagi-lagi kau melakukan kesalahan, kau terburu-buru. Kau meletakkan pistol itu di tangan kanannya. Yah, itu adalah segala hal yang kutahu."
Edelstein hanya diam. Namun tatapan matanya tetap tenang. "Tolong katakan semua itu salah.. Tolong, Roderich.." kata Hoffman.
Edelstein tersenyum dan menggeleng. "Yah, apa yang dikatakan tuan ini ada benarnya. Tapi aku akan menambahkan apa yang kalian tidak ketahui."
Jumat, 07 Desember 2012
Curcol Parah -.-
Oke sungguh author yang buruk, bukannya nyelesaiin fic malah curcol -.- tapi gue butuh curcol ini.
Yaa jadi kan gue sekarang punya account ffn (liongholmes14), terus gue nyari forum Sherlock Holmes. Nah ada suatu forum (gue gak akan sebut nama forum ini), sebut aja namanya How To Sherlock. Ya jadi isi forum ini adalah cara membuat fanfic SH yang (katanya sih) baik dan benar. Dan dari situ ada beberapa yang gue langgar, yaitu:
- Sherlock Holmes NEVER fall in love
- NEVER ship Sherlock Holmes with an OC
- No bursting into tears
Yaa pokoknya terlalu banyak yang gue langgar lah gila.
Pasti lo mikir, "Kalo gak suka kenapa gak ngomong aja langsung ke orangnya?" kenapa? Bukan gue takut atau apa, tapi soalnya gue tau pasti jawabannya "If you don't like it, it's up to you". Itu terlalu.. apa ya.. terlalu predictable dan mainstream lah. I mean... AAAAH!
Karena setau gue ya, ff adalah cerita yang kita bikin sendiri tanpa plagiasi, tapi tokohnya diambil dari cerita orang. Nggak ada tuh ketentuan harus IC (In Character).
Ya pokoknya gitu dah. Sori ya kalo gak jelas. Namanya juga curcol. byee~
Yaa jadi kan gue sekarang punya account ffn (liongholmes14), terus gue nyari forum Sherlock Holmes. Nah ada suatu forum (gue gak akan sebut nama forum ini), sebut aja namanya How To Sherlock. Ya jadi isi forum ini adalah cara membuat fanfic SH yang (katanya sih) baik dan benar. Dan dari situ ada beberapa yang gue langgar, yaitu:
- Sherlock Holmes NEVER fall in love
- NEVER ship Sherlock Holmes with an OC
- No bursting into tears
Yaa pokoknya terlalu banyak yang gue langgar lah gila.
Pasti lo mikir, "Kalo gak suka kenapa gak ngomong aja langsung ke orangnya?" kenapa? Bukan gue takut atau apa, tapi soalnya gue tau pasti jawabannya "If you don't like it, it's up to you". Itu terlalu.. apa ya.. terlalu predictable dan mainstream lah. I mean... AAAAH!
Karena setau gue ya, ff adalah cerita yang kita bikin sendiri tanpa plagiasi, tapi tokohnya diambil dari cerita orang. Nggak ada tuh ketentuan harus IC (In Character).
Ya pokoknya gitu dah. Sori ya kalo gak jelas. Namanya juga curcol. byee~
Kamis, 06 Desember 2012
The Algebraic Murder - Pt. 8
"Apa?" tanya Ludwig tak percaya. "Cepat panggil Sherlock Holmes!"
-:::::::::::::::::-
Aku melihat Hoffman menangis di pundak Holmes. Melihatku, Hoffman langsung mengusap airmatanya dan kembali ke posisi semula. "Tidak ada apa-apa, Watson, aku jamin," kata Holmes sambil tertawa kecil, "Baru saja aku mendapat telegram. Bacalah, Watson." Berikut ini isi dari telegram itu.
Kepada Tuan Sherlock Holmes, Dr. John Watson, dan Nona Viviana Hoffman.
Cepatlah kemari.
Carriedo dan Bonnefoy menghilang.
Beilschmidt Bersaudara
"Bagaimana..?" tanyaku kaget. "Kita lihat nanti, Watson." kata Holmes. Lalu kami berangkat menuju kediaman Beilschmidt bersaudara.
"Selamat malam, Tuan Holmes, Dr. Watson, Nona Hoffman. Ayo masuk!" kata Gilbert menyambut kami.
"Bagaimana kejadiannya?" tanya Holmes. Gilbert pun menceritakan apa yang terjadi. Holmes lalu berpikir keras. Tiba-tiba Ia tersentak. "Kau tahu alamat rumah mereka berdua?" tanya Holmes. Ludwig dan Gilbert kaget. 'Tapi, Tuan Holmes.." kata Ludwig terputus, "Jawab pertanyaanku." tegas Holmes.
"Aku tahu. Mereka tinggal dalam satu flat yang sama." kata Ludwig. "Tolong tunjukkan jalannya." kata Holmes.
Kami sudah tiba di depan flat tersebut. Holmes mengetuk pintunya. Tiada jawaban. Lalu Ia mengetuk lagi. Masih tiada jawaban. Holmes mencoba membuka pintu itu. Ternyata pintunya tidak dikunci. Kami masuk dan menyiapkan senjata masing-masing. Kami lalu memasuki ruang kerja.
"Ah!" Gilbert menjerit kecil. Ludwig menutup mata, Holmes tersentak, Hoffman terdiam.
"Carriedo dan Bonnefoy..." kata Gilbert,
"Mati!"
Sungguh mengerikan pemandangan yang sedang kulihat; Carriedo telentang dengan pisau yang menancap di dadanya, dan Bonnefoy terduduk di sudut ruangan dengan revolver di tangan kanannya. Holmes lalu meneliti kedua mayat itu.
"Kalian tetap disini, aku akan mencari pemilik flat ini." kata Holmes.
Gilbert masih terlihat syok, begitu pula Ludwig. Hoffman masih terlihat sangat tenang. Aku bersumpah aku bisa melihat senyum tipis tersungging di bibirnya. Menyadari tatapanku, Hoffman menatapku lekat-lekat dan tersenyum pahit.
"Ada apa, Tuan-tuan?" tanya seorang bapak tua. "Oh, aku lupa. Perkenalkan, Tuan Arthur Mallard, pemilik flat ini." kata Holmes yang muncul dari balik punggung bapak tua itu.
"Kalian teman Carriedo dan Bonnefoy, bukan? Baik, aku akan mulai bercerita." kata Tuan Mallard.
"Pada pukul 7 tadi, ada seorang lelaki datang kemari. Masih muda, kira-kira 20 tahun-an. Lalu terjadi pertengkaran. Aku mendengar mereka menyebut nama "Holmes" dan "Hoffman". Lalu pertengkaran itu semakin terdengar pelan, lalu sesaat kemudian pria itu keluar. Oh ya, sebelum pria itu datang, Carriedo meninggalkan surat ini. "Berikan kepada pria yang bernama Sherlock Holmes," katanya."
Mallard mengambil sebuah amplop dari saku jasnya dan memberikannya pada Holmes.
Holmes menerima amplop itu, membukanya, lalu membacanya. Beberapa detik kemudian saat membaca surat, wajahnya memerah. Lalu ia menutup surat itu dan memasukkannya dalam kantongnya.
"Apakah anda tahu siapa nama pria itu?" tanya Holmes.
Mallard terlihat berpikir. "Ya, selain nama "Holmes" dan "Hoffman", ada satu lagi nama yang sangat sering diucapkan, lebih sering dari kedua nama itu. Namanya adalah..."
"..Roderich..."
-:::::::::::::::::-
Aku melihat Hoffman menangis di pundak Holmes. Melihatku, Hoffman langsung mengusap airmatanya dan kembali ke posisi semula. "Tidak ada apa-apa, Watson, aku jamin," kata Holmes sambil tertawa kecil, "Baru saja aku mendapat telegram. Bacalah, Watson." Berikut ini isi dari telegram itu.
Kepada Tuan Sherlock Holmes, Dr. John Watson, dan Nona Viviana Hoffman.
Cepatlah kemari.
Carriedo dan Bonnefoy menghilang.
Beilschmidt Bersaudara
"Bagaimana..?" tanyaku kaget. "Kita lihat nanti, Watson." kata Holmes. Lalu kami berangkat menuju kediaman Beilschmidt bersaudara.
"Selamat malam, Tuan Holmes, Dr. Watson, Nona Hoffman. Ayo masuk!" kata Gilbert menyambut kami.
"Bagaimana kejadiannya?" tanya Holmes. Gilbert pun menceritakan apa yang terjadi. Holmes lalu berpikir keras. Tiba-tiba Ia tersentak. "Kau tahu alamat rumah mereka berdua?" tanya Holmes. Ludwig dan Gilbert kaget. 'Tapi, Tuan Holmes.." kata Ludwig terputus, "Jawab pertanyaanku." tegas Holmes.
"Aku tahu. Mereka tinggal dalam satu flat yang sama." kata Ludwig. "Tolong tunjukkan jalannya." kata Holmes.
Kami sudah tiba di depan flat tersebut. Holmes mengetuk pintunya. Tiada jawaban. Lalu Ia mengetuk lagi. Masih tiada jawaban. Holmes mencoba membuka pintu itu. Ternyata pintunya tidak dikunci. Kami masuk dan menyiapkan senjata masing-masing. Kami lalu memasuki ruang kerja.
"Ah!" Gilbert menjerit kecil. Ludwig menutup mata, Holmes tersentak, Hoffman terdiam.
"Carriedo dan Bonnefoy..." kata Gilbert,
"Mati!"
Sungguh mengerikan pemandangan yang sedang kulihat; Carriedo telentang dengan pisau yang menancap di dadanya, dan Bonnefoy terduduk di sudut ruangan dengan revolver di tangan kanannya. Holmes lalu meneliti kedua mayat itu.
"Kalian tetap disini, aku akan mencari pemilik flat ini." kata Holmes.
Gilbert masih terlihat syok, begitu pula Ludwig. Hoffman masih terlihat sangat tenang. Aku bersumpah aku bisa melihat senyum tipis tersungging di bibirnya. Menyadari tatapanku, Hoffman menatapku lekat-lekat dan tersenyum pahit.
"Ada apa, Tuan-tuan?" tanya seorang bapak tua. "Oh, aku lupa. Perkenalkan, Tuan Arthur Mallard, pemilik flat ini." kata Holmes yang muncul dari balik punggung bapak tua itu.
"Kalian teman Carriedo dan Bonnefoy, bukan? Baik, aku akan mulai bercerita." kata Tuan Mallard.
"Pada pukul 7 tadi, ada seorang lelaki datang kemari. Masih muda, kira-kira 20 tahun-an. Lalu terjadi pertengkaran. Aku mendengar mereka menyebut nama "Holmes" dan "Hoffman". Lalu pertengkaran itu semakin terdengar pelan, lalu sesaat kemudian pria itu keluar. Oh ya, sebelum pria itu datang, Carriedo meninggalkan surat ini. "Berikan kepada pria yang bernama Sherlock Holmes," katanya."
Mallard mengambil sebuah amplop dari saku jasnya dan memberikannya pada Holmes.
Holmes menerima amplop itu, membukanya, lalu membacanya. Beberapa detik kemudian saat membaca surat, wajahnya memerah. Lalu ia menutup surat itu dan memasukkannya dalam kantongnya.
"Apakah anda tahu siapa nama pria itu?" tanya Holmes.
Mallard terlihat berpikir. "Ya, selain nama "Holmes" dan "Hoffman", ada satu lagi nama yang sangat sering diucapkan, lebih sering dari kedua nama itu. Namanya adalah..."
"..Roderich..."
Minggu, 25 November 2012
The Algebraic Murder - Pt. 7
Keesokan paginya, kami berkumpul di depan markas kepolisian Jerman. Kami menuju rumah Heinrich Dressler. Aku masih terpukul karena kematian Elizaveta. "Cepat atau lambat kau harus melupakan dia, wanita di dunia ini bukanlah dia seorang." bisik Ludwig padaku di kereta. Aku mengangguk.
-:::::::::::::::::::-
"Ada satu hal," kata Holmes, "Aku tidak menemukan nama Heinrich Dressler di buku telepon Jerman." Lalu Hoffman berpikir. "Mungkin buku yang kau baca sudah kadaluwarsa?" tanya Hoffman. "Tidak, aku benar-benar sudah membaca sampulnya; bertuliskan "Edisi 1887"." jawab Holmes. Hoffman berpikir lagi. Lalu Ia seperti menyadari sesuatu. "Oh, sebelumnya maaf tuan-tuan, yang kuberikan kepada kalian adalah nama panggung, nama aslinya adalah Roderich Edelstein." kata Hoffman. "Tidak perlu khawatir, alamat yang kuberikan masih berlaku, sais." teriak Hoffman pada sais. "Syukurlah, Nona Hoffman." balas sais.
Kami lalu sampai di tempat yang dituju. Bukan rumah yang besar, namun terlihat berkelas. Hoffman menekan bel pintu rumah itu. Keluarlah seorang wanita tua yang sepertinya adalah pembantu di rumah itu.
"Siapa yang anda cari?" tanya wanita itu. "Kami mencari Roderich Edelstein." jawab Hoffman. Wanita itu lalu mengangkat alisnya. "Siapa yang ingin kau temui," tanya wanita itu lagi, "Roderich Edelstein atau Heinrich Dressler?" Holmes, yang sangat membenci omong kosong; lalu angkat bicara, "Masa bodoh dengan yang kami cari. Mana tuanmu?"
Tersentak oleh Holmes, wanita itu kembali masuk. "Bagus sekali, Holmes." kataku. Lalu keluar seorang lelaki muda; kira-kira beberapa tahun lebih muda daripada Hoffman. "Selamat pagi, maafkan pembantuku itu. Sudah lama sekali sejak rumah ini didatangi tamu. Nama saya Roderich Edelstein. Oh Miss Hoffman! Silakan masuk! Anda semua juga, ayo masuk!" kata pria itu penuh semangat.
Kami pun dipersilakan duduk. "Ini adalah Mr. Sherlock Holmes, dan ini Dr. John Watson. Mr. Holmes, Dr. Watson, ini adalah Roderich Edelstein." kata Hoffman memperkenalkan kami bertiga. "Mr. Edelstein, ini adalah Ludwig Beilschmidt, Gilbert Beilschmidt, Antonio Carriedo, dan Francis Bonnefoy." kata Holmes. Lalu mereka bersalaman. "Apa yang bisa kubantu?" tanya Edelstein. "Tolong analisa tulisan ini," kata Hoffman sambil menyerahkan secarik kertas. Edelstein menelitinya dengan kaca pembesar. "Kuat, pemberani, tapi tidak terlalu berpendidikan." katanya sambil masih meneliti tulisan itu. "Berlawanan sekali denganmu ya.." kata Hoffman. Lalu Edelstein dan Hoffman tertawa.
"Memangnya ada apa sampai kalian meminta bantuanku?" tanya Edelstein. Hoffman lalu terlihat bingung. Ingin diam, takut penasaran, ingin bicara, takut sakit hati. Namun tampaknya Ia memutuskan untuk bicara. Ia lalu menggenggam tangan Edelstein erat dan berkata, "Schwesser dan Hedervary dibunuh."
Edelstein terdiam. Ia lalu duduk dan melepas kacamatanya. "Saat usiaku 5 tahun, aku bergabung dengan orkestra. Orang-orang dewasa acuh padaku. Lalu aku bertemu dengan Schwesser yang saat itu berusia 13 tahun. Ia menjadi guruku dalam banyak hal, terutama musik. Lalu tiga tahun kemudian Hedervary dan Hoffman bergabung pada usia yang sama; 12 tahun. Dengan ajaran tiga orang itu, aku menjadi virtuoso pada usia 11 tahun. Lalu aku keluar dari orkestra. Karena kemampuanku, beberapa bulan kemudian aku diterima di sebuah universitas. Aku meraih gelar pascasarjana pada usia 13 tahun dan menjadi profesor pada usia 17 tahun. Lalu aku pun mengajar disana sampai sekarang." kata Edelstein. Tenggorokannya tercekat karena duka yang dalam. "Bagaimana bisa..." tanya Gilbert takjub. "Ia seorang jenius." jawab Hoffman. "Tidak, Tuhan hanya memberiku kecerdasan tambahan," kata Edelstein merendah.
"Jadi begitu." kata Holmes. "Baiklah, terimakasih atas kerjasama anda. Selamat siang, Tuan Edelstein." kata Holmes. Lalu kami keluar, dan kami menuju rumah Beilschmidt bersaudara.
"Ada apa antara kau dan Hedervary?" tanya Holmes pada Gilbert tiba-tiba di kereta. Gilbert tersenyum. "Aku dan dia dulu sahabat, lalu aku.. menyukainya." kata Gilbert. Holmes terdiam. "Kau harus menepati janji ini; kau harus bertindak objektif. Kau tidak boleh membunuh siapapun." kata Holmes.
Gilbert terdiam. Lalu ia mengangguk.
Kami sampai di rumah Beilschmidt bersaudara. Kami disuguhi teh. "Omong-omong," kata Holmes, "kau bilang kakakku pernah membantumu. Memang bantuan macam apa yang pernah ia berikan?" Lalu Ludwig tersenyum. "Kau lupa padaku, Sherlock? Aku Ludwig. Mycroft menemukanku ketika aku hampir mati di jalanan Jerman. Lalu ayahmu, Siger Holmes, memungutku. Aku berkenalan denganmu dan Mycroft. Pada usia 10 tahun aku bertemu dengan Gilbert dan pergi dari keluarga Holmes." jelas Ludwig.
"Oh, jadi kau Ludwig! Senang dapat bertemu denganmu lagi." kata Holmes senang. Lalu mereka memeriksa kenalan Schwesser dan Hedervary.
"Yah, sepertinya cukup sampai di sini. Hari sudah mulai petang. Kita akan mulai besok. Selamat sore." kata Ludwig.
Aku, Holmes, dan Hoffman memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak. Kami berhenti di sebuah kafe. "Maafkan aku, tapi.. kukira masa laluku tidak begitu penting." kata Hoffman.
"Yah, kami memang membutuhkan detail, Nona, tapi apa yang sudah berlalu biarlah berlalu." kata Holmes. Tiba-tiba aku merasa ingin ke kamar mandi. "Permisi sebentar," kataku sambil berlalu.
-:::::::::::::::-
Aku duduk di depan Holmes. Sorot matanya nampak cocok dengan cuaca di luar; dingin menusuk. "Kau selalu seperti itu ya pada wanita." kataku dengan nada mengejek. Ia pun tersenyum mengejek.
Tiba-tiba aku teringat pada Schwesser. Ah, Schwesser. Gara-gara aku. Iya, gara-gara aku seorang psikopat. Kau yang harus memikul akibatnya. Ah, karma memang jahat.
Satu butir. Tiga butir. Empat butir. Air mata membasahi gaunku. Aku memang wanita rendah!
Bayanganku tentang Schwesser buyar ketika aku melihat sebuah saputangan putih diulurkan padaku. Aku menatap Holmes. Tatapannya tetap menusuk. Hanya saja terasa lebih hangat. Aku mengerti apa yang kau rasakan, begitu pesan yang kutangkap dari sorot mata Holmes.
Aku lalu mengambil saputangan itu dari tangannya. "Terimakasih." ujarku singkat. Ia hanya mengangguk.
Sialan! Aku malah semakin ingin menangis! Aku menegakkan kepalaku yang tadinya menunduk. Holmes sudah tiada di sana.
Air mataku tumpah ruah. Tak pernah aku menangis seperti ini dalam hidupku. "Apakah kau percaya, Tuan Holmes?" tanyaku, "Apakah kau percaya pada cinta?"
Terjadi keheningan. Dia memang tidak ada di sini, pikirku.
"Sepertinya tidak." jawab seseorang. Ia adalah Tuan Holmes, yang sekarang duduk di sampingku. "Aku tidak percaya pada cinta. Ya."
"Lalu ada apa dengan istrimu?" tanyaku. Ia tertawa. "Manusia membuat kesalahan, Nona Hoffman." katanya, "Dari sana muncullah sebuah keputusan, yang akhirnya membuat sebuah rangkaian kejadian yang disebut hidup."
-:::::::::::::::-
Aku sudah merasa lelah. Atas segala yang kulewati hari ini, aku lelah. Aku hampir tertidur ketika kudengar suara 'klik' dari kamar sebelah, yaitu kamar Carriedo dan Bonnefoy. Aku pun menghampiri mereka.
Aku mengetuk pintu kamar. Tiada jawaban. Kuketuk lebih keras. Masih tetap hening. Lalu kubuka pintu itu. Pintu itu tidak terkunci.
Aku terperanjat.
"Ludwig! Ludwig!" spontan aku berteriak.
"Carriedo dan Bonnefoy menghilang!"
------------------------------------------------
Oh halo! Maaf ini lama banget -.- disini ada tiga sudut pandang, Watson, Gilbert, sama Hoffman. Hoffman itu yang pas di kafe itu lho.
-:::::::::::::::::::-
"Ada satu hal," kata Holmes, "Aku tidak menemukan nama Heinrich Dressler di buku telepon Jerman." Lalu Hoffman berpikir. "Mungkin buku yang kau baca sudah kadaluwarsa?" tanya Hoffman. "Tidak, aku benar-benar sudah membaca sampulnya; bertuliskan "Edisi 1887"." jawab Holmes. Hoffman berpikir lagi. Lalu Ia seperti menyadari sesuatu. "Oh, sebelumnya maaf tuan-tuan, yang kuberikan kepada kalian adalah nama panggung, nama aslinya adalah Roderich Edelstein." kata Hoffman. "Tidak perlu khawatir, alamat yang kuberikan masih berlaku, sais." teriak Hoffman pada sais. "Syukurlah, Nona Hoffman." balas sais.
Kami lalu sampai di tempat yang dituju. Bukan rumah yang besar, namun terlihat berkelas. Hoffman menekan bel pintu rumah itu. Keluarlah seorang wanita tua yang sepertinya adalah pembantu di rumah itu.
"Siapa yang anda cari?" tanya wanita itu. "Kami mencari Roderich Edelstein." jawab Hoffman. Wanita itu lalu mengangkat alisnya. "Siapa yang ingin kau temui," tanya wanita itu lagi, "Roderich Edelstein atau Heinrich Dressler?" Holmes, yang sangat membenci omong kosong; lalu angkat bicara, "Masa bodoh dengan yang kami cari. Mana tuanmu?"
Tersentak oleh Holmes, wanita itu kembali masuk. "Bagus sekali, Holmes." kataku. Lalu keluar seorang lelaki muda; kira-kira beberapa tahun lebih muda daripada Hoffman. "Selamat pagi, maafkan pembantuku itu. Sudah lama sekali sejak rumah ini didatangi tamu. Nama saya Roderich Edelstein. Oh Miss Hoffman! Silakan masuk! Anda semua juga, ayo masuk!" kata pria itu penuh semangat.
Kami pun dipersilakan duduk. "Ini adalah Mr. Sherlock Holmes, dan ini Dr. John Watson. Mr. Holmes, Dr. Watson, ini adalah Roderich Edelstein." kata Hoffman memperkenalkan kami bertiga. "Mr. Edelstein, ini adalah Ludwig Beilschmidt, Gilbert Beilschmidt, Antonio Carriedo, dan Francis Bonnefoy." kata Holmes. Lalu mereka bersalaman. "Apa yang bisa kubantu?" tanya Edelstein. "Tolong analisa tulisan ini," kata Hoffman sambil menyerahkan secarik kertas. Edelstein menelitinya dengan kaca pembesar. "Kuat, pemberani, tapi tidak terlalu berpendidikan." katanya sambil masih meneliti tulisan itu. "Berlawanan sekali denganmu ya.." kata Hoffman. Lalu Edelstein dan Hoffman tertawa.
"Memangnya ada apa sampai kalian meminta bantuanku?" tanya Edelstein. Hoffman lalu terlihat bingung. Ingin diam, takut penasaran, ingin bicara, takut sakit hati. Namun tampaknya Ia memutuskan untuk bicara. Ia lalu menggenggam tangan Edelstein erat dan berkata, "Schwesser dan Hedervary dibunuh."
Edelstein terdiam. Ia lalu duduk dan melepas kacamatanya. "Saat usiaku 5 tahun, aku bergabung dengan orkestra. Orang-orang dewasa acuh padaku. Lalu aku bertemu dengan Schwesser yang saat itu berusia 13 tahun. Ia menjadi guruku dalam banyak hal, terutama musik. Lalu tiga tahun kemudian Hedervary dan Hoffman bergabung pada usia yang sama; 12 tahun. Dengan ajaran tiga orang itu, aku menjadi virtuoso pada usia 11 tahun. Lalu aku keluar dari orkestra. Karena kemampuanku, beberapa bulan kemudian aku diterima di sebuah universitas. Aku meraih gelar pascasarjana pada usia 13 tahun dan menjadi profesor pada usia 17 tahun. Lalu aku pun mengajar disana sampai sekarang." kata Edelstein. Tenggorokannya tercekat karena duka yang dalam. "Bagaimana bisa..." tanya Gilbert takjub. "Ia seorang jenius." jawab Hoffman. "Tidak, Tuhan hanya memberiku kecerdasan tambahan," kata Edelstein merendah.
"Jadi begitu." kata Holmes. "Baiklah, terimakasih atas kerjasama anda. Selamat siang, Tuan Edelstein." kata Holmes. Lalu kami keluar, dan kami menuju rumah Beilschmidt bersaudara.
"Ada apa antara kau dan Hedervary?" tanya Holmes pada Gilbert tiba-tiba di kereta. Gilbert tersenyum. "Aku dan dia dulu sahabat, lalu aku.. menyukainya." kata Gilbert. Holmes terdiam. "Kau harus menepati janji ini; kau harus bertindak objektif. Kau tidak boleh membunuh siapapun." kata Holmes.
Gilbert terdiam. Lalu ia mengangguk.
Kami sampai di rumah Beilschmidt bersaudara. Kami disuguhi teh. "Omong-omong," kata Holmes, "kau bilang kakakku pernah membantumu. Memang bantuan macam apa yang pernah ia berikan?" Lalu Ludwig tersenyum. "Kau lupa padaku, Sherlock? Aku Ludwig. Mycroft menemukanku ketika aku hampir mati di jalanan Jerman. Lalu ayahmu, Siger Holmes, memungutku. Aku berkenalan denganmu dan Mycroft. Pada usia 10 tahun aku bertemu dengan Gilbert dan pergi dari keluarga Holmes." jelas Ludwig.
"Oh, jadi kau Ludwig! Senang dapat bertemu denganmu lagi." kata Holmes senang. Lalu mereka memeriksa kenalan Schwesser dan Hedervary.
"Yah, sepertinya cukup sampai di sini. Hari sudah mulai petang. Kita akan mulai besok. Selamat sore." kata Ludwig.
Aku, Holmes, dan Hoffman memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak. Kami berhenti di sebuah kafe. "Maafkan aku, tapi.. kukira masa laluku tidak begitu penting." kata Hoffman.
"Yah, kami memang membutuhkan detail, Nona, tapi apa yang sudah berlalu biarlah berlalu." kata Holmes. Tiba-tiba aku merasa ingin ke kamar mandi. "Permisi sebentar," kataku sambil berlalu.
-:::::::::::::::-
Aku duduk di depan Holmes. Sorot matanya nampak cocok dengan cuaca di luar; dingin menusuk. "Kau selalu seperti itu ya pada wanita." kataku dengan nada mengejek. Ia pun tersenyum mengejek.
Tiba-tiba aku teringat pada Schwesser. Ah, Schwesser. Gara-gara aku. Iya, gara-gara aku seorang psikopat. Kau yang harus memikul akibatnya. Ah, karma memang jahat.
Satu butir. Tiga butir. Empat butir. Air mata membasahi gaunku. Aku memang wanita rendah!
Bayanganku tentang Schwesser buyar ketika aku melihat sebuah saputangan putih diulurkan padaku. Aku menatap Holmes. Tatapannya tetap menusuk. Hanya saja terasa lebih hangat. Aku mengerti apa yang kau rasakan, begitu pesan yang kutangkap dari sorot mata Holmes.
Aku lalu mengambil saputangan itu dari tangannya. "Terimakasih." ujarku singkat. Ia hanya mengangguk.
Sialan! Aku malah semakin ingin menangis! Aku menegakkan kepalaku yang tadinya menunduk. Holmes sudah tiada di sana.
Air mataku tumpah ruah. Tak pernah aku menangis seperti ini dalam hidupku. "Apakah kau percaya, Tuan Holmes?" tanyaku, "Apakah kau percaya pada cinta?"
Terjadi keheningan. Dia memang tidak ada di sini, pikirku.
"Sepertinya tidak." jawab seseorang. Ia adalah Tuan Holmes, yang sekarang duduk di sampingku. "Aku tidak percaya pada cinta. Ya."
"Lalu ada apa dengan istrimu?" tanyaku. Ia tertawa. "Manusia membuat kesalahan, Nona Hoffman." katanya, "Dari sana muncullah sebuah keputusan, yang akhirnya membuat sebuah rangkaian kejadian yang disebut hidup."
-:::::::::::::::-
Aku sudah merasa lelah. Atas segala yang kulewati hari ini, aku lelah. Aku hampir tertidur ketika kudengar suara 'klik' dari kamar sebelah, yaitu kamar Carriedo dan Bonnefoy. Aku pun menghampiri mereka.
Aku mengetuk pintu kamar. Tiada jawaban. Kuketuk lebih keras. Masih tetap hening. Lalu kubuka pintu itu. Pintu itu tidak terkunci.
Aku terperanjat.
"Ludwig! Ludwig!" spontan aku berteriak.
"Carriedo dan Bonnefoy menghilang!"
------------------------------------------------
Oh halo! Maaf ini lama banget -.- disini ada tiga sudut pandang, Watson, Gilbert, sama Hoffman. Hoffman itu yang pas di kafe itu lho.
Sabtu, 17 November 2012
The Algebraic Murder - Pt. 6
"Kau sudah gila? Kau sudah gila, Holmes?" tanyaku. "Tidak.. Lihat ini;" katanya sambil menulis sesuatu di secarik kertas dan memberikannya padaku. "Baca keras-keras, Watson." katanya lagi.
13: M
15: O
18: R
15: O
14: N
Moron! (Bodoh!)
"Moron?" tanyaku, "Jadi ini adalah urutan alfabet?" "Ya, semudah itu, Watson. Kita memang dijebak." katanya. "Jadi, kita memulai dari awal lagi?" tanya Gilbert terdengar putus asa. "Dengan penyesalan kukatakan, ya, Tuan Beilschmidt. Kita harus memeriksa silang kenalan mereka yang tidak memiliki alibi." kata Holmes.
Hoffman hanya terdiam. Ada sesuatu yang janggal dengan keterdiamannya. "Ada apa Hoffman?" tanyaku.
"Aku kenal seseorang," kata Hoffman kemudian, "Seorang pianis yang brilian. Ia dahulu adalah anggota orkestra teater, namun karena... Aku juga tidak tahu pasti alasannya, ia keluar dari orkestra. Sekarang ia adalah peneliti tulisan manusia. Namanya adalah Heinrich Dressler. Kupikir ia bisa membantu kita dalam penyelidikan kasus ini."
"Pekerjaan yang aneh." kata Ludwig. "Baiklah, sekarang sudah tengah malam. Sepertinya lebih baik kita beristirahat." kata Deidrich. Kami pun kembali ke penginapan.
----------------------------------------------------------
Hai! Itu ya, penyelesaian kodenya! ^^
13: M
15: O
18: R
15: O
14: N
Moron! (Bodoh!)
"Moron?" tanyaku, "Jadi ini adalah urutan alfabet?" "Ya, semudah itu, Watson. Kita memang dijebak." katanya. "Jadi, kita memulai dari awal lagi?" tanya Gilbert terdengar putus asa. "Dengan penyesalan kukatakan, ya, Tuan Beilschmidt. Kita harus memeriksa silang kenalan mereka yang tidak memiliki alibi." kata Holmes.
Hoffman hanya terdiam. Ada sesuatu yang janggal dengan keterdiamannya. "Ada apa Hoffman?" tanyaku.
"Aku kenal seseorang," kata Hoffman kemudian, "Seorang pianis yang brilian. Ia dahulu adalah anggota orkestra teater, namun karena... Aku juga tidak tahu pasti alasannya, ia keluar dari orkestra. Sekarang ia adalah peneliti tulisan manusia. Namanya adalah Heinrich Dressler. Kupikir ia bisa membantu kita dalam penyelidikan kasus ini."
"Pekerjaan yang aneh." kata Ludwig. "Baiklah, sekarang sudah tengah malam. Sepertinya lebih baik kita beristirahat." kata Deidrich. Kami pun kembali ke penginapan.
----------------------------------------------------------
Hai! Itu ya, penyelesaian kodenya! ^^
Jumat, 16 November 2012
The Algebraic Murder - Pt. 5
"Jadi, itulah mengapa kau dibebaskan?" tanyaku dalam perjalanan. Hoffman mengangguk. Ia ingin angkat bicara, namun kata-katanya tersangkut di tenggorokan.
"Kami sudah tahu. Jadi itu sebabnya koran-koran hanya menyebut julukan." kata Holmes seolah dapat membaca isi pikiran Hoffman.
"Benar," kata Hoffman, "mereka tahu aku beraksi sendiri, jadi begitu menemukan mayat baru, mereka langsung membebaskanku dan memintaku untuk menghubungi kalian. Mycroft Holmes memberitahu dimana kalian menginap, lalu kau tahu sendiri apa yang terjadi selanjutnya." Lalu semua diam hingga kami mencapai gedung kepolisian Jerman.
Bukan bangunan yang besar, namun sangat berprestasi. Bahkan kudengar setara dengan Scotland Yard.
"Selamat datang, Mr. Holmes, Dr. Watson," kata seorang pria yang pendek, gempal, namun kekar, "dan tentu saja, Miss Hoffman." katanya sambil mencium tangan Hoffman sebagai tanda penghormatan.
"Nama saya Marcus Deidrich, Detektif Inspektur di sini. Oh tentu, silakan masuk!" kata Deidrich riang. Mirip Lestrade, tapi jauh lebih periang, pikirku.
Kami masuk ke suatu ruangan. Disana kami melihat Beilschmidt bersaudara, Carriedo, dan Bonnefoy. Gilbert terlihat.. Entahlah. Antara lelah dan stres.
-::::::::::::::::-
Mengapa? Mengapa harus dia? Bahkan aku rela menjual nyawaku kepada iblis yang paling kejam demi menyelamatkan nyawanya.
Ludwig menyikut tulang rusukku. "Fokus," bisiknya. "Kami menemukan mayat lagi. Namanya adalah.." kata Deidrich sambil membuka laporannya. Tolong, jangan sebut nama itu, demi Tuhan... "... Elizaveta Hedervary." Hancur sudah. Hatiku remuk. Benar dia, benar dia yang mati. "Gilbert kau tak apa?" tanya Holmes. "Aku lihat tanganmu gemetaran." katanya lagi. "Tidak, tidak apa-apa. Silakan lanjutkan, Deidrich." jawabku.
"Ada beberapa kesamaan dengan Mr. Schwesser; Pisau yang menancap di punggung, mereka sama-sama anggota orkestra teater, dan si pembunuh meninggalkan petunjuk yaitu soal aljabar, tapi kali ini hanya ada dua. Jawabannya adalah... 15 dan 14." kata Deidrich.
Holmes lalu mengambil buku sakunya dan menulis angka itu disamping tiga angka yang ia peroleh sebelumnya.
"Jadi, 13; 15; 18; 15; dan 14." kata Holmes. Lalu Ia mengutak-atik angka itu selama kira-kira 3 menit. Ia lalu tersenyum. Senyumnya semakin lebar. Tanpa diduga, tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak. Sangat kencang tertawanya hingga terdengar ke ruangan sebelah. "Holmes! Holmes!! Sherlock Holmes kau dengarkan aku!!! Kau sudah gila??!!!" tanya Watson panik.
Tawa Holmes berangsur-angsur mereda. Lalu Ia berkata, "Tuan-tuan, masa bodoh dengan angka-angka itu."
"Kita dijebak!"
-------------------------------------
Ini gampang banget kodenya... Solve it guys!
"Kami sudah tahu. Jadi itu sebabnya koran-koran hanya menyebut julukan." kata Holmes seolah dapat membaca isi pikiran Hoffman.
"Benar," kata Hoffman, "mereka tahu aku beraksi sendiri, jadi begitu menemukan mayat baru, mereka langsung membebaskanku dan memintaku untuk menghubungi kalian. Mycroft Holmes memberitahu dimana kalian menginap, lalu kau tahu sendiri apa yang terjadi selanjutnya." Lalu semua diam hingga kami mencapai gedung kepolisian Jerman.
Bukan bangunan yang besar, namun sangat berprestasi. Bahkan kudengar setara dengan Scotland Yard.
"Selamat datang, Mr. Holmes, Dr. Watson," kata seorang pria yang pendek, gempal, namun kekar, "dan tentu saja, Miss Hoffman." katanya sambil mencium tangan Hoffman sebagai tanda penghormatan.
"Nama saya Marcus Deidrich, Detektif Inspektur di sini. Oh tentu, silakan masuk!" kata Deidrich riang. Mirip Lestrade, tapi jauh lebih periang, pikirku.
Kami masuk ke suatu ruangan. Disana kami melihat Beilschmidt bersaudara, Carriedo, dan Bonnefoy. Gilbert terlihat.. Entahlah. Antara lelah dan stres.
-::::::::::::::::-
Mengapa? Mengapa harus dia? Bahkan aku rela menjual nyawaku kepada iblis yang paling kejam demi menyelamatkan nyawanya.
Ludwig menyikut tulang rusukku. "Fokus," bisiknya. "Kami menemukan mayat lagi. Namanya adalah.." kata Deidrich sambil membuka laporannya. Tolong, jangan sebut nama itu, demi Tuhan... "... Elizaveta Hedervary." Hancur sudah. Hatiku remuk. Benar dia, benar dia yang mati. "Gilbert kau tak apa?" tanya Holmes. "Aku lihat tanganmu gemetaran." katanya lagi. "Tidak, tidak apa-apa. Silakan lanjutkan, Deidrich." jawabku.
"Ada beberapa kesamaan dengan Mr. Schwesser; Pisau yang menancap di punggung, mereka sama-sama anggota orkestra teater, dan si pembunuh meninggalkan petunjuk yaitu soal aljabar, tapi kali ini hanya ada dua. Jawabannya adalah... 15 dan 14." kata Deidrich.
Holmes lalu mengambil buku sakunya dan menulis angka itu disamping tiga angka yang ia peroleh sebelumnya.
"Jadi, 13; 15; 18; 15; dan 14." kata Holmes. Lalu Ia mengutak-atik angka itu selama kira-kira 3 menit. Ia lalu tersenyum. Senyumnya semakin lebar. Tanpa diduga, tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak. Sangat kencang tertawanya hingga terdengar ke ruangan sebelah. "Holmes! Holmes!! Sherlock Holmes kau dengarkan aku!!! Kau sudah gila??!!!" tanya Watson panik.
Tawa Holmes berangsur-angsur mereda. Lalu Ia berkata, "Tuan-tuan, masa bodoh dengan angka-angka itu."
"Kita dijebak!"
-------------------------------------
Ini gampang banget kodenya... Solve it guys!
The Algebraic Murder - Pt. 4
"A.. Apa?" tanyaku tak percaya. "Mycroft tidak memberitahukan pada kami tentang itu." kata Holmes, dengan suara tenang yang menurutku tak manusiawi dalam saat seperti ini.
"Itu adalah masalah pemerintahan yang sangat dalam; seorang anggota kepemerintahan yang juga seorang psikopat adalah aib yang sangat besar bagi Jerman. Jika anda ingin mulai sekarang," kata Ludwig mempersilakan Holmes memulai menceritakan kasus.
"... Begitulah." kata Holmes mengakhiri kisahnya yang lebih terdengar seperti kuliah dari seorang profesor.
"Begitu. Yah, hari sudah mulai malam, Mr. Holmes, sudah waktunya anda beristirahat. Selamat malam." kata Gilbert. Lalu aku dan Holmes mengangkat topi dan keluar dari rumah itu.
Di perjalanan, kami terdiam. "Aku heran," kataku memecah keheningan, "Bagaimana Schwesser bisa jatuh cinta pada seorang psikopat?" Holmes terdiam. "Cinta itu buta, Watson. Ia baru akan melihat ketika cintanya berkhianat." kata Holmes sambil menerawang ke luar jendela, mungkin ke Pemakaman Umum London, tempat arwah istrinya bersemayam.
Ketika sampai di hotel, kami disambut oleh seorang wanita bergaun rumahan berwarna ungu dengan korset longgar.
"Viviana Hoffman?"
Wanita itu tersenyum. "Senang bertemu anda kembali, Miss Hoffman. Bagaimana polisi membebaskan anda?" tanya Holmes.
Hoffman tersenyum dan menjawab, "Ceritanya panjang. Tapi kepolisian Jerman sudah menunggu anda sekarang. Mereka menemukan mayat lagi."
-------------------------------------
Ola! Baru sadar kalo namanya Francis itu Bonnefoy, bukan Bonnevoy.. Forgive me T^T
"Itu adalah masalah pemerintahan yang sangat dalam; seorang anggota kepemerintahan yang juga seorang psikopat adalah aib yang sangat besar bagi Jerman. Jika anda ingin mulai sekarang," kata Ludwig mempersilakan Holmes memulai menceritakan kasus.
"... Begitulah." kata Holmes mengakhiri kisahnya yang lebih terdengar seperti kuliah dari seorang profesor.
"Begitu. Yah, hari sudah mulai malam, Mr. Holmes, sudah waktunya anda beristirahat. Selamat malam." kata Gilbert. Lalu aku dan Holmes mengangkat topi dan keluar dari rumah itu.
Di perjalanan, kami terdiam. "Aku heran," kataku memecah keheningan, "Bagaimana Schwesser bisa jatuh cinta pada seorang psikopat?" Holmes terdiam. "Cinta itu buta, Watson. Ia baru akan melihat ketika cintanya berkhianat." kata Holmes sambil menerawang ke luar jendela, mungkin ke Pemakaman Umum London, tempat arwah istrinya bersemayam.
Ketika sampai di hotel, kami disambut oleh seorang wanita bergaun rumahan berwarna ungu dengan korset longgar.
"Viviana Hoffman?"
Wanita itu tersenyum. "Senang bertemu anda kembali, Miss Hoffman. Bagaimana polisi membebaskan anda?" tanya Holmes.
Hoffman tersenyum dan menjawab, "Ceritanya panjang. Tapi kepolisian Jerman sudah menunggu anda sekarang. Mereka menemukan mayat lagi."
-------------------------------------
Ola! Baru sadar kalo namanya Francis itu Bonnefoy, bukan Bonnevoy.. Forgive me T^T
Kamis, 15 November 2012
The Algebraic Murder - Pt. 3
Aku melangkah ke kamar Ludwig. Ia sedang berdiam, duduk disana. "Ludwig," kataku, "Ada sebuah telegram untuk kita, pengirimnya adalah..." kataku sambil membaca telegram itu, "...Mycroft Holmes. Kau mengenalnya?"
Ludwig lalu mengangkat alisnya dan menerima telegram itu. "Ya, Mycroft Holmes," katanya menelusuri, "Seorang teman dari pemerintahan Inggris. Dia sudah banyak membantu Kirkland dan aku. Sudah saatnya aku membalas budi." lalu Ia membaca telegram itu keras-keras,
Kepada Yang Terhormat
Beilschmidt Bersaudara
Adikku, Sherlock Holmes, dan asistennya, Dr. John Watson, akan datang padamu untuk menyelesaikan suatu kasus. Mungkin ia akan tiba sore hari. Ia akan membutuhkan bantuanmu dan kawan-kawanmu. Atas bantuannya saya ucapkan terima kasih.
-Mycroft Holmes
"Hah! Dia adalah kakak dari Sherlock Holmes, detektif terkenal itu?" tanyaku takjub.
"Ya, dan sekarang sudah sore, mungkin kita akan minum teh bersama mereka. Aku harus menyiapkan hidangan minum teh." kata Ludwig sambil beranjak ke dapur.
"Perlukah aku mengajak Carriedo dan Bonnevoy?" tanyaku. Mereka adalah pria-pria hebat yang dapat diandalkan.
Ludwig terdiam. "Akan sangat membantu." katanya kemudian.
-:::::::::::-
Aku dan Holmes tiba di Stasiun Berlin Hauptbahnhof pada pukul 4 sore. "Watson, sekarang kita akan ke penginapan. Setelah itu kita akan singgah ke alamat ini. Mycroft berkata mereka bisa dipercaya." kata Holmes sambil menyerahkan secarik kertas kepadaku.
18A Verdamont Street, Berlin
Beilschmidt Bersaudara
-::::::::::-
Aku bosan, perapian sudah menyala. Cerutu sudah di depan mata. Ah, tinggal koran yang belum, pikirku.
Aku lalu membaca berita utama. Aku terkejut.
TERJADI PEMBUNUHAN
SEORANG KONDUKTOR ORKESTRA TERKENAL DITEMUKAN TIDAK BERNYAWA
SI PEMBUNUH ALJABAR BERAKSI LAGI
Aku lalu teringat tiga tahun yang lalu. Seorang wanita psikopat yang brutal namun berpendidikan tinggi membunuh tiga orang pria berkekuatan dua kali dirinya. Karena kepercayadiriannya, atau lebih tepat jika dikatakan, kecongkakannya, meninggalkan petunjuk berupa soal aljabar. Polisi berhasil menemukannya. Memoriku tentang nama sang pelaku hampir terpanggil ketika seseorang membunyikan bel pintu rumah.
"Sebentar," kataku sambil berjalan menuju pintu. Aku lalu membuka pintunya. "Dengan Mr. Beilschmidt?" tanya seorang pria berpostur tinggi kekar dan berwajah tirus dengan rambut hitam yang acak-acakan.
"Gilbert Beilschmidt. Dan anda..?" tanyaku. "Sherlock Holmes. Dan ini kawan saya, Dr. John Watson." kata Holmes sambil memperkenalkan pria pirang yang berpostur lebih pendek namun sama kekarnya.
"Mr. Sherlock Holmes!" kataku sambil menyalami tangan yang diluar dugaanku, sangat berotot. "Bagaimana perjalanan anda? Oh, silakan masuk!" sambutku hangat.
"Sangat menyenangkan, Mr. Beilschmidt, terima kasih." jawab si pria pirang.
-:::::::::::-
Kami masuk ke dalam rumah itu. Holmes melihat-lihat koran yang tergeletak di meja ruang tamu. Ia memang bisa berbahasa Jerman selancar bahasa Inggrisnya.
"Wah, wah.." kata Holmes, "sepertinya kasus ini sudah menyebar kemana-mana, Watson."
Lalu datanglah pria berambut pirang membawakan sebuah nampan berisikan jamuan minum teh.
"Ludwig, ini tamu kita, Sherlock Holmes dan Dr. John Watson." kata Gilbert kepada pria itu.
"Oh Mr. Holmes, kakak anda meminta bantuan kami. Beliau sudah banyak membantu saya. Kini giliran saya yang membalasnya." kata Ludwig.
"Baiklah, jadi..." kata Gilbert terputus oleh suara bel pintu. Lalu Ia membukakan pintu itu. Terlihat dua pria tinggi, yang satu pirang dan yang satu berambut hitam. Si rambut hitam terlihat jelas hispanik.
"Perkenalkan, ini adalah Antonio Carriedo, Spanyol, dan ini adalah Francis Bonnevoy, Prancis. Ini Sherlock Holmes dan asistennya Dr. John Watson." kata Gilbert. Kami lalu saling menyalami satu sama lain.
"Jadi, coba ceritakan kasus itu pada kami." kata Ludwig. "Mycroft berkata saya bisa mempercayai Beilschmidt bersaudara. Tiada orang lain yang disebutkan." kata Holmes menusuk. Aku merasa tidak enak. Harusnya kau tinggalkan kebiasaan berbicaramu itu jauh-jauh di London, Holmes, pikirku.
"Ah, kau bisa percaya pada kami, dan kalau kami berkata kalian bisa percaya pada Carriedo dan Bonnevoy, kalian bisa percaya kepada kami." kata Ludwig sambil tersenyum.
Lalu Holmes menarik napas dalam dan bercerita.
"Mycroft meminta bantuanku untuk memecahkan kasus Miss Viviana Hoffman, jadi.." kata Holmes terputus karena melihat reaksi para pendengar.
"Coba ulang lagi nama wanita itu!" kata Gilbert terkaget. "Viviana Hoffman. Ada apa?" kata Holmes.
Semua orang terperanjat.
"Kau lihat koran ini? Aku yakin kau sudah membaca judul berita utamanya bukan?" tanya Gilbert. Holmes mengangguk. Gilbert lalu mengambil napas dalam lalu berkata,
"Kau benar, Kawan, Viviana Hoffman adalah Si Pembunuh Aljabar."
-------------------------------------
Halo! Oh iya mau ngasih tau aja nih, kalo ada tanda ini -::::::- itu artinya pergantian sudut pandang. Ada dua sudut pandang; Gilbert dan Watson. Mm ini si Gilbert, Ludwig, Carriedo, ama Bonnevoy itu karakter Hetalia. Gue panggil Gilbert dan Ludwig, bukannya Beilschmidt, ya itu, karena mereka sama-sama Beilschmidt. Oh iya. BTW kalo kalian penggemar berat Jerman pasti kalian tau deh. Ada sesuatu yang salah dengan Stasiun Berlin. Okay I admit it; Stasiun itu baru dibangun tahun 2006. Abis gimana, gak ada stasiun lain yang muncul di Google T^T Okay reviews are veeeerryyy pleased! ^^
Ludwig lalu mengangkat alisnya dan menerima telegram itu. "Ya, Mycroft Holmes," katanya menelusuri, "Seorang teman dari pemerintahan Inggris. Dia sudah banyak membantu Kirkland dan aku. Sudah saatnya aku membalas budi." lalu Ia membaca telegram itu keras-keras,
Kepada Yang Terhormat
Beilschmidt Bersaudara
Adikku, Sherlock Holmes, dan asistennya, Dr. John Watson, akan datang padamu untuk menyelesaikan suatu kasus. Mungkin ia akan tiba sore hari. Ia akan membutuhkan bantuanmu dan kawan-kawanmu. Atas bantuannya saya ucapkan terima kasih.
-Mycroft Holmes
"Hah! Dia adalah kakak dari Sherlock Holmes, detektif terkenal itu?" tanyaku takjub.
"Ya, dan sekarang sudah sore, mungkin kita akan minum teh bersama mereka. Aku harus menyiapkan hidangan minum teh." kata Ludwig sambil beranjak ke dapur.
"Perlukah aku mengajak Carriedo dan Bonnevoy?" tanyaku. Mereka adalah pria-pria hebat yang dapat diandalkan.
Ludwig terdiam. "Akan sangat membantu." katanya kemudian.
-:::::::::::-
Aku dan Holmes tiba di Stasiun Berlin Hauptbahnhof pada pukul 4 sore. "Watson, sekarang kita akan ke penginapan. Setelah itu kita akan singgah ke alamat ini. Mycroft berkata mereka bisa dipercaya." kata Holmes sambil menyerahkan secarik kertas kepadaku.
18A Verdamont Street, Berlin
Beilschmidt Bersaudara
-::::::::::-
Aku bosan, perapian sudah menyala. Cerutu sudah di depan mata. Ah, tinggal koran yang belum, pikirku.
Aku lalu membaca berita utama. Aku terkejut.
TERJADI PEMBUNUHAN
SEORANG KONDUKTOR ORKESTRA TERKENAL DITEMUKAN TIDAK BERNYAWA
SI PEMBUNUH ALJABAR BERAKSI LAGI
Aku lalu teringat tiga tahun yang lalu. Seorang wanita psikopat yang brutal namun berpendidikan tinggi membunuh tiga orang pria berkekuatan dua kali dirinya. Karena kepercayadiriannya, atau lebih tepat jika dikatakan, kecongkakannya, meninggalkan petunjuk berupa soal aljabar. Polisi berhasil menemukannya. Memoriku tentang nama sang pelaku hampir terpanggil ketika seseorang membunyikan bel pintu rumah.
"Sebentar," kataku sambil berjalan menuju pintu. Aku lalu membuka pintunya. "Dengan Mr. Beilschmidt?" tanya seorang pria berpostur tinggi kekar dan berwajah tirus dengan rambut hitam yang acak-acakan.
"Gilbert Beilschmidt. Dan anda..?" tanyaku. "Sherlock Holmes. Dan ini kawan saya, Dr. John Watson." kata Holmes sambil memperkenalkan pria pirang yang berpostur lebih pendek namun sama kekarnya.
"Mr. Sherlock Holmes!" kataku sambil menyalami tangan yang diluar dugaanku, sangat berotot. "Bagaimana perjalanan anda? Oh, silakan masuk!" sambutku hangat.
"Sangat menyenangkan, Mr. Beilschmidt, terima kasih." jawab si pria pirang.
-:::::::::::-
Kami masuk ke dalam rumah itu. Holmes melihat-lihat koran yang tergeletak di meja ruang tamu. Ia memang bisa berbahasa Jerman selancar bahasa Inggrisnya.
"Wah, wah.." kata Holmes, "sepertinya kasus ini sudah menyebar kemana-mana, Watson."
Lalu datanglah pria berambut pirang membawakan sebuah nampan berisikan jamuan minum teh.
"Ludwig, ini tamu kita, Sherlock Holmes dan Dr. John Watson." kata Gilbert kepada pria itu.
"Oh Mr. Holmes, kakak anda meminta bantuan kami. Beliau sudah banyak membantu saya. Kini giliran saya yang membalasnya." kata Ludwig.
"Baiklah, jadi..." kata Gilbert terputus oleh suara bel pintu. Lalu Ia membukakan pintu itu. Terlihat dua pria tinggi, yang satu pirang dan yang satu berambut hitam. Si rambut hitam terlihat jelas hispanik.
"Perkenalkan, ini adalah Antonio Carriedo, Spanyol, dan ini adalah Francis Bonnevoy, Prancis. Ini Sherlock Holmes dan asistennya Dr. John Watson." kata Gilbert. Kami lalu saling menyalami satu sama lain.
"Jadi, coba ceritakan kasus itu pada kami." kata Ludwig. "Mycroft berkata saya bisa mempercayai Beilschmidt bersaudara. Tiada orang lain yang disebutkan." kata Holmes menusuk. Aku merasa tidak enak. Harusnya kau tinggalkan kebiasaan berbicaramu itu jauh-jauh di London, Holmes, pikirku.
"Ah, kau bisa percaya pada kami, dan kalau kami berkata kalian bisa percaya pada Carriedo dan Bonnevoy, kalian bisa percaya kepada kami." kata Ludwig sambil tersenyum.
Lalu Holmes menarik napas dalam dan bercerita.
"Mycroft meminta bantuanku untuk memecahkan kasus Miss Viviana Hoffman, jadi.." kata Holmes terputus karena melihat reaksi para pendengar.
"Coba ulang lagi nama wanita itu!" kata Gilbert terkaget. "Viviana Hoffman. Ada apa?" kata Holmes.
Semua orang terperanjat.
"Kau lihat koran ini? Aku yakin kau sudah membaca judul berita utamanya bukan?" tanya Gilbert. Holmes mengangguk. Gilbert lalu mengambil napas dalam lalu berkata,
"Kau benar, Kawan, Viviana Hoffman adalah Si Pembunuh Aljabar."
-------------------------------------
Halo! Oh iya mau ngasih tau aja nih, kalo ada tanda ini -::::::- itu artinya pergantian sudut pandang. Ada dua sudut pandang; Gilbert dan Watson. Mm ini si Gilbert, Ludwig, Carriedo, ama Bonnevoy itu karakter Hetalia. Gue panggil Gilbert dan Ludwig, bukannya Beilschmidt, ya itu, karena mereka sama-sama Beilschmidt. Oh iya. BTW kalo kalian penggemar berat Jerman pasti kalian tau deh. Ada sesuatu yang salah dengan Stasiun Berlin. Okay I admit it; Stasiun itu baru dibangun tahun 2006. Abis gimana, gak ada stasiun lain yang muncul di Google T^T Okay reviews are veeeerryyy pleased! ^^
The Algebraic Murder - Pt. 2
Aku mendapat banyak pasien hari ini. Pada pukul 6 sore aku sampai di depan 221B Baker Street. Holmes sudah menungguku. Ia kelihatan lebih segar. Bagus, pikirku.
Lalu kami masuk dalam kereta. Kami hanya terdiam hingga kami mencapai daerah Pall Mall. Mycroft ternyata sudah menunggu kami.
"Maaf aku tidak dapat hadir di hari pernikahanmu dan pemakaman istrimu." kata Mycroft dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa," kata Holmes. "Bantuan macam apa yang kau butuhkan?" tanya Holmes. "Sebuah kasus, dari temanku yang bekerja di pemerintahan Jerman." kata Mycroft sambil membimbing kami ke ruang kerjanya.
Ketika sampai di ruang kerja Mycroft, kami melihat seorang wanita muda, mungkin akhir 20an, sedang mondar-mandir dengan cemas di depan meja kerja Mycroft. Ia berpakaian seperti lelaki terhormat; mengenakan kemeja putih, celana cokelat, dan but hitam.
"Silakan duduk," kata Mycroft. Lalu wanita itu duduk, tetap dengan mengetukkan jarinya ke tangan kursi.
"Sherlock, perkenalkan, Miss Viviana Hoffman. Miss Hoffman, ini Sherlock Holmes dan Dr. John Watson." kata Mycroft memperkenalkan kami bertiga.
"Birmingham memang tidak terlalu padat seperti London. Anda suka kota yang seperti itu ya?" kata Holmes sambil menyalami Hoffman.
Hoffman terkejut. "Bagaimana caranya kau..." kata Hoffman bingung, lalu Ia menatap marah pada Mycroft.
"Miss Hoffman, saya harap anda paham akan pekerjaan adik saya; dia seorang detektif, hampir tak ada yang luput dari matanya." kata Mycroft.
"Yah, dia benar, ada tiga titik lumpur di but anda, menandakan anda melewati tempat yang baru saja dilanda hujan. Satu-satunya tempat yang baru saja dilanda hujan di sekitar London adalah Birmingham." jelas Holmes.
Viviana Hoffman tenang kembali. "Langsung saja Mr. Holmes," katanya, "Aku bekerja sampingan sebagai violinist di sebuah orkestra teater di Berlin. Hanya sebagai hobi, itu saja. Konduktorku, Abellard Schwesser, jatuh cinta padaku. Begitu pula diriku jatuh cinta padanya. Pada malam Rabu, kami memutuskan untuk pergi berkencan."
"Kami sudah sepakat bertemu di sebuah restoran pada pukul delapan. Pukul 8.15, ia tidak datang. 8.30, kukira macet yang parah. 8.45, kupikir dia sudah keterlaluan. Aku pun pergi ke rumahnya."
"Saat aku sampai di rumahnya, aku mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Aku ketuk lebih keras. Masih hening. Aku semakin marah. Aku pun menggedor pintu itu. Ternyata dengan sedikit dorongan, pintu itu dapat terbuka."
Holmes menahan cekikikan, sementara pipi Hoffman memerah menahan malu.
"Apa yang kulihat selanjutnya sungguh mengerikan. Abellard... Maksudku, Mr. Schwesser, terbaring di lantai, Ia ditusuk dari belakang; sebilah pisau dapur masih tertancap di punggungnya, kemeja putih yang ia kenakan berubah merah bersimbah darah. Ia sudah tiada. Ia menggenggam erat secarik kertas. Kertas itu berisi soal aljabar; ada tiga soal, jawabannya berturut-turut adalah 13;15; dan 18." jelas Miss Hoffman.
Holmes mencatat angka-angka itu di buku sakunya. "Sudahkah anda melaporkan kejadian ini kepada kepolisian Jerman?" tanya Holmes.
"Tentu sudah. Kertas berisi soal itu ada di tangan kepolisian Jerman." jawab Miss Hoffman.
Kami lalu terdiam sesaat. "Adakah.." kata Mycroft terputus oleh ketukan pintu. "Masuk!" kata Mycroft.
Lalu Inspektur Hopkins masuk. "Senang bertemu denganmu, Hopkins. Apa yang kau lakukan disini? Kau ingin mengurus keanggotaan Diogenes Club?" tanya Mycroft.
"Tidak. Saya disini untuk menangkap Miss Viviana Hoffman atas nama kepolisian Jerman." jawab Hopkins dingin.
Holmes mengangkat alisnya. "Tapi, Hopkins, dia hanyalah seorang saksi! Tidak mungkin Ia membunuh! Bagaimana dengan alibinya? Ia di restoran saat pembunuhan terjadi!" kataku.
"Hanya membutuhkan kurang dari 10 menit untuk membunuh seseorang. Sementara soal aljabar itu bisa dipersiapkan dari awal. Selebihnya bukti-bukti mengacu pada Miss Hoffman. Viviana Hoffman, anda ditahan atas pembunuhan Abellard Schwesser. Selamat malam, Mr. Holmes; keduanya, dan Dr. Watson." kata Hopkins sambil memborgol Miss Hoffman dan keluar dari ruangan.
Kami terdiam selama beberapa saat, dan akhirnya Holmes menghisap cerutunya, menatapku lekat-lekat dan angkat bicara;
"Tujuan kita selanjutnya, Jerman."
-------------------------------------------
Hai! Maaf ya karena disini ada dua Holmes, jadi gue bilang Mycroft itu Mycroft, Sherlock itu Holmes, soalnya kok kalo dibilang Sherlock jadi awkward gitu ya .-. Oke that's it from me, leave a review please ^^
Lalu kami masuk dalam kereta. Kami hanya terdiam hingga kami mencapai daerah Pall Mall. Mycroft ternyata sudah menunggu kami.
"Maaf aku tidak dapat hadir di hari pernikahanmu dan pemakaman istrimu." kata Mycroft dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa," kata Holmes. "Bantuan macam apa yang kau butuhkan?" tanya Holmes. "Sebuah kasus, dari temanku yang bekerja di pemerintahan Jerman." kata Mycroft sambil membimbing kami ke ruang kerjanya.
Ketika sampai di ruang kerja Mycroft, kami melihat seorang wanita muda, mungkin akhir 20an, sedang mondar-mandir dengan cemas di depan meja kerja Mycroft. Ia berpakaian seperti lelaki terhormat; mengenakan kemeja putih, celana cokelat, dan but hitam.
"Silakan duduk," kata Mycroft. Lalu wanita itu duduk, tetap dengan mengetukkan jarinya ke tangan kursi.
"Sherlock, perkenalkan, Miss Viviana Hoffman. Miss Hoffman, ini Sherlock Holmes dan Dr. John Watson." kata Mycroft memperkenalkan kami bertiga.
"Birmingham memang tidak terlalu padat seperti London. Anda suka kota yang seperti itu ya?" kata Holmes sambil menyalami Hoffman.
Hoffman terkejut. "Bagaimana caranya kau..." kata Hoffman bingung, lalu Ia menatap marah pada Mycroft.
"Miss Hoffman, saya harap anda paham akan pekerjaan adik saya; dia seorang detektif, hampir tak ada yang luput dari matanya." kata Mycroft.
"Yah, dia benar, ada tiga titik lumpur di but anda, menandakan anda melewati tempat yang baru saja dilanda hujan. Satu-satunya tempat yang baru saja dilanda hujan di sekitar London adalah Birmingham." jelas Holmes.
Viviana Hoffman tenang kembali. "Langsung saja Mr. Holmes," katanya, "Aku bekerja sampingan sebagai violinist di sebuah orkestra teater di Berlin. Hanya sebagai hobi, itu saja. Konduktorku, Abellard Schwesser, jatuh cinta padaku. Begitu pula diriku jatuh cinta padanya. Pada malam Rabu, kami memutuskan untuk pergi berkencan."
"Kami sudah sepakat bertemu di sebuah restoran pada pukul delapan. Pukul 8.15, ia tidak datang. 8.30, kukira macet yang parah. 8.45, kupikir dia sudah keterlaluan. Aku pun pergi ke rumahnya."
"Saat aku sampai di rumahnya, aku mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Aku ketuk lebih keras. Masih hening. Aku semakin marah. Aku pun menggedor pintu itu. Ternyata dengan sedikit dorongan, pintu itu dapat terbuka."
Holmes menahan cekikikan, sementara pipi Hoffman memerah menahan malu.
"Apa yang kulihat selanjutnya sungguh mengerikan. Abellard... Maksudku, Mr. Schwesser, terbaring di lantai, Ia ditusuk dari belakang; sebilah pisau dapur masih tertancap di punggungnya, kemeja putih yang ia kenakan berubah merah bersimbah darah. Ia sudah tiada. Ia menggenggam erat secarik kertas. Kertas itu berisi soal aljabar; ada tiga soal, jawabannya berturut-turut adalah 13;15; dan 18." jelas Miss Hoffman.
Holmes mencatat angka-angka itu di buku sakunya. "Sudahkah anda melaporkan kejadian ini kepada kepolisian Jerman?" tanya Holmes.
"Tentu sudah. Kertas berisi soal itu ada di tangan kepolisian Jerman." jawab Miss Hoffman.
Kami lalu terdiam sesaat. "Adakah.." kata Mycroft terputus oleh ketukan pintu. "Masuk!" kata Mycroft.
Lalu Inspektur Hopkins masuk. "Senang bertemu denganmu, Hopkins. Apa yang kau lakukan disini? Kau ingin mengurus keanggotaan Diogenes Club?" tanya Mycroft.
"Tidak. Saya disini untuk menangkap Miss Viviana Hoffman atas nama kepolisian Jerman." jawab Hopkins dingin.
Holmes mengangkat alisnya. "Tapi, Hopkins, dia hanyalah seorang saksi! Tidak mungkin Ia membunuh! Bagaimana dengan alibinya? Ia di restoran saat pembunuhan terjadi!" kataku.
"Hanya membutuhkan kurang dari 10 menit untuk membunuh seseorang. Sementara soal aljabar itu bisa dipersiapkan dari awal. Selebihnya bukti-bukti mengacu pada Miss Hoffman. Viviana Hoffman, anda ditahan atas pembunuhan Abellard Schwesser. Selamat malam, Mr. Holmes; keduanya, dan Dr. Watson." kata Hopkins sambil memborgol Miss Hoffman dan keluar dari ruangan.
Kami terdiam selama beberapa saat, dan akhirnya Holmes menghisap cerutunya, menatapku lekat-lekat dan angkat bicara;
"Tujuan kita selanjutnya, Jerman."
-------------------------------------------
Hai! Maaf ya karena disini ada dua Holmes, jadi gue bilang Mycroft itu Mycroft, Sherlock itu Holmes, soalnya kok kalo dibilang Sherlock jadi awkward gitu ya .-. Oke that's it from me, leave a review please ^^
The Algebraic Murder - Kata Pengantar & Pt. 1
Halo semua! Ini fanfic SH gue yang kedua setelah The Switched House. TSH itu kan OOC, kukira bakal banyak tentangan, ternyata malah dapet sambutan baik. Akhirnya gue mikir, "Kalo yang OOC aja rame, gimana yang IC?" Yaudah gue bikin TAM bareng temen gue, Fio, yang Hetalian. Tapi ada yang beda dengan TAM. TAM itu collaboration SH dan Hetalia. Memang sih, kebanyakan cerita dari SH dan yg banyak bikin juga gue, tapi untuk bagian Hetalia gue serahkan penuh kepada temen gue, Fio. Karena jujur aja gue gak begitu ngerti Hetalia. Ini scene kebanyakan di Jerman, terus ya tiba-tiba aja gue kepikiran untuk collab. Jadi, kalo menurut lo fanfic kali ini bagus, itu gak lepas dari izin Tuhan (of course) dan bantuan Fio juga. Part 1 gue post cuma dikit karena gue ngejar deadline yang gue buat sendiri (stupid, isn't it?) yaitu malam tahun baru.
Ini panjang soalnya. Oke, we start here!
BAGIAN 1
Semenjak kematian Rachel Holmes, Sherlock Holmes semakin sering menggunakan kokain. Ingin menjerit rasanya setiap dia mulai menyuntikkan carian neraka itu ke tubuhnya.
"Hentikan itu, Holmes! Dia adalah penjahat!" kataku ngilu melihat tubuhnya yang semakin kurus karena kokain.
"Diam kau, kau tidak tahu apa yang aku rasakan!" hardik Holmes setiap kali aku melarangnya memakai kokain.
Pada suatu pagi, aku akhirnya berhasil membujuk Holmes untuk berjalan-jalan keluar rumah. Di jalan orang menatapnya dengan pandangan iba. Bahkan ada seorang ibu tua memberikannya satu penny, namun ditolaknya dengan halus.
Saat kami sampai di rumah, Mrs. Hudson sudah menanti. "Mr. Holmes," katanya tergopoh-gopoh, "Ada telegram untuk anda." Lalu Ia menyerahkan secarik kertas.
Holmes lalu membacanya, dan memberikannya padaku. Isi kertas itu adalah,
Turut berdukacita.
Ada kasus.
Datanglah ke Diogenes Club pukul 7 malam.
-Mycroft
"Nah, Watson," kata Holmes, "Kau silakan pulang, kembalilah jam 6 sore kalau kau ingin ikut ke Diogenes Club. Kau ingin ikut kan?"
"Tentu." kataku. Lalu aku pun pulang.
Ini panjang soalnya. Oke, we start here!
BAGIAN 1
Semenjak kematian Rachel Holmes, Sherlock Holmes semakin sering menggunakan kokain. Ingin menjerit rasanya setiap dia mulai menyuntikkan carian neraka itu ke tubuhnya.
"Hentikan itu, Holmes! Dia adalah penjahat!" kataku ngilu melihat tubuhnya yang semakin kurus karena kokain.
"Diam kau, kau tidak tahu apa yang aku rasakan!" hardik Holmes setiap kali aku melarangnya memakai kokain.
Pada suatu pagi, aku akhirnya berhasil membujuk Holmes untuk berjalan-jalan keluar rumah. Di jalan orang menatapnya dengan pandangan iba. Bahkan ada seorang ibu tua memberikannya satu penny, namun ditolaknya dengan halus.
Saat kami sampai di rumah, Mrs. Hudson sudah menanti. "Mr. Holmes," katanya tergopoh-gopoh, "Ada telegram untuk anda." Lalu Ia menyerahkan secarik kertas.
Holmes lalu membacanya, dan memberikannya padaku. Isi kertas itu adalah,
Turut berdukacita.
Ada kasus.
Datanglah ke Diogenes Club pukul 7 malam.
-Mycroft
"Nah, Watson," kata Holmes, "Kau silakan pulang, kembalilah jam 6 sore kalau kau ingin ikut ke Diogenes Club. Kau ingin ikut kan?"
"Tentu." kataku. Lalu aku pun pulang.
Rabu, 07 November 2012
#kamukenapa?
Kan gue, N, F, D, L, dan yg lainnya lagi di kelas. Terus ada yang ngomong,
"Eh kalo kita dipergokin osis gimana ya?"
Terus hening.
Nah, lalu kita bikin skenario 'kamu kenapa.' Jadi kita ceritanya ditanyain sama osis gitu, kenapa masih di kelas, sementara udah jam pulang.
1. Kamu kenapa?| *hening* OPPA GANGNAM STYLE op op op op gangnam style op op op op
2. Kamu kenapa?|.... Tatap mata saya.| *terhipnotis*
3. Kamu kenapa?| *nepok pundak osis* Kak, kakak akan jadi orang yang blak-blakan.| *dengan randomnya osis menjawab* Dek, ada upil.| Hm? *gali idung*
4. Kamu kenapa?| .... Assalamualaikum, ayo kita SMS, Semuaaaaaaaaa makan sonice...| Ikutan joget
5. Kamu kenapa?| *nunjuk ke belakang osis sambil muka takut* I... Itu.. Itu apa?|Mana? *osis nengok ke belakang*| *Kaborrr...*
6. Kamu kenapa? |.... Nyotnyot dikenyot, NYOOT, nyotnyot dikenyot, NYOOT..| *sambil garuk-garuk pala* Nyot-nyot?
7. Kamu kenapa?| Abis... *kibasin rambut* ...keramas...| *pokerface*
8. Kamu kenapa? | *jatoh* Saya jatoh kak.
9. Kamu kenapa?| Aku gak punya pulsa... *musik galau*
10. Kamu kenapa?| AYAMKU MANA?| Sudah makan dulu sana.
11. Kamu kenapa?| *angkat kaki kanan* Kita lagi latihan tante...
Pas banget selesai ngomong begitu, pintu kelas dibuka.
JENGJEEEEEENG....
Taunya anak cowok. Masuknya pake pokerface gitu ih.
Terus si N nunjuk foto SBY sama Budiono yang lagi senyum sambil tereak dengan randomnya..
"APA LO KETAWA-KETAWA?"
Denger-denger sih abis itu dia dirujuk ke Grogol.
"Eh kalo kita dipergokin osis gimana ya?"
Terus hening.
Nah, lalu kita bikin skenario 'kamu kenapa.' Jadi kita ceritanya ditanyain sama osis gitu, kenapa masih di kelas, sementara udah jam pulang.
1. Kamu kenapa?| *hening* OPPA GANGNAM STYLE op op op op gangnam style op op op op
2. Kamu kenapa?|.... Tatap mata saya.| *terhipnotis*
3. Kamu kenapa?| *nepok pundak osis* Kak, kakak akan jadi orang yang blak-blakan.| *dengan randomnya osis menjawab* Dek, ada upil.| Hm? *gali idung*
4. Kamu kenapa?| .... Assalamualaikum, ayo kita SMS, Semuaaaaaaaaa makan sonice...| Ikutan joget
5. Kamu kenapa?| *nunjuk ke belakang osis sambil muka takut* I... Itu.. Itu apa?|Mana? *osis nengok ke belakang*| *Kaborrr...*
6. Kamu kenapa? |.... Nyotnyot dikenyot, NYOOT, nyotnyot dikenyot, NYOOT..| *sambil garuk-garuk pala* Nyot-nyot?
7. Kamu kenapa?| Abis... *kibasin rambut* ...keramas...| *pokerface*
8. Kamu kenapa? | *jatoh* Saya jatoh kak.
9. Kamu kenapa?| Aku gak punya pulsa... *musik galau*
10. Kamu kenapa?| AYAMKU MANA?| Sudah makan dulu sana.
11. Kamu kenapa?| *angkat kaki kanan* Kita lagi latihan tante...
Pas banget selesai ngomong begitu, pintu kelas dibuka.
JENGJEEEEEENG....
Taunya anak cowok. Masuknya pake pokerface gitu ih.
Terus si N nunjuk foto SBY sama Budiono yang lagi senyum sambil tereak dengan randomnya..
"APA LO KETAWA-KETAWA?"
Denger-denger sih abis itu dia dirujuk ke Grogol.
Resensi Buku: Sherlock Holmes & Laskar Jalanan Baker Street: Teka-Teki Kasus Pemanggilan Arwah
Greta Berlinger, seorang janda kaya, tewas dalam sebuah upacara pemanggilan arwah yang memunculkan arwah mendiang suaminya. Sang keponakan nan jelita, tak bisa tenang setelah meninggalnya sang Bibi. Dia merasa ada aura kejahatan yang selalu mengikuti dan mengancamnya.
Untuk pertama kalinya Holmes dan Laskar Jalanan Baker Street harus berhadapan dengan dunia supramatural yang mencekam, musuh yanh tak kasat mata. Berhasilkah mereka memecahkan misteri pembunuhan Greta Berlinger, juga mengetahui arwah siapakah yang muncul dan mengancam nyawa keponakannya?
Penulis: Tracy Mack & Michael Citrin
Penerbit: Qanita
Lia's Rate: Bagus pake banget.
Review:
Novel ini diceritain bukan dari sudut pandang Watson, tapi dari segi orang ketiga. Jadi gak ada tokoh 'aku' disini. Novel ini tuh seri kedua dari empat seri, seri pertama gue gak gitu suka, makanya gue skip. Tapi kalo mau ya monggo dibaca tuh yang pertamanya.
Buku ini bagus banget (gak promosi sumpah ini bagus) gue udah baca berkali-kali dan gue gak pernah bosen. Yang gue gak suka dari buku ini (dan 3 seri lainnya) adalah, Watson itu digambarkan sebagai orang yang rese banget lah. Jadi diceritakan dia tuh menutupi keberadaan Laskar Jalanan untuk keuntungannya sendiri dan dia membenci Laskar Jalanan gitu. Lah apa banget kan. Untung ceritanya bagus, kalo jelek mungkin gue gak akan beli.
Untuk pertama kalinya Holmes dan Laskar Jalanan Baker Street harus berhadapan dengan dunia supramatural yang mencekam, musuh yanh tak kasat mata. Berhasilkah mereka memecahkan misteri pembunuhan Greta Berlinger, juga mengetahui arwah siapakah yang muncul dan mengancam nyawa keponakannya?
Penulis: Tracy Mack & Michael Citrin
Penerbit: Qanita
Lia's Rate: Bagus pake banget.
Review:
Novel ini diceritain bukan dari sudut pandang Watson, tapi dari segi orang ketiga. Jadi gak ada tokoh 'aku' disini. Novel ini tuh seri kedua dari empat seri, seri pertama gue gak gitu suka, makanya gue skip. Tapi kalo mau ya monggo dibaca tuh yang pertamanya.
Buku ini bagus banget (gak promosi sumpah ini bagus) gue udah baca berkali-kali dan gue gak pernah bosen. Yang gue gak suka dari buku ini (dan 3 seri lainnya) adalah, Watson itu digambarkan sebagai orang yang rese banget lah. Jadi diceritakan dia tuh menutupi keberadaan Laskar Jalanan untuk keuntungannya sendiri dan dia membenci Laskar Jalanan gitu. Lah apa banget kan. Untung ceritanya bagus, kalo jelek mungkin gue gak akan beli.
Jumat, 02 November 2012
TGIF!! 2 November 2012
Jum'at ini random banget sumpah.
Jadi, tadi kan lari pagi ga ada yang spesial, skipskipskip~ terus kan ada perang angkatan, nah itu gue gak gitu jelas ngapain. Jadi ceritanya angkatan 11 sama 10 tu main bola tapi ga jelas bolanya diapain. Apa coba. Gue malah ngomongin deja vu sama Fi.
Abis itu kan istirahat, terus skipskiiip~ terus sejarah. Aaaaaah skipskip~ olahraga mulai agak random,
Kan disuruh ke hall basket kan tuh ya. Eh materinya roll ke depan roll ke belakang.
Drat.
Gue kan pas SD gak bisa tuh. Eh ternyata tadi bisa. Yeaay. (Kadang-kadang gue kesel juga sama ke-pokerface-an gue yang akut.)
Terus kan gue ma beberapa temen mau ulangan bahasa, eh kita lupa bawa kertas. Balik ke homebase ambil kertas. Balik ke ruang guru, lupa ambil kamus. Ke perpustakaan mau minjem kamus, perpustakaannya tutup.
Twat.
Terus kan keputrian, mana gue ngantuk banget, skipskip~ nah abis itu baru ulangan kan, eh pas lagi ulangan ruangan kita mau dipake fotografi. Terus kita pindah ke perpus, kan gurunya bilang mau ke ruang BK, terus pas gue mau ngumpulin gurunya udah gak ada.
T^T
Untung ketemu tuh gurunya. Terus gue mau KIR kan, naik ke lt. 4. Eh di lt. 4 ada yang bilang, "Lia, kamu dicariin bu guru disuruh ke ruang guru sekarang juga." Lo tau kan ruang guru itu di lt. 1????
Perjalanan inii~ terasa sangat menyedihkan... TT^TT
Ternyata dikasih kartu legit(imasi). Yaudah tu kan KIR, terus skipskip pulang.
Jadi, tadi kan lari pagi ga ada yang spesial, skipskipskip~ terus kan ada perang angkatan, nah itu gue gak gitu jelas ngapain. Jadi ceritanya angkatan 11 sama 10 tu main bola tapi ga jelas bolanya diapain. Apa coba. Gue malah ngomongin deja vu sama Fi.
Abis itu kan istirahat, terus skipskiiip~ terus sejarah. Aaaaaah skipskip~ olahraga mulai agak random,
Kan disuruh ke hall basket kan tuh ya. Eh materinya roll ke depan roll ke belakang.
Drat.
Gue kan pas SD gak bisa tuh. Eh ternyata tadi bisa. Yeaay. (Kadang-kadang gue kesel juga sama ke-pokerface-an gue yang akut.)
Terus kan gue ma beberapa temen mau ulangan bahasa, eh kita lupa bawa kertas. Balik ke homebase ambil kertas. Balik ke ruang guru, lupa ambil kamus. Ke perpustakaan mau minjem kamus, perpustakaannya tutup.
Twat.
Terus kan keputrian, mana gue ngantuk banget, skipskip~ nah abis itu baru ulangan kan, eh pas lagi ulangan ruangan kita mau dipake fotografi. Terus kita pindah ke perpus, kan gurunya bilang mau ke ruang BK, terus pas gue mau ngumpulin gurunya udah gak ada.
T^T
Untung ketemu tuh gurunya. Terus gue mau KIR kan, naik ke lt. 4. Eh di lt. 4 ada yang bilang, "Lia, kamu dicariin bu guru disuruh ke ruang guru sekarang juga." Lo tau kan ruang guru itu di lt. 1????
Perjalanan inii~ terasa sangat menyedihkan... TT^TT
Ternyata dikasih kartu legit(imasi). Yaudah tu kan KIR, terus skipskip pulang.
Rabu, 31 Oktober 2012
In My Pants.. What The Hell Are You Doing There???
Oke, jadi, gue dapet permainan seru dari temen baik gue, namanya Fi. Gue dapet permainan ini dari deviantartnya (hoboacrossthestreet).
Cara mainnya, lo pikirin satu judul lagu dan tambahin "In My Pants" di belakangnya. Ini konyol. Gue udah coba dan ini hasilnya:
Romanian Wind In My Pants -> Wah adem banget dong ya..
I Will Always Love You In My Pants -> Pacaran style baru; di dalem celana.
I Will Be In My Pants -> Okay. Get in.
Discombobulate In My Pants -> Nah lo bingung kagak lu -.-
Stay In My Pants -> Oke. Tetap disini ya, jangan kemana-mana sebelum ada instruksi dari pemadam kebakaran.
One More Night In My Pants -> Boro-boro semalem, dua menit aja paling lu udah pingsan...
Nothing In My Pants -> HAH? Terus lo semacem.. HANTU?
Ini nih paling seru..
Hall Of Fame In My Pants -> Udah. Tobat gue. TOBAT!!!!!
Cara mainnya, lo pikirin satu judul lagu dan tambahin "In My Pants" di belakangnya. Ini konyol. Gue udah coba dan ini hasilnya:
Romanian Wind In My Pants -> Wah adem banget dong ya..
I Will Always Love You In My Pants -> Pacaran style baru; di dalem celana.
I Will Be In My Pants -> Okay. Get in.
Discombobulate In My Pants -> Nah lo bingung kagak lu -.-
Stay In My Pants -> Oke. Tetap disini ya, jangan kemana-mana sebelum ada instruksi dari pemadam kebakaran.
One More Night In My Pants -> Boro-boro semalem, dua menit aja paling lu udah pingsan...
Nothing In My Pants -> HAH? Terus lo semacem.. HANTU?
Ini nih paling seru..
Hall Of Fame In My Pants -> Udah. Tobat gue. TOBAT!!!!!
Sabtu, 27 Oktober 2012
The Switched House - Pt. 4 (English)
I'm home now. I can't stop thinking, I don't know why. "Come on, Holmes is only your bestfriend! You can live without him!" I shouted to myself. But something in me refuses it. Then I fell asleep.
It's morning already when I wake up. "Oh, did I sleep last night?" I said to myself. Then I remember my appointment with Holmes. Then I prepare myself and change my clothes.
The bell rings. I can only stand in front of my door. Mr. and Mrs. Holmes is standing right behind this door. Am I ready?
The bell rings again. Oh, of course I'm ready. I must be. Then I open the door. "Hello, Watson! Seems like I should ring the bell twice, huh?" said Holmes with his sense of humour. Then I see a woman with extremely white skin beside him.
Face it Watson, I think to myself, she is Mrs. Holmes. "So," said Mrs. Holmes, "You are Dr. John Watson? I've heard a lot about you." Then she shake my hand. "Oh yes, Ma'am. Oh get in!" I said.
Then just there, we're just talking about useless things, and Mrs. Holmes only sit there, say nothing. Maybe smile, or laugh once or twice. She don't talk much, I think.
After that, my guest go home. I just sit, right there, staring at the empty air.
It's morning already when I wake up. "Oh, did I sleep last night?" I said to myself. Then I remember my appointment with Holmes. Then I prepare myself and change my clothes.
The bell rings. I can only stand in front of my door. Mr. and Mrs. Holmes is standing right behind this door. Am I ready?
The bell rings again. Oh, of course I'm ready. I must be. Then I open the door. "Hello, Watson! Seems like I should ring the bell twice, huh?" said Holmes with his sense of humour. Then I see a woman with extremely white skin beside him.
Face it Watson, I think to myself, she is Mrs. Holmes. "So," said Mrs. Holmes, "You are Dr. John Watson? I've heard a lot about you." Then she shake my hand. "Oh yes, Ma'am. Oh get in!" I said.
Then just there, we're just talking about useless things, and Mrs. Holmes only sit there, say nothing. Maybe smile, or laugh once or twice. She don't talk much, I think.
After that, my guest go home. I just sit, right there, staring at the empty air.
Jumat, 26 Oktober 2012
Awas! Bisnis Gelap Like di Facebook!
Sekarang tulisan gue serius dikit ah.
Mengutip dari id.yahoo.com , kalian yang masih suka main facebook jangan suka sembarangan like/comment ya.
Misalnya ada orang gitu (apalagi yang lo gak kenal), dia bilang "Klik gambar ini, berikan like/komentar, dan lihat apa yang terjadi!" Biasanya kayak gitu disertai gambar.
Nah, apa yang akan terjadi? GAK AKAN TERJADI APA-APA. Mau tau kenapa kok disebut bisnis gelap?
Kan pasti banyak orang yang penasaran tuh, jadi banyak yg like atw komentar. Nanti, kalo like/komentarnya udah banyak, halaman itu akan dilelang di internet. Jadi, orang yang memiliki (yang berhasil membeli dari lelangan maksudnya) halaman itu bakal keliatan terkenal gitu.
Sepintas emang keliatan biasa aja. Tapi coba inget-inget deh. Like itu kan fungsinya buat berbagi. So, kalo dijadiin bisnis gini ya namanya penyalahgunaan dong.
Saran gue, kalo itu bener-bener orang yang elo kenal, silakan like. Tapi kalo bukan, sebaiknya jangan.
Mengutip dari id.yahoo.com , kalian yang masih suka main facebook jangan suka sembarangan like/comment ya.
Misalnya ada orang gitu (apalagi yang lo gak kenal), dia bilang "Klik gambar ini, berikan like/komentar, dan lihat apa yang terjadi!" Biasanya kayak gitu disertai gambar.
Nah, apa yang akan terjadi? GAK AKAN TERJADI APA-APA. Mau tau kenapa kok disebut bisnis gelap?
Kan pasti banyak orang yang penasaran tuh, jadi banyak yg like atw komentar. Nanti, kalo like/komentarnya udah banyak, halaman itu akan dilelang di internet. Jadi, orang yang memiliki (yang berhasil membeli dari lelangan maksudnya) halaman itu bakal keliatan terkenal gitu.
Sepintas emang keliatan biasa aja. Tapi coba inget-inget deh. Like itu kan fungsinya buat berbagi. So, kalo dijadiin bisnis gini ya namanya penyalahgunaan dong.
Saran gue, kalo itu bener-bener orang yang elo kenal, silakan like. Tapi kalo bukan, sebaiknya jangan.
Kamis, 25 Oktober 2012
The Switched House - Pt. 3 (English)
Holmes stare at me and smile. I froze, right there. Then Lestrade and Mrs. Hudson get in to the church, so I get in too.
Lestrade sits beside me. I still.. Is this a joke? Holmes? He's marrying? Are you kidding? The I see the Priest reading it all. "I do." The bride says. Then the Priest turn to Holmes and wait. Ago there was a tense silence. Holmes looks like cogitate his own decision to marry. Then suddenly he said,
"I do."
I can't believe it. It all happened so fast.
When everybody's out, I still froze there. "Hello, Watson! What are you doing? You close your clinic to come here?" said someone from my back. It's Holmes that I know, messy hair, shabby coat, and emaciated.
"Oh, it's the groom," I said. Then he smile and sit beside me. "Who is she?" I asked. "Why, you jealous?" he joked. "No, Holmes, I'm serious." I said. "Okay then," Holmes said, "Her name is Rachel Crome, or Rachel Holmes. She is a scientist I met in France. She is... Well, I'm forced to admit, smart, and attractive. We've been communicating for five month. You see mails I got from R. Crome?"
"But you said she's your friend!" I said. "Well, she is my friend, right?" said Holmes. "Me and my wife will come to your house tomorrow at nine a.m. I got to go, Watson." Holmes said as he walk away.
And there I am, left speechless in a sadly loneliness.
Lestrade sits beside me. I still.. Is this a joke? Holmes? He's marrying? Are you kidding? The I see the Priest reading it all. "I do." The bride says. Then the Priest turn to Holmes and wait. Ago there was a tense silence. Holmes looks like cogitate his own decision to marry. Then suddenly he said,
"I do."
I can't believe it. It all happened so fast.
When everybody's out, I still froze there. "Hello, Watson! What are you doing? You close your clinic to come here?" said someone from my back. It's Holmes that I know, messy hair, shabby coat, and emaciated.
"Oh, it's the groom," I said. Then he smile and sit beside me. "Who is she?" I asked. "Why, you jealous?" he joked. "No, Holmes, I'm serious." I said. "Okay then," Holmes said, "Her name is Rachel Crome, or Rachel Holmes. She is a scientist I met in France. She is... Well, I'm forced to admit, smart, and attractive. We've been communicating for five month. You see mails I got from R. Crome?"
"But you said she's your friend!" I said. "Well, she is my friend, right?" said Holmes. "Me and my wife will come to your house tomorrow at nine a.m. I got to go, Watson." Holmes said as he walk away.
And there I am, left speechless in a sadly loneliness.
Rabu, 24 Oktober 2012
The Switched House - Pt. 2 (English)
I wake up in the morning. "Damn it's 10 a.m. yet!" I shout to myself. Then I wear the best suit I have and I go to the church.
When I arrive, the gate is decorated by flowers. I see Mrs. Hudson and Lestrade. "Mrs. Hudson, who is going to marry?" I asked. "Oh, so you don't know yet?" she asked surprisedly. "Well no, but Holmes tell me to come here." I said. Then Mrs. Hudson nod her head and say, "Just wait and see."
Then the carriage arrives. I see a man and a woman walks, just going to have a new life. I see the bride, she's slim and pretty, then I see the groom, he looks tall, athletic, and handsome. What a perfect couple, I think. But wait.. Looks like I know the groom. I suddenly whisper,
"Holmes?"
When I arrive, the gate is decorated by flowers. I see Mrs. Hudson and Lestrade. "Mrs. Hudson, who is going to marry?" I asked. "Oh, so you don't know yet?" she asked surprisedly. "Well no, but Holmes tell me to come here." I said. Then Mrs. Hudson nod her head and say, "Just wait and see."
Then the carriage arrives. I see a man and a woman walks, just going to have a new life. I see the bride, she's slim and pretty, then I see the groom, he looks tall, athletic, and handsome. What a perfect couple, I think. But wait.. Looks like I know the groom. I suddenly whisper,
"Holmes?"
Cerita Berantai yang Bikin Mabok #2
(Klo ga ngerti baca dulu Part 1 nya ya~) Terus main itu lagi, tapi sama pak guru ditambahin waktunya jd 60 detik. Udah tu ya, gue nulis:
"Aku benci setiap kali Sherlock menyuntikkan cairan neraka itu. "Hentikan, Holmes, kau harus melupakannya!" kataku. "Kau tidak tahu yang kurasakan, Watson!" jawabnya se" gw sebenernya mo nulis "setiap kali pula." tapi udh abis waktunya dan gw ngancurin punya orang sampe gw bikin ada tulisannya "Lalu Ia pergi ke Cina untuk berobat ke Klinik Tong Fang." ancur kagak tuh. Eh pas balik punya gw, gw nyaris mati gara gara mabok. Gini ceritanya.
"Aku benci setiap kali Sherlock menyuntikkan cairan neraka itu. "Hentikan, Holmes, kau harus melupakannya!" kataku. "Kau tidak tahu yang kurasakan, Watson!" jawabnya selantang mungkin. Ini adalah satu-satunya cara saya untuk menenangkan hati saya. Saya marah dan memukul Sherlock, bahwa ia harus melihat apa yang telah ia lakukan. Akhirnya terjadi pertarungan antara kami, kami sangat kesal satu sama lain. Seakan-akan ada dinding diantara mereka. Namun lama kelamaan dinding itu runtuh, mereka berbaikan dan saling berbicara satu sama lain. Mereka mulai membicarakan aib orang yang mereka benci, dan tak lama kemudian mereka merasa SANGAT BERDOSA!!!"
Nggak perlu gue ceritain kan ngaconya dimana. Malah bikin loro ati.
Saking putus asanya gue, gue pun nambahin;
"...dan tak lama kemudian mereka merasa SANGAT BERDOSA!!! Dan untunglah, Terimakasih Tuhan, CERITA INI TIDAK PERNAH TERJADI. APRIL MOOOOP!!!"
"Aku benci setiap kali Sherlock menyuntikkan cairan neraka itu. "Hentikan, Holmes, kau harus melupakannya!" kataku. "Kau tidak tahu yang kurasakan, Watson!" jawabnya se" gw sebenernya mo nulis "setiap kali pula." tapi udh abis waktunya dan gw ngancurin punya orang sampe gw bikin ada tulisannya "Lalu Ia pergi ke Cina untuk berobat ke Klinik Tong Fang." ancur kagak tuh. Eh pas balik punya gw, gw nyaris mati gara gara mabok. Gini ceritanya.
"Aku benci setiap kali Sherlock menyuntikkan cairan neraka itu. "Hentikan, Holmes, kau harus melupakannya!" kataku. "Kau tidak tahu yang kurasakan, Watson!" jawabnya selantang mungkin. Ini adalah satu-satunya cara saya untuk menenangkan hati saya. Saya marah dan memukul Sherlock, bahwa ia harus melihat apa yang telah ia lakukan. Akhirnya terjadi pertarungan antara kami, kami sangat kesal satu sama lain. Seakan-akan ada dinding diantara mereka. Namun lama kelamaan dinding itu runtuh, mereka berbaikan dan saling berbicara satu sama lain. Mereka mulai membicarakan aib orang yang mereka benci, dan tak lama kemudian mereka merasa SANGAT BERDOSA!!!"
Nggak perlu gue ceritain kan ngaconya dimana. Malah bikin loro ati.
Saking putus asanya gue, gue pun nambahin;
"...dan tak lama kemudian mereka merasa SANGAT BERDOSA!!! Dan untunglah, Terimakasih Tuhan, CERITA INI TIDAK PERNAH TERJADI. APRIL MOOOOP!!!"
Cerita Berantai yang Bikin Mabok
So, tadi pelajaran bahasa cerita berantai. Gue sekelompok sama Fi, A, Fat, Fad, sama Z. jadi gini cara mainnya:
Lo ambil kertas, lo tulis beberapa kalimat (terserah lo). Lo cuma dikasih waktu 30 detik. Begitu counter bilang "YAK" lo kasih kertas ke orang di belakang lo (yang paling belakang kasih ke paling depan). Terus, lo harus lanjutin cerita itu dalam waktu 30 detik juga. Bayangin aja, baca, mikir, dan nulis dalam 30 detik itu kan membutuhkan otak yang encerr cerrr. Trus kasih ke belakang terus, terus gitu sampekiamat punya lo balik lagi ke tangan lo sendiri.
ya gitu lah.Lo ambil kertas, lo tulis beberapa kalimat (terserah lo). Lo cuma dikasih waktu 30 detik. Begitu counter bilang "YAK" lo kasih kertas ke orang di belakang lo (yang paling belakang kasih ke paling depan). Terus, lo harus lanjutin cerita itu dalam waktu 30 detik juga. Bayangin aja, baca, mikir, dan nulis dalam 30 detik itu kan membutuhkan otak yang encerr cerrr. Trus kasih ke belakang terus, terus gitu sampe
Terus kan gue nulis begini nih:
"Setelah kematian Rachel Holmes, Sherlock semakin sering menggunakan kokain. Setiap hari dia suntikkan" blm selesai gw nulis udh maen bilang "YAK" aja tuh. Yaudah, gw pass ke belakang, terus dan terus dan teru~s sampe balik lagi ke gue. Terus gue baca. Maboklah gue. Begini nih ceritanya:
"Setelah kematian Rachel Holmes, Sherlock semakin sering menggunakan kokain. Setiap hari dia suntikkan kokain ke dalam tubuhnya. Dia sangat sedih, karena Rachel sudah tidak ada. Hidupnya makin sedih. Ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Apapun yang ia lakukan semakin hari kesuraman meliputi. Masih diingatnya senyum ramah Rachel. Rachel akhirnya mengungkapkan mengapa ia bisa" sampe di "ia bisa" berhenti, soalnya waktunya abis.
Lo pasti menangkap sesuatu yg ganjil dari cerita tersebut, bukan? Oke, menurut gue ini yang ganjil:
1. Kata-kata sedih diulang-ulang. Tapi ini masih bisa diterima lah.
2. Di awal, gue udah bilang "SETELAH KEMATIAN RACHEL HOLMES" nah di akhir gue menemukan kalimat yang merusak segalanya:
"RACHEL AKHIRNYA MENGUNGKAPKAN MENGAPA IA BISA" ya menurut lo aja sih MASA ORANG MATI BISA NGOMONG??? Oleh karena itu gue nambahin:
"Rachel akhirnya mengungkapkan mengapa ia bisa IDUP LAGI. LO PIKIR RACHEL APAAN BISA MATI BISA IDUP SEMAUNYA? LO KIRA RACHEL LAMPU TIDUR TINGGAL 'TEK' NYALA 'TEK' MATI??? MAMA OH MAMAA~"
Minggu, 21 Oktober 2012
The Switched House - Pt. 12 (Indonesian)
Kami sudah sampai di rumah Holmes. Kami lalu duduk. "Jadi, Watson," kata Holmes, "Setelah dari rumahmu, aku bertanya pada tetangga-tetanggamu, mengapa mereka tidak mendengar tembakan yang begitu dahsyatnya. Ternyata mereka diberi kabar bahwa daerah ini akan dilanda angin tornado, lalu mereka mengungsi. Saat aku membunyikan bel rumah tetangga sebelahmu, tidak ada jawaban. Ternyata pintunya tidak dikunci."
"Lalu aku masuk. Aku sangat kaget, ruangan itu persis seperti ruang tamu rumahmu, hanya saja sudah ditembaki seperti ceritamu. Bahkan aku menemukan pigura yang kau ceritakan."
"Aku memutuskan untuk pulang dan menyelidiki gelas tehmu. Ada obat tidur di dalamnya. Entah bagaimana pelakunya memasukkannya, tapi aku tahu itu penyebab mengapa kau tertidur sangat lama, dan itu membuat pelaku dan kawan-kawannya; dia memiliki organisasi, Watson; bisa mengangkutmu dari rumahmu ke rumah Robertson. Lalu saat kau ke Scotland Yard, mereka menukar pintumu dengan pintu rumah Robertson. Aku berpikir, kau tidak mungkin meracuni dirimu sendiri. Aku juga tidak meracunimu. Maka satu-satunya orang yang dapat meracunimu adalah Rachel."
"Apalagi baru-baru ini aku mengetahui, Rachel adalah adik dari Kolonel Sebastian Moran. Dia dahulu menikah dengan William Crome, maka namanya menjadi Rachel Crome."
"Dan saat kau menangani Robertson, yang belakangan ini kuketahui adalah pemilik rumah di sebelah rumahmu, Rachel menembakkan revolvermu ke perutnya sendiri. Mungkin sejak kecil dia sudah dilatih militer oleh kakaknya." jelas Holmes.
"Tapi Holmes, ruangan itu sangat mirip dengan ruang tamuku!" kataku. Holmes lalu tertawa pahit dan menitikkan air mata pertama dan mungkin yang terakhir yang aku lihat dalam hidupku dan berkata, "Kalau ada kemauan, pasti ada jalan, Watson."
TAMAT
"Lalu aku masuk. Aku sangat kaget, ruangan itu persis seperti ruang tamu rumahmu, hanya saja sudah ditembaki seperti ceritamu. Bahkan aku menemukan pigura yang kau ceritakan."
"Aku memutuskan untuk pulang dan menyelidiki gelas tehmu. Ada obat tidur di dalamnya. Entah bagaimana pelakunya memasukkannya, tapi aku tahu itu penyebab mengapa kau tertidur sangat lama, dan itu membuat pelaku dan kawan-kawannya; dia memiliki organisasi, Watson; bisa mengangkutmu dari rumahmu ke rumah Robertson. Lalu saat kau ke Scotland Yard, mereka menukar pintumu dengan pintu rumah Robertson. Aku berpikir, kau tidak mungkin meracuni dirimu sendiri. Aku juga tidak meracunimu. Maka satu-satunya orang yang dapat meracunimu adalah Rachel."
"Apalagi baru-baru ini aku mengetahui, Rachel adalah adik dari Kolonel Sebastian Moran. Dia dahulu menikah dengan William Crome, maka namanya menjadi Rachel Crome."
"Dan saat kau menangani Robertson, yang belakangan ini kuketahui adalah pemilik rumah di sebelah rumahmu, Rachel menembakkan revolvermu ke perutnya sendiri. Mungkin sejak kecil dia sudah dilatih militer oleh kakaknya." jelas Holmes.
"Tapi Holmes, ruangan itu sangat mirip dengan ruang tamuku!" kataku. Holmes lalu tertawa pahit dan menitikkan air mata pertama dan mungkin yang terakhir yang aku lihat dalam hidupku dan berkata, "Kalau ada kemauan, pasti ada jalan, Watson."
TAMAT
The Switched House - Pt. 11 (Indonesian)
Aku dan Holmes menengok ke belakang. Dan di belakang kami ada sesosok wanita yang sangat kami kenal.
"Oh, kau, Rachel. Apa yang kau lakukan disini?" tanya Holmes sambil tersenyum. "DIAM KAU! KELUAR! KELUAR!!! Kalau tidak aku akan membunuhmu!!" teriak Mrs. Holmes pada kami berdua.
Sontak aku terkaget. "Tenang dulu, Rachel," kata Holmes, "Siapa di dalam?" "Bukan urusanmu!" teriaknya lagi. "Pria itu sudah sekarat! Dia akan segera mati!!!" teriak Mrs. Holmes.
"Kalau kau membunuhnya, kau bisa dikenai pasal berlapis, Rachel. Tapi kalau kau mengizinkan temanku, Watson, masuk dan menolongnya, mungkin posisimu tidak akan terlalu buruk." kata Holmes.
Mrs. Holmes berpikir sejenak. Lalu tiba-tiba ia menarik revolver dari tanganku. "Kau," tunjuknya kepadaku, "Masuklah ke sana, bantu pria itu." Lalu aku masuk.
Kulihat pria yang kurus kering dan berwajah pucat duduk di sudut ruangan. "Makanan.. Beri aku makanan.." kata pria itu. Dia sekarat karena kelaparan rupanya, pikirku. Lalu aku memberikan roti yang kusimpan di kantong jasku.
"Siapa namamu?" tanyaku selagi dia makan dengan lahapnya. "Conner," katanya, "Conner Robertson." "Bagaimana keadaannya?" teriak Rachel. "Baik," kataku, "Ia hanya kelaparan." "Syukurlah." kata Mrs. Holmes.
Tiba-tiba aku dengar suara tembakan dari belakang. Aku segera berlari ke pintu. "Kau baik-baik saja, Holmes?" tanyaku. Holmes membisu dan matanya terpaku ke bawah.
"Astaga," kataku. Kulihat Rachel Holmes terbaring di lantai, berlumuran darah. Holmes lalu berlutut di hadapannya.
"Sherlock," kata Mrs. Holmes dengan susah payah, "Kau tahu mengapa aku tidak menembakmu tadi? Sebab aku mencintaimu, itulah kenapa." Setelah menyelesaikan kalimatnya, beliau pergi untuk selama-lamanya.
"Holmes.." kataku. "Kau tahu, Watson?" kata Holmes berusaha tegar, "Mari kita lupakan kalau dia pernah ada. Sekarang mari kita ke rumahku, aku tahu kau butuh penjelasan."
"Oh, kau, Rachel. Apa yang kau lakukan disini?" tanya Holmes sambil tersenyum. "DIAM KAU! KELUAR! KELUAR!!! Kalau tidak aku akan membunuhmu!!" teriak Mrs. Holmes pada kami berdua.
Sontak aku terkaget. "Tenang dulu, Rachel," kata Holmes, "Siapa di dalam?" "Bukan urusanmu!" teriaknya lagi. "Pria itu sudah sekarat! Dia akan segera mati!!!" teriak Mrs. Holmes.
"Kalau kau membunuhnya, kau bisa dikenai pasal berlapis, Rachel. Tapi kalau kau mengizinkan temanku, Watson, masuk dan menolongnya, mungkin posisimu tidak akan terlalu buruk." kata Holmes.
Mrs. Holmes berpikir sejenak. Lalu tiba-tiba ia menarik revolver dari tanganku. "Kau," tunjuknya kepadaku, "Masuklah ke sana, bantu pria itu." Lalu aku masuk.
Kulihat pria yang kurus kering dan berwajah pucat duduk di sudut ruangan. "Makanan.. Beri aku makanan.." kata pria itu. Dia sekarat karena kelaparan rupanya, pikirku. Lalu aku memberikan roti yang kusimpan di kantong jasku.
"Siapa namamu?" tanyaku selagi dia makan dengan lahapnya. "Conner," katanya, "Conner Robertson." "Bagaimana keadaannya?" teriak Rachel. "Baik," kataku, "Ia hanya kelaparan." "Syukurlah." kata Mrs. Holmes.
Tiba-tiba aku dengar suara tembakan dari belakang. Aku segera berlari ke pintu. "Kau baik-baik saja, Holmes?" tanyaku. Holmes membisu dan matanya terpaku ke bawah.
"Astaga," kataku. Kulihat Rachel Holmes terbaring di lantai, berlumuran darah. Holmes lalu berlutut di hadapannya.
"Sherlock," kata Mrs. Holmes dengan susah payah, "Kau tahu mengapa aku tidak menembakmu tadi? Sebab aku mencintaimu, itulah kenapa." Setelah menyelesaikan kalimatnya, beliau pergi untuk selama-lamanya.
"Holmes.." kataku. "Kau tahu, Watson?" kata Holmes berusaha tegar, "Mari kita lupakan kalau dia pernah ada. Sekarang mari kita ke rumahku, aku tahu kau butuh penjelasan."
Sabtu, 20 Oktober 2012
The Switched House - Pt. 9 (Indonesian)
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi ketika aku bangun dan bersiap untuk menemui Holmes. Tapi, di saat yang sama aku mendapat banyak pasien.
Saat jam 9, aku memutuskan untuk menutup klinikku sebentar untuk menemui Holmes. Aku melihat seorang kakek tua di depan pintu.
"Oh, maaf Pak, saya harus tutup sebentar. Mungkin jam 11 siang anda bisa datang lagi kemari." kataku. Kakek tua itu tidak beranjak. Aku memutuskan untuk tidak menghiraukannya.
"Sungguh? Apakah aku sehebat itu?" terdengar suara yang sangat familiar bagiku. Aku menengok ke depan pintu. Kakek tua itu sudah hilang, bersamaan dengan datangnya tamu istimewaku, Holmes.
"Baik, baiklah, aku kalah," kataku sambil tertawa kecil, "Ayo masuk." Lalu kami berdua masuk.
"Yah, Watson," kata Holmes, "Aku hampir saja tertembak kemarin. Tembakan itu melintas tepat di samping telinga kiriku. Tapi lupakan itu, kini aku tahu apa yang terjadi. Siapkan revolvermu, Watson, kita akan berkunjung ke rumah tetangga."
Saat jam 9, aku memutuskan untuk menutup klinikku sebentar untuk menemui Holmes. Aku melihat seorang kakek tua di depan pintu.
"Oh, maaf Pak, saya harus tutup sebentar. Mungkin jam 11 siang anda bisa datang lagi kemari." kataku. Kakek tua itu tidak beranjak. Aku memutuskan untuk tidak menghiraukannya.
"Sungguh? Apakah aku sehebat itu?" terdengar suara yang sangat familiar bagiku. Aku menengok ke depan pintu. Kakek tua itu sudah hilang, bersamaan dengan datangnya tamu istimewaku, Holmes.
"Baik, baiklah, aku kalah," kataku sambil tertawa kecil, "Ayo masuk." Lalu kami berdua masuk.
"Yah, Watson," kata Holmes, "Aku hampir saja tertembak kemarin. Tembakan itu melintas tepat di samping telinga kiriku. Tapi lupakan itu, kini aku tahu apa yang terjadi. Siapkan revolvermu, Watson, kita akan berkunjung ke rumah tetangga."
The Switched House Pt.10 (Indonesian)
Aku agak bingung dengan kata-kata Holmes. Tapi ya sudahlah, aku toh tetap membawa revolverku.
Kami lalu keluar rumah dan berjalan ke rumah di sebelah rumahku. "Holmes, apakah ini legal?" tanyaku. "Kuharap begitu, Watson." kata Holmes. Lalu dia mendobrak pintu rumah itu.
BRAAK!!!
Aku kaget. "Holmes.. Ini ruangan tempat aku ditembaki!" kataku. Ruangan itu berantakan dan penuh bekas tembakan. "Ya, sama persis dengan ruang tamu rumahmu, bukan? Tapi mari kita lihat ke atas." kata Holmes.
Kami lalu naik ke lantai 2. Ada sebuah kamar. Kami akan membukanya ketika terdengar bunyi pelatuk ditarik dan seseorang berkata,
"Kau lebih baik tak
melakukannya, Sherlock..."
Kami lalu keluar rumah dan berjalan ke rumah di sebelah rumahku. "Holmes, apakah ini legal?" tanyaku. "Kuharap begitu, Watson." kata Holmes. Lalu dia mendobrak pintu rumah itu.
BRAAK!!!
Aku kaget. "Holmes.. Ini ruangan tempat aku ditembaki!" kataku. Ruangan itu berantakan dan penuh bekas tembakan. "Ya, sama persis dengan ruang tamu rumahmu, bukan? Tapi mari kita lihat ke atas." kata Holmes.
Kami lalu naik ke lantai 2. Ada sebuah kamar. Kami akan membukanya ketika terdengar bunyi pelatuk ditarik dan seseorang berkata,
"Kau lebih baik tak
melakukannya, Sherlock..."
Jumat, 19 Oktober 2012
The Switched House - Pt. 1 (English)
A cloudy day when I hear the door bell rings. "Mary, open the door!" I said. But I realize, Mary's gone. So there's the bell ring again. I open the door.
I see a tall man, who's familiar for me. "Oh you, Holmes! How are you doing? Get in!" I said. "Well I'm doing great, Watson. You should see yourself, you look skinny. How much did you lose, 2 kilos?" Holmes asked while he sit in my living room.
I smiled. God why he's always right? "Let me guess; a case?" I asked. "Hm, no, but I.. Never mind." Holmes said. "What? You what, Holmes? Just tell me." I said.
Holmes take a long breath. "If you're convinience, come to the church tomorrow at 11 a.m." Holmes said. "What is it, Holmes?" I asked. "Just.. Just come, okay? It won't harm you." Holmes said.
"Okay, I'll come." I said. "Oh great!" Holmes said, "If you can, come earlier." Holmes said while he walk out my door.
I see a tall man, who's familiar for me. "Oh you, Holmes! How are you doing? Get in!" I said. "Well I'm doing great, Watson. You should see yourself, you look skinny. How much did you lose, 2 kilos?" Holmes asked while he sit in my living room.
I smiled. God why he's always right? "Let me guess; a case?" I asked. "Hm, no, but I.. Never mind." Holmes said. "What? You what, Holmes? Just tell me." I said.
Holmes take a long breath. "If you're convinience, come to the church tomorrow at 11 a.m." Holmes said. "What is it, Holmes?" I asked. "Just.. Just come, okay? It won't harm you." Holmes said.
"Okay, I'll come." I said. "Oh great!" Holmes said, "If you can, come earlier." Holmes said while he walk out my door.
TGIF!!! 19 Oktober 2012
Oke sperti biasa gw n kawan" lari pagi, dan ga tau knp gw lbh capek. Trs skip skip dan di kls gw nyanyi 'Stay' pake lirik nyan nyan. Pas mo OR, masa si naufal ma gian tidur hadep"an gt weh. Ew.
Trs kan OR trs skip skip skip masa fanfic gw diintip tanpa ijin sama org yg ga bertanggung jwb. Ya kesel gw. Buka di blog kek, pake internet bayar, dipikir bikin cerita itu ga ada seninya apa?
Trs sejarah kan si Fio gambar Michaelangelo-nya Kura-kura Ninja tapi mukanya forever alone.. Kocak bgt sumpah.
Trs kan gw di blkgnya Ersal, trs tiba" GABRUK si Ersal jatoh. Nangis doi. Berdarah woi.. Trs kan doi dilarikan ke UKS, abis gt sekelas jadi CSI, nyelidikin jatohnya Ersal..
Trs kan keputrian, ngehias kue dan jdnya bgs sih, cuman bgitu dimakan 1 jam kemudian lu koit dah gara" diabetes!! Itu tu ad coklat, permen, gula, permennya ad beberapa macem pulak.
Trs kan solat trs ekskul KIR daan ancur 2 eksperimen ga ad yg berhasil... Okay dat's my random Friday!
Trs kan OR trs skip skip skip masa fanfic gw diintip tanpa ijin sama org yg ga bertanggung jwb. Ya kesel gw. Buka di blog kek, pake internet bayar, dipikir bikin cerita itu ga ada seninya apa?
Trs sejarah kan si Fio gambar Michaelangelo-nya Kura-kura Ninja tapi mukanya forever alone.. Kocak bgt sumpah.
Trs kan gw di blkgnya Ersal, trs tiba" GABRUK si Ersal jatoh. Nangis doi. Berdarah woi.. Trs kan doi dilarikan ke UKS, abis gt sekelas jadi CSI, nyelidikin jatohnya Ersal..
Trs kan keputrian, ngehias kue dan jdnya bgs sih, cuman bgitu dimakan 1 jam kemudian lu koit dah gara" diabetes!! Itu tu ad coklat, permen, gula, permennya ad beberapa macem pulak.
Trs kan solat trs ekskul KIR daan ancur 2 eksperimen ga ad yg berhasil... Okay dat's my random Friday!
The Switched House - Pt. 8 (Indonesian)
Aku berjalan menuju rumah Holmes. "Oh kau, Watson!" kata Mrs. Hudson riang saat aku sampai di 221B Baker Street. "Holmes ada di atas." katanya. Lalu aku naik. Aku mengetuk pintunya. "Masuk." kata seseorang dari dalam.
"Watson!" kata Holmes saat aku masuk. Aku tercengang. Rapi sekali, pikirku. "Oh ya, Rachel yang merapikannya." kata Holmes sambil tertawa.
"Apakah dia ada disini?" tanyaku. "Tidak. Ada apa?" tanya Holmes balik. "Ada kasus." kataku. "Aku mendengarkan," kata Holmes sambil menyulut cerutunya.
Lalu aku mulai bercerita dari saat Holmes dan istrinya pulang hingga saat Lestrade meninggalkan rumahku.
"Wah, wah," kata Holmes, "Kasus yang menarik. Mari kita ke rumahmu". katanya lagi. Kami pun berjalan ke rumahku.
Saat sudah sampai di rumahku, Holmes langsung memeriksa keadaan rumahku. Lalu dia melihat ke bak cucian.
"Kau belum mencucinya, Watson?" tanyanya sambil mengangkat bekas gelas teh yang kusediakan saat Holmes dan istrinya berkunjung.
"Belum. Ada apa?" tanyaku. "Aku akan membawanya ke laboratorium. Bolehkah aku?" tanya Holmes.
"Tentu, apapun untuk penyelidikan." kataku. "Terima kasih, Watson. Temui aku besok pagi." kata Holmes sambil keluar dari rumahku.
"Watson!" kata Holmes saat aku masuk. Aku tercengang. Rapi sekali, pikirku. "Oh ya, Rachel yang merapikannya." kata Holmes sambil tertawa.
"Apakah dia ada disini?" tanyaku. "Tidak. Ada apa?" tanya Holmes balik. "Ada kasus." kataku. "Aku mendengarkan," kata Holmes sambil menyulut cerutunya.
Lalu aku mulai bercerita dari saat Holmes dan istrinya pulang hingga saat Lestrade meninggalkan rumahku.
"Wah, wah," kata Holmes, "Kasus yang menarik. Mari kita ke rumahmu". katanya lagi. Kami pun berjalan ke rumahku.
Saat sudah sampai di rumahku, Holmes langsung memeriksa keadaan rumahku. Lalu dia melihat ke bak cucian.
"Kau belum mencucinya, Watson?" tanyanya sambil mengangkat bekas gelas teh yang kusediakan saat Holmes dan istrinya berkunjung.
"Belum. Ada apa?" tanyaku. "Aku akan membawanya ke laboratorium. Bolehkah aku?" tanya Holmes.
"Tentu, apapun untuk penyelidikan." kataku. "Terima kasih, Watson. Temui aku besok pagi." kata Holmes sambil keluar dari rumahku.
Sabtu, 13 Oktober 2012
Pernikahan Sherlock Holmes - Pt. 7
"A.. Apa?" Tanyaku masih tidak percaya. "Watson, tolong jangan main-main denganku." kata Lestrade. "Ta.. Tapi.. Pintunya.." kataku terbata-bata. "Aku tidak tahu, Watson," kata Lestrade, "Tapi kasus ini akan kukerjakan nanti. Sampai jumpa, kawan." kata Lestrade.
"Bagus," pikirku, "'dikerjakan nanti' biasanya berarti 'tidak akan dikerjakan.'" Aku lalu masuk ke dalam rumahku. Aku tercengang. Benar yang dikatakan Lestrade, semuanya masih sangat, sangat rapi.
Aku lalu menghampiri laciku dan mencari pigura yang dengan izin Tuhan telah menyelamatkanku. Aku terkaget. Pigura itu hilang!
"Kalau Lestrade tidak mau menyelidikinya," gumamku, "Hanya ada satu orang yang mau."
"Bagus," pikirku, "'dikerjakan nanti' biasanya berarti 'tidak akan dikerjakan.'" Aku lalu masuk ke dalam rumahku. Aku tercengang. Benar yang dikatakan Lestrade, semuanya masih sangat, sangat rapi.
Aku lalu menghampiri laciku dan mencari pigura yang dengan izin Tuhan telah menyelamatkanku. Aku terkaget. Pigura itu hilang!
"Kalau Lestrade tidak mau menyelidikinya," gumamku, "Hanya ada satu orang yang mau."
Support Terbuka Untuk Ariq :)
Oh hi there. Hai juga Ariq. Welcome to my blog. Mungkin blog gw ga terlalu bagus, aah skip skip.
Aku baru aja denger tentang UHBT math kamu. Dan, gue turut menyesal. Gw gabisa blg gw ngerti perasaan lo karena itu boong, tapi at least gw tau rasanya dpt nilai jelek pdhl lo udh berusaha. Rasanya sakit bgt weh. Sebagai cewe yg kecowo-cowoan, it's ok klo lo nangis gr-gr ini. Karena yaa emg sakit bgt, gw tau.
Menurut gw kejadian itu ya termasuk unforced error (klo yg suka main tenis atw minimal suka nonton pertandingan tenis pasti tau), kesalahan yg nggak perlu yg pastinya bisa dihindari.
Ya disini gw mo blg lo emg salah, lo salah buletin. Tapi apa yg udh berlalu baiknya ga usah disesalin, lbh baik kedepannya diperbaikin aja.
Mungkin ini cara Tuhan untuk menguji atw menegur kamu. Yg menurut manusia bgs blm tentu baik di mata Tuhan. So cheer up, and fight back!
Sincerely your ex-classmate,
Lia
Aku baru aja denger tentang UHBT math kamu. Dan, gue turut menyesal. Gw gabisa blg gw ngerti perasaan lo karena itu boong, tapi at least gw tau rasanya dpt nilai jelek pdhl lo udh berusaha. Rasanya sakit bgt weh. Sebagai cewe yg kecowo-cowoan, it's ok klo lo nangis gr-gr ini. Karena yaa emg sakit bgt, gw tau.
Menurut gw kejadian itu ya termasuk unforced error (klo yg suka main tenis atw minimal suka nonton pertandingan tenis pasti tau), kesalahan yg nggak perlu yg pastinya bisa dihindari.
Ya disini gw mo blg lo emg salah, lo salah buletin. Tapi apa yg udh berlalu baiknya ga usah disesalin, lbh baik kedepannya diperbaikin aja.
Mungkin ini cara Tuhan untuk menguji atw menegur kamu. Yg menurut manusia bgs blm tentu baik di mata Tuhan. So cheer up, and fight back!
Sincerely your ex-classmate,
Lia
Pernikahan Sherlock Holmes - Pt. 6
Pagi harinya aku langsung melapor ke Scotland Yard. "Ada apa, Watson?" sapa Lestrade, yang kutemui di pintu masuk. Aku lalu menceritakan semuanya. Lestrade dan aku langsung meluncur ke TKP.
Lestrade meloncat dari kereta. Lalu Ia melihat pintu depanku yang berlubang dihantam peluru. "Wah, wah," kata Lestrade, "Sepertinya ini serius." Lalu kami masuk.
"Watson, kau pasti bercanda." kata Lestrade dengan nada agak kesal. "Yah, aku tidak bercanda, berantakan sekali, bukan?" kataku. Lalu Lestrade melihat kepadaku dan berkata,
"Semuanya masih rapi tak bercela!!"
Lestrade meloncat dari kereta. Lalu Ia melihat pintu depanku yang berlubang dihantam peluru. "Wah, wah," kata Lestrade, "Sepertinya ini serius." Lalu kami masuk.
"Watson, kau pasti bercanda." kata Lestrade dengan nada agak kesal. "Yah, aku tidak bercanda, berantakan sekali, bukan?" kataku. Lalu Lestrade melihat kepadaku dan berkata,
"Semuanya masih rapi tak bercela!!"
Minggu, 07 Oktober 2012
Pernikahan Sherlock Holmes - Pt. 5
Sudahlah. Aku mulai lelah. Aku pun tertidur. Untuk waktu yang lama, kurasa. Saat aku terbangun, aku menengok ke jam dinding yang tua, yang tertempel di dinding yang sudah lusuh pula. Oh, tengah malam, pikirku.
Aku membaca koran. Benar saja, berita pernikahan Sherlock Holmes sudah tersebar kemana-mana. Daily Post, Telegraph, penuh dengan berita mengejutkan ini.
Aku terdiam sesaat, memikirkan ejekan Holmes pada wanita. "Karma," gumamku sambil tersenyum. Lalu aku membersihkan segala perabotanku.
Tidak terasa satu jam sudah aku membersihkan rumah. Bel rumahku berbunyi. Aku mendiamkannya, biasanya itu adalah anak jalanan yang iseng.
Bel berbunyi lagi. Dan lagi. Dan lagi. "Apa yang kau inginkan, bocah gila!" teriakku sambil menuju pintu dan membawa sebuah pigura di depan dadaku.
DUAR! Suara pistol meletus terdengar saat aku berdiri tepat di depan pintu rumahku. Aku lalu memeriksa tubuhku. Ya Tuhan, untung saja aku membawa pigura ini! Kalau tidak, peluru dari letusan tersebut akan bersarang tepat di jantungku.
Saat aku berusaha mengeluarkan peluru dari pigura, rumahku tiba-tiba digempur tembakan. Aku bersembunyi di bawah meja. Kira-kira selama 5 menit, suasana mencekam itu menggerogoti batinku.
Lalu terjadi kesunyian yang menakutkan. Aku bangkit, mengambil revolver kesayanganku dari dalam laci meja kerjaku. Lalu aku mendekati pintu dengan perlahan. Hatiku berpacu. Lalu aku membukanya dan langsung mengacungkan pistol.
Tidak ada siapa-siapa. Tetangga pun masih terlelap. Saat aku hendak menutupnya kembali, aku menemukan secarik kertas di lantai terasku.
DOR!
Letusan selanjutnya akan terjadi pada Sherlock!
"Apa.." gumamku, "Apa-apaan???"
Aku membaca koran. Benar saja, berita pernikahan Sherlock Holmes sudah tersebar kemana-mana. Daily Post, Telegraph, penuh dengan berita mengejutkan ini.
Aku terdiam sesaat, memikirkan ejekan Holmes pada wanita. "Karma," gumamku sambil tersenyum. Lalu aku membersihkan segala perabotanku.
Tidak terasa satu jam sudah aku membersihkan rumah. Bel rumahku berbunyi. Aku mendiamkannya, biasanya itu adalah anak jalanan yang iseng.
Bel berbunyi lagi. Dan lagi. Dan lagi. "Apa yang kau inginkan, bocah gila!" teriakku sambil menuju pintu dan membawa sebuah pigura di depan dadaku.
DUAR! Suara pistol meletus terdengar saat aku berdiri tepat di depan pintu rumahku. Aku lalu memeriksa tubuhku. Ya Tuhan, untung saja aku membawa pigura ini! Kalau tidak, peluru dari letusan tersebut akan bersarang tepat di jantungku.
Saat aku berusaha mengeluarkan peluru dari pigura, rumahku tiba-tiba digempur tembakan. Aku bersembunyi di bawah meja. Kira-kira selama 5 menit, suasana mencekam itu menggerogoti batinku.
Lalu terjadi kesunyian yang menakutkan. Aku bangkit, mengambil revolver kesayanganku dari dalam laci meja kerjaku. Lalu aku mendekati pintu dengan perlahan. Hatiku berpacu. Lalu aku membukanya dan langsung mengacungkan pistol.
Tidak ada siapa-siapa. Tetangga pun masih terlelap. Saat aku hendak menutupnya kembali, aku menemukan secarik kertas di lantai terasku.
DOR!
Letusan selanjutnya akan terjadi pada Sherlock!
"Apa.." gumamku, "Apa-apaan???"
Quotes of The Week
Halo! Gue sebelumnya mo minta maaf nih soal fanfic yg gue buat, pasti ada yg gak suka. Ya sekali-kali kek kita bikin fanfic yang ngagetin..
Oke jadi kan kmaren gue udh janji mo nulis tentang hari senin dan selasa yaa, nah waktunya kepepet nih, gue rangkum dalam quotes aja ya..
"Lemah." -Athif
"'Lo tau dari mana?' 'Dari Dia. *nunjuk ke atas*' 'Siapa?' 'ALLAH.' *mati*" -Percakapan absurd antara Gian dan Athif
"Saya bukan guru PPKn..." -Bu Nina
"Semua manusia pada akhirnya pasti akan mager." -Lia
"Bereskan!" -Pak Ukim
"WHAT THE FFFFFFFF...." -Waktu dipanggil ujian KJ
Cerita dibalik quotes-nya minggu depan ya.. Gue lagi sibuk nulis fanfic soalnya :)
Oke jadi kan kmaren gue udh janji mo nulis tentang hari senin dan selasa yaa, nah waktunya kepepet nih, gue rangkum dalam quotes aja ya..
"Lemah." -Athif
"'Lo tau dari mana?' 'Dari Dia. *nunjuk ke atas*' 'Siapa?' 'ALLAH.' *mati*" -Percakapan absurd antara Gian dan Athif
"Saya bukan guru PPKn..." -Bu Nina
"Semua manusia pada akhirnya pasti akan mager." -Lia
"Bereskan!" -Pak Ukim
"WHAT THE FFFFFFFF...." -Waktu dipanggil ujian KJ
Cerita dibalik quotes-nya minggu depan ya.. Gue lagi sibuk nulis fanfic soalnya :)
Sabtu, 06 Oktober 2012
Pernikahan Sherlock Holmes - Pt. 4
Aku sudah sampai di rumah. Pikiranku berkecamuk, entah kenapa. "Ayolah, Holmes hanyalah sahabatmu! Kau bisa hidup tanpa dia!" teriak akal sehatku. Namun hatiku tak mau menurut.
Tak terasa, matahari sudah terbit kembali. "Oh, apakah aku tidur semalam?" gumamku pada diriku sendiri. Aku pun teringat akan Holmes. Dia akan datang pagi ini, pikirku. Lalu aku bersiap dan mengenakan jas terbaikku.
Bel berbunyi. Oh, segalanya berjalan begitu cepat, pikirku. Aku terdiam. Mr. dan Mrs. Holmes berdiri tepat di balik kayu setebal 3 sentimeter ini. Apakah aku siap?
Bel kembali berbunyi. Oh, tentu saja aku siap. Aku harus siap. Aku membukakan pintu. "Hallo, Watson! Belakangan ini aku harus membunyikan bel 2 kali, bukan?" sapa Holmes dengan selera humornya. Di sebelahnya berdiri seorang wanita cantik dan berkulit putih, tanda orang yang bekerja dalam ruangan.
Ya, hadapi itu Watson, dialah Rachel Holmes, pikirku lagi-lagi. "Jadi andalah John Watson? Saya sering mendengar tentang anda." kata Mrs. Holmes dengan sopan. "Ya, terima kasih. Oh, silakan masuk!" kataku.
"Wah, sepertinya London bertambah sehat bukan, Watson? Kulihat praktekmu sepi." kata Holmes. "Oh ya, senang mendengarnya." kataku. "Yah, aku tahu kau pasti mempertanyakan keputusan krusialku untuk menikah," kata Holmes,
"Aku sadar, wanita tidaklah buruk. Mereka baik, jika kau memperlakukan mereka dengan baik pula." kata Holmes. "Oh, begitu rupanya." kataku. "Aku merasa kesal saat kau menikah, jadi kupikir ini pembalasan!" kata Holmes sambil tertawa kecil. Mrs. Holmes tersenyum. Wanita ini tidak banyak bicara, pikirku.
Setelah bincang-bincang yang tidak penting, tamuku keluar. Sepertinya aku harus mencoba obat antidepresan Holmes, pikirku, Kokain.
Tak terasa, matahari sudah terbit kembali. "Oh, apakah aku tidur semalam?" gumamku pada diriku sendiri. Aku pun teringat akan Holmes. Dia akan datang pagi ini, pikirku. Lalu aku bersiap dan mengenakan jas terbaikku.
Bel berbunyi. Oh, segalanya berjalan begitu cepat, pikirku. Aku terdiam. Mr. dan Mrs. Holmes berdiri tepat di balik kayu setebal 3 sentimeter ini. Apakah aku siap?
Bel kembali berbunyi. Oh, tentu saja aku siap. Aku harus siap. Aku membukakan pintu. "Hallo, Watson! Belakangan ini aku harus membunyikan bel 2 kali, bukan?" sapa Holmes dengan selera humornya. Di sebelahnya berdiri seorang wanita cantik dan berkulit putih, tanda orang yang bekerja dalam ruangan.
Ya, hadapi itu Watson, dialah Rachel Holmes, pikirku lagi-lagi. "Jadi andalah John Watson? Saya sering mendengar tentang anda." kata Mrs. Holmes dengan sopan. "Ya, terima kasih. Oh, silakan masuk!" kataku.
"Wah, sepertinya London bertambah sehat bukan, Watson? Kulihat praktekmu sepi." kata Holmes. "Oh ya, senang mendengarnya." kataku. "Yah, aku tahu kau pasti mempertanyakan keputusan krusialku untuk menikah," kata Holmes,
"Aku sadar, wanita tidaklah buruk. Mereka baik, jika kau memperlakukan mereka dengan baik pula." kata Holmes. "Oh, begitu rupanya." kataku. "Aku merasa kesal saat kau menikah, jadi kupikir ini pembalasan!" kata Holmes sambil tertawa kecil. Mrs. Holmes tersenyum. Wanita ini tidak banyak bicara, pikirku.
Setelah bincang-bincang yang tidak penting, tamuku keluar. Sepertinya aku harus mencoba obat antidepresan Holmes, pikirku, Kokain.
Langganan:
Komentar (Atom)
