Halaman

Kamis, 15 November 2012

The Algebraic Murder - Pt. 2

Aku mendapat banyak pasien hari ini. Pada pukul 6 sore aku sampai di depan 221B Baker Street. Holmes sudah menungguku. Ia kelihatan lebih segar. Bagus, pikirku.
Lalu kami masuk dalam kereta. Kami hanya terdiam hingga kami mencapai daerah Pall Mall. Mycroft ternyata sudah menunggu kami.
"Maaf aku tidak dapat hadir di hari pernikahanmu dan pemakaman istrimu." kata Mycroft dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa," kata Holmes. "Bantuan macam apa yang kau butuhkan?" tanya Holmes. "Sebuah kasus, dari temanku yang bekerja di pemerintahan Jerman." kata Mycroft sambil membimbing kami ke ruang kerjanya.
Ketika sampai di ruang kerja Mycroft, kami melihat seorang wanita muda, mungkin akhir 20an, sedang mondar-mandir dengan cemas di depan meja kerja Mycroft. Ia berpakaian seperti lelaki terhormat; mengenakan kemeja putih, celana cokelat, dan but hitam.
"Silakan duduk," kata Mycroft. Lalu wanita itu duduk, tetap dengan mengetukkan jarinya ke tangan kursi.
"Sherlock, perkenalkan, Miss Viviana Hoffman. Miss Hoffman, ini Sherlock Holmes dan Dr. John Watson." kata Mycroft memperkenalkan kami bertiga.
"Birmingham memang tidak terlalu padat seperti London. Anda suka kota yang seperti itu ya?" kata Holmes sambil menyalami Hoffman.
Hoffman terkejut. "Bagaimana caranya kau..." kata Hoffman bingung, lalu Ia menatap marah pada Mycroft.
"Miss Hoffman, saya harap anda paham akan pekerjaan adik saya; dia seorang detektif, hampir tak ada yang luput dari matanya." kata Mycroft.
"Yah, dia benar, ada tiga titik lumpur di but anda, menandakan anda melewati tempat yang baru saja dilanda hujan. Satu-satunya tempat yang baru saja dilanda hujan di sekitar London adalah Birmingham." jelas Holmes.
Viviana Hoffman tenang kembali. "Langsung saja Mr. Holmes," katanya, "Aku bekerja sampingan sebagai violinist di sebuah orkestra teater di Berlin. Hanya sebagai hobi, itu saja. Konduktorku, Abellard Schwesser, jatuh cinta padaku. Begitu pula diriku jatuh cinta padanya. Pada malam Rabu, kami memutuskan untuk pergi berkencan."
"Kami sudah sepakat bertemu di sebuah restoran pada pukul delapan. Pukul 8.15, ia tidak datang. 8.30, kukira macet yang parah. 8.45, kupikir dia sudah keterlaluan. Aku pun pergi ke rumahnya."
"Saat aku sampai di rumahnya, aku mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Aku ketuk lebih keras. Masih hening. Aku semakin marah. Aku pun menggedor pintu itu. Ternyata dengan sedikit dorongan, pintu itu dapat terbuka."
Holmes menahan cekikikan, sementara pipi Hoffman memerah menahan malu.
"Apa yang kulihat selanjutnya sungguh mengerikan. Abellard... Maksudku, Mr. Schwesser, terbaring di lantai, Ia ditusuk dari belakang; sebilah pisau dapur masih tertancap di punggungnya, kemeja putih yang ia kenakan berubah merah bersimbah darah. Ia sudah tiada. Ia menggenggam erat secarik kertas. Kertas itu berisi soal aljabar; ada tiga soal, jawabannya berturut-turut adalah 13;15; dan 18." jelas Miss Hoffman.
Holmes mencatat angka-angka itu di buku sakunya. "Sudahkah anda melaporkan kejadian ini kepada kepolisian Jerman?" tanya Holmes.
"Tentu sudah. Kertas berisi soal itu ada di tangan kepolisian Jerman." jawab Miss Hoffman.
Kami lalu terdiam sesaat. "Adakah.." kata Mycroft terputus oleh ketukan pintu. "Masuk!" kata Mycroft.
Lalu Inspektur Hopkins masuk. "Senang bertemu denganmu, Hopkins. Apa yang kau lakukan disini? Kau ingin mengurus keanggotaan Diogenes Club?" tanya Mycroft.
"Tidak. Saya disini untuk menangkap Miss Viviana Hoffman atas nama kepolisian Jerman." jawab Hopkins dingin.
Holmes mengangkat alisnya. "Tapi, Hopkins, dia hanyalah seorang saksi! Tidak mungkin Ia membunuh! Bagaimana dengan alibinya? Ia di restoran saat pembunuhan terjadi!" kataku.
"Hanya membutuhkan kurang dari 10 menit untuk membunuh seseorang. Sementara soal aljabar itu bisa dipersiapkan dari awal. Selebihnya bukti-bukti mengacu pada Miss Hoffman. Viviana Hoffman, anda ditahan atas pembunuhan Abellard Schwesser. Selamat malam, Mr. Holmes; keduanya, dan Dr. Watson." kata Hopkins sambil memborgol Miss Hoffman dan keluar dari ruangan.
Kami terdiam selama beberapa saat, dan akhirnya Holmes menghisap cerutunya, menatapku lekat-lekat dan angkat bicara;
"Tujuan kita selanjutnya, Jerman."
-------------------------------------------
Hai! Maaf ya karena disini ada dua Holmes, jadi gue bilang Mycroft itu Mycroft, Sherlock itu Holmes, soalnya kok kalo dibilang Sherlock jadi awkward gitu ya .-. Oke that's it from me, leave a review please ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar