Halaman

Minggu, 25 November 2012

The Algebraic Murder - Pt. 7

Keesokan paginya, kami berkumpul di depan markas kepolisian Jerman. Kami menuju rumah Heinrich Dressler. Aku masih terpukul karena kematian Elizaveta. "Cepat atau lambat kau harus melupakan dia, wanita di dunia ini bukanlah dia seorang." bisik Ludwig padaku di kereta. Aku mengangguk.
-:::::::::::::::::::-
"Ada satu hal," kata Holmes, "Aku tidak menemukan nama Heinrich Dressler di buku telepon Jerman." Lalu Hoffman berpikir. "Mungkin buku yang kau baca sudah kadaluwarsa?" tanya Hoffman. "Tidak, aku benar-benar sudah membaca sampulnya; bertuliskan "Edisi 1887"." jawab Holmes. Hoffman berpikir lagi. Lalu Ia seperti menyadari sesuatu. "Oh, sebelumnya maaf tuan-tuan, yang kuberikan kepada kalian adalah nama panggung, nama aslinya adalah Roderich Edelstein." kata Hoffman. "Tidak perlu khawatir, alamat yang kuberikan masih berlaku, sais." teriak Hoffman pada sais. "Syukurlah, Nona Hoffman." balas sais.
Kami lalu sampai di tempat yang dituju. Bukan rumah yang besar, namun terlihat berkelas. Hoffman menekan bel pintu rumah itu. Keluarlah seorang wanita tua yang sepertinya adalah pembantu di rumah itu.
"Siapa yang anda cari?" tanya wanita itu. "Kami mencari Roderich Edelstein." jawab Hoffman. Wanita itu lalu mengangkat alisnya. "Siapa yang ingin kau temui," tanya wanita itu lagi, "Roderich Edelstein atau Heinrich Dressler?" Holmes, yang sangat membenci omong kosong; lalu angkat bicara, "Masa bodoh dengan yang kami cari. Mana tuanmu?"
Tersentak oleh Holmes, wanita itu kembali masuk. "Bagus sekali, Holmes." kataku. Lalu keluar seorang lelaki muda; kira-kira beberapa tahun lebih muda daripada Hoffman. "Selamat pagi, maafkan pembantuku itu. Sudah lama sekali sejak rumah ini didatangi tamu. Nama saya Roderich Edelstein. Oh Miss Hoffman! Silakan masuk! Anda semua juga, ayo masuk!" kata pria itu penuh semangat.
Kami pun dipersilakan duduk. "Ini adalah Mr. Sherlock Holmes, dan ini Dr. John Watson. Mr. Holmes, Dr. Watson, ini adalah Roderich Edelstein." kata Hoffman memperkenalkan kami bertiga. "Mr. Edelstein, ini adalah Ludwig Beilschmidt, Gilbert Beilschmidt, Antonio Carriedo, dan Francis Bonnefoy." kata Holmes. Lalu mereka bersalaman. "Apa yang bisa kubantu?" tanya Edelstein. "Tolong analisa tulisan ini," kata Hoffman sambil menyerahkan secarik kertas. Edelstein menelitinya dengan kaca pembesar. "Kuat, pemberani, tapi tidak terlalu berpendidikan." katanya sambil masih meneliti tulisan itu. "Berlawanan sekali denganmu ya.." kata Hoffman. Lalu Edelstein dan Hoffman tertawa.
"Memangnya ada apa sampai kalian meminta bantuanku?" tanya Edelstein. Hoffman lalu terlihat bingung. Ingin diam, takut penasaran, ingin bicara, takut sakit hati. Namun tampaknya Ia memutuskan untuk bicara. Ia lalu menggenggam tangan Edelstein erat dan berkata, "Schwesser dan Hedervary dibunuh."
Edelstein terdiam. Ia lalu duduk dan melepas kacamatanya. "Saat usiaku 5 tahun, aku bergabung dengan orkestra. Orang-orang dewasa acuh padaku. Lalu aku bertemu dengan Schwesser yang saat itu berusia 13 tahun. Ia menjadi guruku dalam banyak hal, terutama musik. Lalu tiga tahun kemudian Hedervary dan Hoffman bergabung pada usia yang sama; 12 tahun. Dengan ajaran tiga orang itu, aku menjadi virtuoso pada usia 11 tahun. Lalu aku keluar dari orkestra. Karena kemampuanku, beberapa bulan kemudian aku diterima di sebuah universitas. Aku meraih gelar pascasarjana pada usia 13 tahun dan menjadi profesor pada usia 17 tahun. Lalu aku pun mengajar disana sampai sekarang." kata Edelstein. Tenggorokannya tercekat karena duka yang dalam. "Bagaimana bisa..." tanya Gilbert takjub. "Ia seorang jenius." jawab Hoffman. "Tidak, Tuhan hanya memberiku kecerdasan tambahan," kata Edelstein merendah.
"Jadi begitu." kata Holmes. "Baiklah, terimakasih atas kerjasama anda. Selamat siang, Tuan Edelstein." kata Holmes. Lalu kami keluar, dan kami menuju rumah Beilschmidt bersaudara.
"Ada apa antara kau dan Hedervary?" tanya Holmes pada Gilbert tiba-tiba di kereta. Gilbert tersenyum. "Aku dan dia dulu sahabat, lalu aku.. menyukainya." kata Gilbert. Holmes terdiam. "Kau harus menepati janji ini; kau harus bertindak objektif. Kau tidak boleh membunuh siapapun." kata Holmes.
Gilbert terdiam. Lalu ia mengangguk.
Kami sampai di rumah Beilschmidt bersaudara. Kami disuguhi teh. "Omong-omong," kata Holmes, "kau bilang kakakku pernah membantumu. Memang bantuan macam apa yang pernah ia berikan?" Lalu Ludwig tersenyum. "Kau lupa padaku, Sherlock? Aku Ludwig. Mycroft menemukanku ketika aku hampir mati di jalanan Jerman. Lalu ayahmu, Siger Holmes, memungutku. Aku berkenalan denganmu dan Mycroft. Pada usia 10 tahun aku bertemu dengan Gilbert dan pergi dari keluarga Holmes." jelas Ludwig.
"Oh, jadi kau Ludwig! Senang dapat bertemu denganmu lagi." kata Holmes senang. Lalu mereka memeriksa kenalan Schwesser dan Hedervary.
"Yah, sepertinya cukup sampai di sini. Hari sudah mulai petang. Kita akan mulai besok. Selamat sore." kata Ludwig.
Aku, Holmes, dan Hoffman memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak. Kami berhenti di sebuah kafe. "Maafkan aku, tapi.. kukira masa laluku tidak begitu penting." kata Hoffman.
"Yah, kami memang membutuhkan detail, Nona, tapi apa yang sudah berlalu biarlah berlalu." kata Holmes. Tiba-tiba aku merasa ingin ke kamar mandi. "Permisi sebentar," kataku sambil berlalu.
-:::::::::::::::-
Aku duduk di depan Holmes. Sorot matanya nampak cocok dengan cuaca di luar; dingin menusuk. "Kau selalu seperti itu ya pada wanita." kataku dengan nada mengejek. Ia pun tersenyum mengejek.
Tiba-tiba aku teringat pada Schwesser. Ah, Schwesser. Gara-gara aku. Iya, gara-gara aku seorang psikopat. Kau yang harus memikul akibatnya. Ah, karma memang jahat.
Satu butir. Tiga butir. Empat butir. Air mata membasahi gaunku. Aku memang wanita rendah!
Bayanganku tentang Schwesser buyar ketika aku melihat sebuah saputangan putih diulurkan padaku. Aku menatap Holmes. Tatapannya tetap menusuk. Hanya saja terasa lebih hangat. Aku mengerti apa yang kau rasakan, begitu pesan yang kutangkap dari sorot mata Holmes.
Aku lalu mengambil saputangan itu dari tangannya. "Terimakasih." ujarku singkat. Ia hanya mengangguk.
Sialan! Aku malah semakin ingin menangis! Aku menegakkan kepalaku yang tadinya menunduk. Holmes sudah tiada di sana.
Air mataku tumpah ruah. Tak pernah aku menangis seperti ini dalam hidupku. "Apakah kau percaya, Tuan Holmes?" tanyaku, "Apakah kau percaya pada cinta?"
Terjadi keheningan. Dia memang tidak ada di sini, pikirku.
"Sepertinya tidak." jawab seseorang. Ia adalah Tuan Holmes, yang sekarang duduk di sampingku. "Aku tidak percaya pada cinta. Ya."
"Lalu ada apa dengan istrimu?" tanyaku. Ia tertawa. "Manusia membuat kesalahan, Nona Hoffman." katanya, "Dari sana muncullah sebuah keputusan, yang akhirnya membuat sebuah rangkaian kejadian yang disebut hidup."
-:::::::::::::::-
Aku sudah merasa lelah. Atas segala yang kulewati hari ini, aku lelah. Aku hampir tertidur ketika kudengar suara 'klik' dari kamar sebelah, yaitu kamar Carriedo dan Bonnefoy. Aku pun menghampiri mereka.
Aku mengetuk pintu kamar. Tiada jawaban. Kuketuk lebih keras. Masih tetap hening. Lalu kubuka pintu itu. Pintu itu tidak terkunci.
Aku terperanjat.
"Ludwig! Ludwig!" spontan aku berteriak.
"Carriedo dan Bonnefoy menghilang!"
------------------------------------------------
Oh halo! Maaf ini lama banget -.- disini ada tiga sudut pandang, Watson, Gilbert, sama Hoffman. Hoffman itu yang pas di kafe itu lho.

Sabtu, 17 November 2012

The Algebraic Murder - Pt. 6

"Kau sudah gila? Kau sudah gila, Holmes?" tanyaku. "Tidak.. Lihat ini;" katanya sambil menulis sesuatu di secarik kertas dan memberikannya padaku. "Baca keras-keras, Watson." katanya lagi.

13: M
15: O
18: R
15: O
14: N
Moron! (Bodoh!)

"Moron?" tanyaku, "Jadi ini adalah urutan alfabet?" "Ya, semudah itu, Watson. Kita memang dijebak." katanya. "Jadi, kita memulai dari awal lagi?" tanya Gilbert terdengar putus asa. "Dengan penyesalan kukatakan, ya, Tuan Beilschmidt. Kita harus memeriksa silang kenalan mereka yang tidak memiliki alibi." kata Holmes.
Hoffman hanya terdiam. Ada sesuatu yang janggal dengan keterdiamannya. "Ada apa Hoffman?" tanyaku.
"Aku kenal seseorang," kata Hoffman kemudian, "Seorang pianis yang brilian. Ia dahulu adalah anggota orkestra teater, namun karena... Aku juga tidak tahu pasti alasannya, ia keluar dari orkestra. Sekarang ia adalah peneliti tulisan manusia. Namanya adalah Heinrich Dressler. Kupikir ia bisa membantu kita dalam penyelidikan kasus ini."
"Pekerjaan yang aneh." kata Ludwig. "Baiklah, sekarang sudah tengah malam. Sepertinya lebih baik kita beristirahat." kata Deidrich. Kami pun kembali ke penginapan.
----------------------------------------------------------
Hai! Itu ya, penyelesaian kodenya! ^^

Jumat, 16 November 2012

The Algebraic Murder - Pt. 5

"Jadi, itulah mengapa kau dibebaskan?" tanyaku dalam perjalanan. Hoffman mengangguk. Ia ingin angkat bicara, namun kata-katanya tersangkut di tenggorokan.
"Kami sudah tahu. Jadi itu sebabnya koran-koran hanya menyebut julukan." kata Holmes seolah dapat membaca isi pikiran Hoffman.
"Benar," kata Hoffman, "mereka tahu aku beraksi sendiri, jadi begitu menemukan mayat baru, mereka langsung membebaskanku dan memintaku untuk menghubungi kalian. Mycroft Holmes memberitahu dimana kalian menginap, lalu kau tahu sendiri apa yang terjadi selanjutnya." Lalu semua diam hingga kami mencapai gedung kepolisian Jerman.
Bukan bangunan yang besar, namun sangat berprestasi. Bahkan kudengar setara dengan Scotland Yard.
"Selamat datang, Mr. Holmes, Dr. Watson," kata seorang pria yang pendek, gempal, namun kekar, "dan tentu saja, Miss Hoffman." katanya sambil mencium tangan Hoffman sebagai tanda penghormatan.
"Nama saya Marcus Deidrich, Detektif Inspektur di sini. Oh tentu, silakan masuk!" kata Deidrich riang. Mirip Lestrade, tapi jauh lebih periang, pikirku.
Kami masuk ke suatu ruangan. Disana kami melihat Beilschmidt bersaudara, Carriedo, dan Bonnefoy. Gilbert terlihat.. Entahlah. Antara lelah dan stres.
-::::::::::::::::-
Mengapa? Mengapa harus dia? Bahkan aku rela menjual nyawaku kepada iblis yang paling kejam demi menyelamatkan nyawanya.
Ludwig menyikut tulang rusukku. "Fokus," bisiknya. "Kami menemukan mayat lagi. Namanya adalah.." kata Deidrich sambil membuka laporannya. Tolong, jangan sebut nama itu, demi Tuhan... "... Elizaveta Hedervary." Hancur sudah. Hatiku remuk. Benar dia, benar dia yang mati. "Gilbert kau tak apa?" tanya Holmes. "Aku lihat tanganmu gemetaran." katanya lagi. "Tidak, tidak apa-apa. Silakan lanjutkan, Deidrich." jawabku.
"Ada beberapa kesamaan dengan Mr. Schwesser; Pisau yang menancap di punggung, mereka sama-sama anggota orkestra teater, dan si pembunuh meninggalkan petunjuk yaitu soal aljabar, tapi kali ini hanya ada dua. Jawabannya adalah... 15 dan 14." kata Deidrich.
Holmes lalu mengambil buku sakunya dan menulis angka itu disamping tiga angka yang ia peroleh sebelumnya.
"Jadi, 13; 15; 18; 15; dan 14." kata Holmes. Lalu Ia mengutak-atik angka itu selama kira-kira 3 menit. Ia lalu tersenyum. Senyumnya semakin lebar. Tanpa diduga, tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak. Sangat kencang tertawanya hingga terdengar ke ruangan sebelah. "Holmes! Holmes!! Sherlock Holmes kau dengarkan aku!!! Kau sudah gila??!!!" tanya Watson panik.
Tawa Holmes berangsur-angsur mereda. Lalu Ia berkata, "Tuan-tuan, masa bodoh dengan angka-angka itu."
"Kita dijebak!"
-------------------------------------
Ini gampang banget kodenya... Solve it guys!

The Algebraic Murder - Pt. 4

"A.. Apa?" tanyaku tak percaya. "Mycroft tidak memberitahukan pada kami tentang itu." kata Holmes, dengan suara tenang yang menurutku tak manusiawi dalam saat seperti ini.
"Itu adalah masalah pemerintahan yang sangat dalam; seorang anggota kepemerintahan yang juga seorang psikopat adalah aib yang sangat besar bagi Jerman. Jika anda ingin mulai sekarang," kata Ludwig mempersilakan Holmes memulai menceritakan kasus.

"... Begitulah." kata Holmes mengakhiri kisahnya yang lebih terdengar seperti kuliah dari seorang profesor.
"Begitu. Yah, hari sudah mulai malam, Mr. Holmes, sudah waktunya anda beristirahat. Selamat malam." kata Gilbert. Lalu aku dan Holmes mengangkat topi dan keluar dari rumah itu.
Di perjalanan, kami terdiam. "Aku heran," kataku memecah keheningan, "Bagaimana Schwesser bisa jatuh cinta pada seorang psikopat?" Holmes terdiam. "Cinta itu buta, Watson. Ia baru akan melihat ketika cintanya berkhianat." kata Holmes sambil menerawang ke luar jendela, mungkin ke Pemakaman Umum London, tempat arwah istrinya bersemayam.
Ketika sampai di hotel, kami disambut oleh seorang wanita bergaun rumahan berwarna ungu dengan korset longgar.

"Viviana Hoffman?"

Wanita itu tersenyum. "Senang bertemu anda kembali, Miss Hoffman. Bagaimana polisi membebaskan anda?" tanya Holmes.
Hoffman tersenyum dan menjawab, "Ceritanya panjang. Tapi kepolisian Jerman sudah menunggu anda sekarang. Mereka menemukan mayat lagi."
-------------------------------------
Ola! Baru sadar kalo namanya Francis itu Bonnefoy, bukan Bonnevoy.. Forgive me T^T

Kamis, 15 November 2012

The Algebraic Murder - Pt. 3

Aku melangkah ke kamar Ludwig. Ia sedang berdiam, duduk disana. "Ludwig," kataku, "Ada sebuah telegram untuk kita, pengirimnya adalah..." kataku sambil membaca telegram itu, "...Mycroft Holmes. Kau mengenalnya?"
Ludwig lalu mengangkat alisnya dan menerima telegram itu. "Ya, Mycroft Holmes," katanya menelusuri, "Seorang teman dari pemerintahan Inggris. Dia sudah banyak membantu Kirkland dan aku. Sudah saatnya aku membalas budi." lalu Ia membaca telegram itu keras-keras,

Kepada Yang Terhormat
Beilschmidt Bersaudara
Adikku, Sherlock Holmes, dan asistennya, Dr. John Watson, akan datang padamu untuk menyelesaikan suatu kasus. Mungkin ia akan tiba sore hari. Ia akan membutuhkan bantuanmu dan kawan-kawanmu. Atas bantuannya saya ucapkan terima kasih.
-Mycroft Holmes

"Hah! Dia adalah kakak dari Sherlock Holmes, detektif terkenal itu?" tanyaku takjub.
"Ya, dan sekarang sudah sore, mungkin kita akan minum teh bersama mereka. Aku harus menyiapkan hidangan minum teh." kata Ludwig sambil beranjak ke dapur.
"Perlukah aku mengajak Carriedo dan Bonnevoy?" tanyaku. Mereka adalah pria-pria hebat yang dapat diandalkan.
Ludwig terdiam. "Akan sangat membantu." katanya kemudian.
-:::::::::::-
Aku dan Holmes tiba di Stasiun Berlin Hauptbahnhof pada pukul 4 sore. "Watson, sekarang kita akan ke penginapan. Setelah itu kita akan singgah ke alamat ini. Mycroft berkata mereka bisa dipercaya." kata Holmes sambil menyerahkan secarik kertas kepadaku.

18A Verdamont Street, Berlin
Beilschmidt Bersaudara
-::::::::::-
Aku bosan, perapian sudah menyala. Cerutu sudah di depan mata. Ah, tinggal koran yang belum, pikirku.
Aku lalu membaca berita utama. Aku terkejut.

TERJADI PEMBUNUHAN
SEORANG KONDUKTOR ORKESTRA TERKENAL DITEMUKAN TIDAK BERNYAWA
SI PEMBUNUH ALJABAR BERAKSI LAGI

Aku lalu teringat tiga tahun yang lalu. Seorang wanita psikopat yang brutal namun berpendidikan tinggi membunuh tiga orang pria berkekuatan dua kali dirinya. Karena kepercayadiriannya, atau lebih tepat jika dikatakan, kecongkakannya, meninggalkan petunjuk berupa soal aljabar. Polisi berhasil menemukannya. Memoriku tentang nama sang pelaku hampir terpanggil ketika seseorang membunyikan bel pintu rumah.
"Sebentar," kataku sambil berjalan menuju pintu. Aku lalu membuka pintunya. "Dengan Mr. Beilschmidt?" tanya seorang pria berpostur tinggi kekar dan berwajah tirus dengan rambut hitam yang acak-acakan.
"Gilbert Beilschmidt. Dan anda..?" tanyaku. "Sherlock Holmes. Dan ini kawan saya, Dr. John Watson." kata Holmes sambil memperkenalkan pria pirang yang berpostur lebih pendek namun sama kekarnya.
"Mr. Sherlock Holmes!" kataku sambil menyalami tangan yang diluar dugaanku, sangat berotot. "Bagaimana perjalanan anda? Oh, silakan masuk!" sambutku hangat.
"Sangat menyenangkan, Mr. Beilschmidt, terima kasih." jawab si pria pirang.
-:::::::::::-
Kami masuk ke dalam rumah itu. Holmes melihat-lihat koran yang tergeletak di meja ruang tamu. Ia memang bisa berbahasa Jerman selancar bahasa Inggrisnya.
"Wah, wah.." kata Holmes, "sepertinya kasus ini sudah menyebar kemana-mana, Watson."
Lalu datanglah pria berambut pirang membawakan sebuah nampan berisikan jamuan minum teh.
"Ludwig, ini tamu kita, Sherlock Holmes dan Dr. John Watson." kata Gilbert kepada pria itu.
"Oh Mr. Holmes, kakak anda meminta bantuan kami. Beliau sudah banyak membantu saya. Kini giliran saya yang membalasnya." kata Ludwig.
"Baiklah, jadi..." kata Gilbert terputus oleh suara bel pintu. Lalu Ia membukakan pintu itu. Terlihat dua pria tinggi, yang satu pirang dan yang satu berambut hitam. Si rambut hitam terlihat jelas hispanik.
"Perkenalkan, ini adalah Antonio Carriedo, Spanyol, dan ini adalah Francis Bonnevoy, Prancis. Ini Sherlock Holmes dan asistennya Dr. John Watson." kata Gilbert. Kami lalu saling menyalami satu sama lain.
"Jadi, coba ceritakan kasus itu pada kami." kata Ludwig. "Mycroft berkata saya bisa mempercayai Beilschmidt bersaudara. Tiada orang lain yang disebutkan." kata Holmes menusuk. Aku merasa tidak enak. Harusnya kau tinggalkan kebiasaan berbicaramu itu jauh-jauh di London, Holmes, pikirku.
"Ah, kau bisa percaya pada kami, dan kalau kami berkata kalian bisa percaya pada Carriedo dan Bonnevoy, kalian bisa percaya kepada kami." kata Ludwig sambil tersenyum.
Lalu Holmes menarik napas dalam dan bercerita.
"Mycroft meminta bantuanku untuk memecahkan kasus Miss Viviana Hoffman, jadi.." kata Holmes terputus karena melihat reaksi para pendengar.
"Coba ulang lagi nama wanita itu!" kata Gilbert terkaget. "Viviana Hoffman. Ada apa?" kata Holmes.
Semua orang terperanjat.
"Kau lihat koran ini? Aku yakin kau sudah membaca judul berita utamanya bukan?" tanya Gilbert. Holmes mengangguk. Gilbert lalu mengambil napas dalam lalu berkata,

"Kau benar, Kawan, Viviana Hoffman adalah Si Pembunuh Aljabar."
-------------------------------------
Halo! Oh iya mau ngasih tau aja nih, kalo ada tanda ini -::::::- itu artinya pergantian sudut pandang. Ada dua sudut pandang; Gilbert dan Watson. Mm ini si Gilbert, Ludwig, Carriedo, ama Bonnevoy itu karakter Hetalia. Gue panggil Gilbert dan Ludwig, bukannya Beilschmidt, ya itu, karena mereka sama-sama Beilschmidt. Oh iya. BTW kalo kalian penggemar berat Jerman pasti kalian tau deh. Ada sesuatu yang salah dengan Stasiun Berlin. Okay I admit it; Stasiun itu baru dibangun tahun 2006. Abis gimana, gak ada stasiun lain yang muncul di Google T^T Okay reviews are veeeerryyy pleased! ^^

The Algebraic Murder - Pt. 2

Aku mendapat banyak pasien hari ini. Pada pukul 6 sore aku sampai di depan 221B Baker Street. Holmes sudah menungguku. Ia kelihatan lebih segar. Bagus, pikirku.
Lalu kami masuk dalam kereta. Kami hanya terdiam hingga kami mencapai daerah Pall Mall. Mycroft ternyata sudah menunggu kami.
"Maaf aku tidak dapat hadir di hari pernikahanmu dan pemakaman istrimu." kata Mycroft dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa," kata Holmes. "Bantuan macam apa yang kau butuhkan?" tanya Holmes. "Sebuah kasus, dari temanku yang bekerja di pemerintahan Jerman." kata Mycroft sambil membimbing kami ke ruang kerjanya.
Ketika sampai di ruang kerja Mycroft, kami melihat seorang wanita muda, mungkin akhir 20an, sedang mondar-mandir dengan cemas di depan meja kerja Mycroft. Ia berpakaian seperti lelaki terhormat; mengenakan kemeja putih, celana cokelat, dan but hitam.
"Silakan duduk," kata Mycroft. Lalu wanita itu duduk, tetap dengan mengetukkan jarinya ke tangan kursi.
"Sherlock, perkenalkan, Miss Viviana Hoffman. Miss Hoffman, ini Sherlock Holmes dan Dr. John Watson." kata Mycroft memperkenalkan kami bertiga.
"Birmingham memang tidak terlalu padat seperti London. Anda suka kota yang seperti itu ya?" kata Holmes sambil menyalami Hoffman.
Hoffman terkejut. "Bagaimana caranya kau..." kata Hoffman bingung, lalu Ia menatap marah pada Mycroft.
"Miss Hoffman, saya harap anda paham akan pekerjaan adik saya; dia seorang detektif, hampir tak ada yang luput dari matanya." kata Mycroft.
"Yah, dia benar, ada tiga titik lumpur di but anda, menandakan anda melewati tempat yang baru saja dilanda hujan. Satu-satunya tempat yang baru saja dilanda hujan di sekitar London adalah Birmingham." jelas Holmes.
Viviana Hoffman tenang kembali. "Langsung saja Mr. Holmes," katanya, "Aku bekerja sampingan sebagai violinist di sebuah orkestra teater di Berlin. Hanya sebagai hobi, itu saja. Konduktorku, Abellard Schwesser, jatuh cinta padaku. Begitu pula diriku jatuh cinta padanya. Pada malam Rabu, kami memutuskan untuk pergi berkencan."
"Kami sudah sepakat bertemu di sebuah restoran pada pukul delapan. Pukul 8.15, ia tidak datang. 8.30, kukira macet yang parah. 8.45, kupikir dia sudah keterlaluan. Aku pun pergi ke rumahnya."
"Saat aku sampai di rumahnya, aku mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Aku ketuk lebih keras. Masih hening. Aku semakin marah. Aku pun menggedor pintu itu. Ternyata dengan sedikit dorongan, pintu itu dapat terbuka."
Holmes menahan cekikikan, sementara pipi Hoffman memerah menahan malu.
"Apa yang kulihat selanjutnya sungguh mengerikan. Abellard... Maksudku, Mr. Schwesser, terbaring di lantai, Ia ditusuk dari belakang; sebilah pisau dapur masih tertancap di punggungnya, kemeja putih yang ia kenakan berubah merah bersimbah darah. Ia sudah tiada. Ia menggenggam erat secarik kertas. Kertas itu berisi soal aljabar; ada tiga soal, jawabannya berturut-turut adalah 13;15; dan 18." jelas Miss Hoffman.
Holmes mencatat angka-angka itu di buku sakunya. "Sudahkah anda melaporkan kejadian ini kepada kepolisian Jerman?" tanya Holmes.
"Tentu sudah. Kertas berisi soal itu ada di tangan kepolisian Jerman." jawab Miss Hoffman.
Kami lalu terdiam sesaat. "Adakah.." kata Mycroft terputus oleh ketukan pintu. "Masuk!" kata Mycroft.
Lalu Inspektur Hopkins masuk. "Senang bertemu denganmu, Hopkins. Apa yang kau lakukan disini? Kau ingin mengurus keanggotaan Diogenes Club?" tanya Mycroft.
"Tidak. Saya disini untuk menangkap Miss Viviana Hoffman atas nama kepolisian Jerman." jawab Hopkins dingin.
Holmes mengangkat alisnya. "Tapi, Hopkins, dia hanyalah seorang saksi! Tidak mungkin Ia membunuh! Bagaimana dengan alibinya? Ia di restoran saat pembunuhan terjadi!" kataku.
"Hanya membutuhkan kurang dari 10 menit untuk membunuh seseorang. Sementara soal aljabar itu bisa dipersiapkan dari awal. Selebihnya bukti-bukti mengacu pada Miss Hoffman. Viviana Hoffman, anda ditahan atas pembunuhan Abellard Schwesser. Selamat malam, Mr. Holmes; keduanya, dan Dr. Watson." kata Hopkins sambil memborgol Miss Hoffman dan keluar dari ruangan.
Kami terdiam selama beberapa saat, dan akhirnya Holmes menghisap cerutunya, menatapku lekat-lekat dan angkat bicara;
"Tujuan kita selanjutnya, Jerman."
-------------------------------------------
Hai! Maaf ya karena disini ada dua Holmes, jadi gue bilang Mycroft itu Mycroft, Sherlock itu Holmes, soalnya kok kalo dibilang Sherlock jadi awkward gitu ya .-. Oke that's it from me, leave a review please ^^

The Algebraic Murder - Kata Pengantar & Pt. 1

Halo semua! Ini fanfic SH gue yang kedua setelah The Switched House. TSH itu kan OOC, kukira bakal banyak tentangan, ternyata malah dapet sambutan baik. Akhirnya gue mikir, "Kalo yang OOC aja rame, gimana yang IC?" Yaudah gue bikin TAM bareng temen gue, Fio, yang Hetalian. Tapi ada yang beda dengan TAM. TAM itu collaboration SH dan Hetalia. Memang sih, kebanyakan cerita dari SH dan yg banyak bikin juga gue, tapi untuk bagian Hetalia gue serahkan penuh kepada temen gue, Fio. Karena jujur aja gue gak begitu ngerti Hetalia. Ini scene kebanyakan di Jerman, terus ya tiba-tiba aja gue kepikiran untuk collab. Jadi, kalo menurut lo fanfic kali ini bagus, itu gak lepas dari izin Tuhan (of course) dan bantuan Fio juga. Part 1 gue post cuma dikit karena gue ngejar deadline yang gue buat sendiri (stupid, isn't it?) yaitu malam tahun baru.
Ini panjang soalnya. Oke, we start here!

BAGIAN 1

Semenjak kematian Rachel Holmes, Sherlock Holmes semakin sering menggunakan kokain. Ingin menjerit rasanya setiap dia mulai menyuntikkan carian neraka itu ke tubuhnya.
"Hentikan itu, Holmes! Dia adalah penjahat!" kataku ngilu melihat tubuhnya yang semakin kurus karena kokain.
"Diam kau, kau tidak tahu apa yang aku rasakan!" hardik Holmes setiap kali aku melarangnya memakai kokain.
Pada suatu pagi, aku akhirnya berhasil membujuk Holmes untuk berjalan-jalan keluar rumah. Di jalan orang menatapnya dengan pandangan iba. Bahkan ada seorang ibu tua memberikannya satu penny, namun ditolaknya dengan halus.
Saat kami sampai di rumah, Mrs. Hudson sudah menanti. "Mr. Holmes," katanya tergopoh-gopoh, "Ada telegram untuk anda." Lalu Ia menyerahkan secarik kertas.
Holmes lalu membacanya, dan memberikannya padaku. Isi kertas itu adalah,

Turut berdukacita.
Ada kasus.
Datanglah ke Diogenes Club pukul 7 malam.
-Mycroft

"Nah, Watson," kata Holmes, "Kau silakan pulang, kembalilah jam 6 sore kalau kau ingin ikut ke Diogenes Club. Kau ingin ikut kan?"
"Tentu." kataku. Lalu aku pun pulang.

Rabu, 07 November 2012

#kamukenapa?

Kan gue, N, F, D, L, dan yg lainnya lagi di kelas. Terus ada yang ngomong,

"Eh kalo kita dipergokin osis gimana ya?"

Terus hening.

Nah, lalu kita bikin skenario 'kamu kenapa.' Jadi kita ceritanya ditanyain sama osis gitu, kenapa masih di kelas, sementara udah jam pulang.

1. Kamu kenapa?| *hening* OPPA GANGNAM STYLE op op op op gangnam style op op op op

2. Kamu kenapa?|.... Tatap mata saya.| *terhipnotis*

3. Kamu kenapa?| *nepok pundak osis* Kak, kakak akan jadi orang yang blak-blakan.| *dengan randomnya osis menjawab* Dek, ada upil.| Hm? *gali idung*

4. Kamu kenapa?| .... Assalamualaikum, ayo kita SMS, Semuaaaaaaaaa makan sonice...| Ikutan joget

5. Kamu kenapa?| *nunjuk ke belakang osis sambil muka takut* I... Itu.. Itu apa?|Mana? *osis nengok ke belakang*| *Kaborrr...*

6. Kamu kenapa? |.... Nyotnyot dikenyot, NYOOT, nyotnyot dikenyot, NYOOT..| *sambil garuk-garuk pala* Nyot-nyot?

7. Kamu kenapa?| Abis... *kibasin rambut* ...keramas...| *pokerface*

8. Kamu kenapa? | *jatoh* Saya jatoh kak.

9. Kamu kenapa?| Aku gak punya pulsa... *musik galau*

10. Kamu kenapa?| AYAMKU MANA?| Sudah makan dulu sana.

11. Kamu kenapa?| *angkat kaki kanan* Kita lagi latihan tante...

Pas banget selesai ngomong begitu, pintu kelas dibuka.

JENGJEEEEEENG....

Taunya anak cowok. Masuknya pake pokerface gitu ih.

Terus si N nunjuk foto SBY sama Budiono yang lagi senyum sambil tereak dengan randomnya..

"APA LO KETAWA-KETAWA?"

Denger-denger sih abis itu dia dirujuk ke Grogol.

Resensi Buku: Sherlock Holmes & Laskar Jalanan Baker Street: Teka-Teki Kasus Pemanggilan Arwah

Greta Berlinger, seorang janda kaya, tewas dalam sebuah upacara pemanggilan arwah yang memunculkan arwah mendiang suaminya. Sang keponakan nan jelita, tak bisa tenang setelah meninggalnya sang Bibi. Dia merasa ada aura kejahatan yang selalu mengikuti dan mengancamnya.

Untuk pertama kalinya Holmes dan Laskar Jalanan Baker Street harus berhadapan dengan dunia supramatural yang mencekam, musuh yanh tak kasat mata. Berhasilkah mereka memecahkan misteri pembunuhan Greta Berlinger, juga mengetahui arwah siapakah yang muncul dan mengancam nyawa keponakannya?

Penulis: Tracy Mack & Michael Citrin
Penerbit: Qanita
Lia's Rate: Bagus pake banget.
Review:
Novel ini diceritain bukan dari sudut pandang Watson, tapi dari segi orang ketiga. Jadi gak ada tokoh 'aku' disini. Novel ini tuh seri kedua dari empat seri, seri pertama gue gak gitu suka, makanya gue skip. Tapi kalo mau ya monggo dibaca tuh yang pertamanya.
Buku ini bagus banget (gak promosi sumpah ini bagus) gue udah baca berkali-kali dan gue gak pernah bosen. Yang gue gak suka dari buku ini (dan 3 seri lainnya) adalah, Watson itu digambarkan sebagai orang yang rese banget lah. Jadi diceritakan dia tuh menutupi keberadaan Laskar Jalanan untuk keuntungannya sendiri dan dia membenci Laskar Jalanan gitu. Lah apa banget kan. Untung ceritanya bagus, kalo jelek mungkin gue gak akan beli.

Jumat, 02 November 2012

TGIF!! 2 November 2012

Jum'at ini random banget sumpah.
Jadi, tadi kan lari pagi ga ada yang spesial, skipskipskip~ terus kan ada perang angkatan, nah itu gue gak gitu jelas ngapain. Jadi ceritanya angkatan 11 sama 10 tu main bola tapi ga jelas bolanya diapain. Apa coba. Gue malah ngomongin deja vu sama Fi.
Abis itu kan istirahat, terus skipskiiip~ terus sejarah. Aaaaaah skipskip~ olahraga mulai agak random,
Kan disuruh ke hall basket kan tuh ya. Eh materinya roll ke depan roll ke belakang.

Drat.

Gue kan pas SD gak bisa tuh. Eh ternyata tadi bisa. Yeaay. (Kadang-kadang gue kesel juga sama ke-pokerface-an gue yang akut.)

Terus kan gue ma beberapa temen mau ulangan bahasa, eh kita lupa bawa kertas. Balik ke homebase ambil kertas. Balik ke ruang guru, lupa ambil kamus. Ke perpustakaan mau minjem kamus, perpustakaannya tutup.

Twat.

Terus kan keputrian, mana gue ngantuk banget, skipskip~ nah abis itu baru ulangan kan, eh pas lagi ulangan ruangan kita mau dipake fotografi. Terus kita pindah ke perpus, kan gurunya bilang mau ke ruang BK, terus pas gue mau ngumpulin gurunya udah gak ada.

T^T

Untung ketemu tuh gurunya. Terus gue mau KIR kan, naik ke lt. 4. Eh di lt. 4 ada yang bilang, "Lia, kamu dicariin bu guru disuruh ke ruang guru sekarang juga." Lo tau kan ruang guru itu di lt. 1????

Perjalanan inii~ terasa sangat menyedihkan... TT^TT

Ternyata dikasih kartu legit(imasi). Yaudah tu kan KIR, terus skipskip pulang.