Halaman

Kamis, 06 Desember 2012

The Algebraic Murder - Pt. 8

"Apa?" tanya Ludwig tak percaya. "Cepat panggil Sherlock Holmes!"

-:::::::::::::::::-

Aku melihat Hoffman menangis di pundak Holmes. Melihatku, Hoffman langsung mengusap airmatanya dan kembali ke posisi semula. "Tidak ada apa-apa, Watson, aku jamin," kata Holmes sambil tertawa kecil, "Baru saja aku mendapat telegram. Bacalah, Watson." Berikut ini isi dari telegram itu.

Kepada Tuan Sherlock Holmes, Dr. John Watson, dan Nona Viviana Hoffman.
Cepatlah kemari.
Carriedo dan Bonnefoy menghilang.

Beilschmidt Bersaudara

"Bagaimana..?" tanyaku kaget. "Kita lihat nanti, Watson." kata Holmes. Lalu kami berangkat menuju kediaman Beilschmidt bersaudara.


"Selamat malam, Tuan Holmes, Dr. Watson, Nona Hoffman. Ayo masuk!" kata Gilbert menyambut kami.
"Bagaimana kejadiannya?" tanya Holmes. Gilbert pun menceritakan apa yang terjadi. Holmes lalu berpikir keras. Tiba-tiba Ia tersentak. "Kau tahu alamat rumah mereka berdua?" tanya Holmes. Ludwig dan Gilbert kaget. 'Tapi, Tuan Holmes.." kata Ludwig terputus, "Jawab pertanyaanku." tegas Holmes.
"Aku tahu. Mereka tinggal dalam satu flat yang sama." kata Ludwig. "Tolong tunjukkan jalannya." kata Holmes.

Kami sudah tiba di depan flat tersebut. Holmes mengetuk pintunya. Tiada jawaban. Lalu Ia mengetuk lagi. Masih tiada jawaban. Holmes mencoba membuka pintu itu. Ternyata pintunya tidak dikunci. Kami masuk dan menyiapkan senjata masing-masing. Kami lalu memasuki ruang kerja.

"Ah!" Gilbert menjerit kecil. Ludwig menutup mata, Holmes tersentak, Hoffman terdiam.

"Carriedo dan Bonnefoy..." kata Gilbert,
"Mati!"



Sungguh mengerikan pemandangan yang sedang kulihat; Carriedo telentang dengan pisau yang menancap di dadanya, dan Bonnefoy terduduk di sudut ruangan dengan revolver di tangan kanannya. Holmes lalu meneliti kedua mayat itu.
"Kalian tetap disini, aku akan mencari pemilik flat ini." kata Holmes.
Gilbert masih terlihat syok, begitu pula Ludwig. Hoffman masih terlihat sangat tenang. Aku bersumpah aku bisa melihat senyum tipis tersungging di bibirnya. Menyadari tatapanku, Hoffman menatapku lekat-lekat dan tersenyum pahit.
"Ada apa, Tuan-tuan?" tanya seorang bapak tua. "Oh, aku lupa. Perkenalkan, Tuan Arthur Mallard, pemilik flat ini." kata Holmes yang muncul dari balik punggung bapak tua itu.
"Kalian teman Carriedo dan Bonnefoy, bukan? Baik, aku akan mulai bercerita." kata Tuan Mallard.

"Pada pukul 7 tadi, ada seorang lelaki datang kemari. Masih muda, kira-kira 20 tahun-an. Lalu terjadi pertengkaran. Aku mendengar mereka menyebut nama "Holmes" dan "Hoffman". Lalu pertengkaran itu semakin terdengar pelan, lalu sesaat kemudian pria itu keluar. Oh ya, sebelum pria itu datang, Carriedo meninggalkan surat ini. "Berikan kepada pria yang bernama Sherlock Holmes," katanya."
Mallard mengambil sebuah amplop dari saku jasnya dan memberikannya pada Holmes.

Holmes menerima amplop itu, membukanya, lalu membacanya. Beberapa detik kemudian saat membaca surat, wajahnya memerah. Lalu ia menutup surat itu dan memasukkannya dalam kantongnya.
"Apakah anda tahu siapa nama pria itu?" tanya Holmes.

Mallard terlihat berpikir. "Ya, selain nama "Holmes" dan "Hoffman", ada satu lagi nama yang sangat sering diucapkan, lebih sering dari kedua nama itu. Namanya adalah..."

"..Roderich..."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar