"Jadi, itulah mengapa kau dibebaskan?" tanyaku dalam perjalanan. Hoffman mengangguk. Ia ingin angkat bicara, namun kata-katanya tersangkut di tenggorokan.
"Kami sudah tahu. Jadi itu sebabnya koran-koran hanya menyebut julukan." kata Holmes seolah dapat membaca isi pikiran Hoffman.
"Benar," kata Hoffman, "mereka tahu aku beraksi sendiri, jadi begitu menemukan mayat baru, mereka langsung membebaskanku dan memintaku untuk menghubungi kalian. Mycroft Holmes memberitahu dimana kalian menginap, lalu kau tahu sendiri apa yang terjadi selanjutnya." Lalu semua diam hingga kami mencapai gedung kepolisian Jerman.
Bukan bangunan yang besar, namun sangat berprestasi. Bahkan kudengar setara dengan Scotland Yard.
"Selamat datang, Mr. Holmes, Dr. Watson," kata seorang pria yang pendek, gempal, namun kekar, "dan tentu saja, Miss Hoffman." katanya sambil mencium tangan Hoffman sebagai tanda penghormatan.
"Nama saya Marcus Deidrich, Detektif Inspektur di sini. Oh tentu, silakan masuk!" kata Deidrich riang. Mirip Lestrade, tapi jauh lebih periang, pikirku.
Kami masuk ke suatu ruangan. Disana kami melihat Beilschmidt bersaudara, Carriedo, dan Bonnefoy. Gilbert terlihat.. Entahlah. Antara lelah dan stres.
-::::::::::::::::-
Mengapa? Mengapa harus dia? Bahkan aku rela menjual nyawaku kepada iblis yang paling kejam demi menyelamatkan nyawanya.
Ludwig menyikut tulang rusukku. "Fokus," bisiknya. "Kami menemukan mayat lagi. Namanya adalah.." kata Deidrich sambil membuka laporannya. Tolong, jangan sebut nama itu, demi Tuhan... "... Elizaveta Hedervary." Hancur sudah. Hatiku remuk. Benar dia, benar dia yang mati. "Gilbert kau tak apa?" tanya Holmes. "Aku lihat tanganmu gemetaran." katanya lagi. "Tidak, tidak apa-apa. Silakan lanjutkan, Deidrich." jawabku.
"Ada beberapa kesamaan dengan Mr. Schwesser; Pisau yang menancap di punggung, mereka sama-sama anggota orkestra teater, dan si pembunuh meninggalkan petunjuk yaitu soal aljabar, tapi kali ini hanya ada dua. Jawabannya adalah... 15 dan 14." kata Deidrich.
Holmes lalu mengambil buku sakunya dan menulis angka itu disamping tiga angka yang ia peroleh sebelumnya.
"Jadi, 13; 15; 18; 15; dan 14." kata Holmes. Lalu Ia mengutak-atik angka itu selama kira-kira 3 menit. Ia lalu tersenyum. Senyumnya semakin lebar. Tanpa diduga, tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak. Sangat kencang tertawanya hingga terdengar ke ruangan sebelah. "Holmes! Holmes!! Sherlock Holmes kau dengarkan aku!!! Kau sudah gila??!!!" tanya Watson panik.
Tawa Holmes berangsur-angsur mereda. Lalu Ia berkata, "Tuan-tuan, masa bodoh dengan angka-angka itu."
"Kita dijebak!"
-------------------------------------
Ini gampang banget kodenya... Solve it guys!
Moron?
BalasHapus