Aku segera meraup dokumen itu dari atas meja dan berlari menuju kamarku.
Jantungku berdegup cepat. Aku takut. Aku takut ada yang menyakitiku lagi. Aku takut!
Aku jatuh terduduk di atas ranjangku. Aku terdiam. Aku membayangkan aku akan disiksa lagi seperti dulu saat aku masih kecil. Aku gemetar membayangkannya.
"Ada apa, Roderich?" tanya Abellard yang sudah terbangun. Abellard lalu melihat dokumen itu. Ia terbelalak. Ia marah. Ini pertama kalinya kulihat ia marah.
"Roderich?" bisiknya lembut. "Abellard, tolong, jangan beritahu ini kepada siapapun. Bahkan kepada Hoffman dan Hēdērvary. Aku akan membakar dokumen ini, lalu aku akan kabur, saat ini juga. Kau mengerti, Abellard?" kataku serius.
Abellard menengok pada Hoffman dan Hēdērvary yang masih tertidur. "Tapi Roderich..." kata Abellard lirih. "Percayalah padaku." kataku sambil menggenggam erat tangan Abellard. Air mata Abellard meleleh. Ia balas menggenggam tanganku dan tersenyum.
"Berjuanglah sobat, Tuhan menyertaimu!" bisiknya pelan di telingaku. Aku mengangguk, membereskan barang-barangku, dan kabur lewat jendela. Aku menengok ke belakang, aku melihat bangunan itu.
"Selamat tinggal Abellard..."
11 TAHUN KEMUDIAN
"... Sekian, terimakasih." kataku mengakhiri sebuah pidato. Semua orang bertepuk tangan. Aku turun dari podium.
"Pengaruh Perang Prancis-Prusia pada pendidikan, Tuhan, kau hebat, Edelstein!" kata Greenfield, teman sesama dosen. "Terima kasih, Greenfield." jawabku.
Aku pulang ke rumahku. "Tuan, ada surat..." sambut pelayan. "Terimakasih." jawabku.
KEPADA RODERICH EDELSTEIN
DARI ABELLARD SCHWESSER
"Abellard?" gumamku pelan. Aku lalu membaca isi surat itu.
Roderich,
Sudah 11 tahun kita tak saling bertemu. Aku rindu kau. Kudengar kau sekarang mengajar di Universitas Berlin? Kau hebat, Roderich!
Aku mengirim surat ini hanya untuk memberikan kabarku. Semenjak kepergianmu, aku menjaga jarak dari ayah. Tenyata ia hanya ingin mengambil keuntungan darimu, hatiku sakit sekali. 3 tahun yang lalu, ayahku meninggal. Ia terbunuh oleh Pembunuh Aljabar. Kau pasti tahu kan? Yah, entah mengapa aku tidak merasa kehilangan.
Entah.
Sekarang aku menjadi konduktor. Ini mimpiku, Roderich! Aku sangat senang. Viviana sekarang menjadi kekasihku.
Aku sangat ingin bertemu denganmu lagi.
Salam hangat,
Abellard Schwesser
P.S. : Hēdērvary masih sendiri...
Ceria dan berbasa-basi. Sangat khas Abellard.
Aku membalik kertas itu.
51 Slavik St.
Berlin, Jerman
Temui aku kapanpun.
Aku termenung. Tanpa sadar aku mengambil sebilah belati perak dari dalam laci meja kerjaku. Aku mendapat ide.
Tak lama kemudian, aku sudah berada di dalam kereta. Aku membawa belati itu dan secarik soal aljabar.
Astaga, pikirku, Aku akan jadi seorang kriminal! Pikiranku kalut. Takut, tapi ingin kucoba.
Digerogoti pikiran sendiri, aku sampai tak sadar kalau aku sudah berdiri di depan pintu rumah Abellard.
Pintu itu terbuka. Keluarlah seorang lelaki gagah, namun berpembawaan lembut. Berambut pirang dan bermata hijau. Ya, dialah Abellard, pikirku.
"Roderich? Kau Roderich?" tanya Abellard senang. Ia melonjak bahagia ketika aku mengangguk.
"Roderich Edelstein, guru besar Universitas Berlin!" kata Abellard sambil menepuk punggungku bersahabat. Lalu kami masuk.
Kami berbasa-basi, lalu pada pukul 8, Abellard menyiapkan diri untuk pergi. "Mau kemana kau, Abellard?" tanyaku. "Kencan dengan Hoffman." jawabnya sambil tersipu malu. Aku lalu berdiri di belakang Abellard, mengambil belatiku, dan dengan seluruh kekuatan...
STAB!
Abellard terbaring telungkup di atas lantai. "Mengapa, Roderich... Mengapa..." kata-kata terakhir Abellard.
"Dendam, Abellard. Karena air susu dibalas dengan air tuba..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar