Halaman

Minggu, 25 November 2012

The Algebraic Murder - Pt. 7

Keesokan paginya, kami berkumpul di depan markas kepolisian Jerman. Kami menuju rumah Heinrich Dressler. Aku masih terpukul karena kematian Elizaveta. "Cepat atau lambat kau harus melupakan dia, wanita di dunia ini bukanlah dia seorang." bisik Ludwig padaku di kereta. Aku mengangguk.
-:::::::::::::::::::-
"Ada satu hal," kata Holmes, "Aku tidak menemukan nama Heinrich Dressler di buku telepon Jerman." Lalu Hoffman berpikir. "Mungkin buku yang kau baca sudah kadaluwarsa?" tanya Hoffman. "Tidak, aku benar-benar sudah membaca sampulnya; bertuliskan "Edisi 1887"." jawab Holmes. Hoffman berpikir lagi. Lalu Ia seperti menyadari sesuatu. "Oh, sebelumnya maaf tuan-tuan, yang kuberikan kepada kalian adalah nama panggung, nama aslinya adalah Roderich Edelstein." kata Hoffman. "Tidak perlu khawatir, alamat yang kuberikan masih berlaku, sais." teriak Hoffman pada sais. "Syukurlah, Nona Hoffman." balas sais.
Kami lalu sampai di tempat yang dituju. Bukan rumah yang besar, namun terlihat berkelas. Hoffman menekan bel pintu rumah itu. Keluarlah seorang wanita tua yang sepertinya adalah pembantu di rumah itu.
"Siapa yang anda cari?" tanya wanita itu. "Kami mencari Roderich Edelstein." jawab Hoffman. Wanita itu lalu mengangkat alisnya. "Siapa yang ingin kau temui," tanya wanita itu lagi, "Roderich Edelstein atau Heinrich Dressler?" Holmes, yang sangat membenci omong kosong; lalu angkat bicara, "Masa bodoh dengan yang kami cari. Mana tuanmu?"
Tersentak oleh Holmes, wanita itu kembali masuk. "Bagus sekali, Holmes." kataku. Lalu keluar seorang lelaki muda; kira-kira beberapa tahun lebih muda daripada Hoffman. "Selamat pagi, maafkan pembantuku itu. Sudah lama sekali sejak rumah ini didatangi tamu. Nama saya Roderich Edelstein. Oh Miss Hoffman! Silakan masuk! Anda semua juga, ayo masuk!" kata pria itu penuh semangat.
Kami pun dipersilakan duduk. "Ini adalah Mr. Sherlock Holmes, dan ini Dr. John Watson. Mr. Holmes, Dr. Watson, ini adalah Roderich Edelstein." kata Hoffman memperkenalkan kami bertiga. "Mr. Edelstein, ini adalah Ludwig Beilschmidt, Gilbert Beilschmidt, Antonio Carriedo, dan Francis Bonnefoy." kata Holmes. Lalu mereka bersalaman. "Apa yang bisa kubantu?" tanya Edelstein. "Tolong analisa tulisan ini," kata Hoffman sambil menyerahkan secarik kertas. Edelstein menelitinya dengan kaca pembesar. "Kuat, pemberani, tapi tidak terlalu berpendidikan." katanya sambil masih meneliti tulisan itu. "Berlawanan sekali denganmu ya.." kata Hoffman. Lalu Edelstein dan Hoffman tertawa.
"Memangnya ada apa sampai kalian meminta bantuanku?" tanya Edelstein. Hoffman lalu terlihat bingung. Ingin diam, takut penasaran, ingin bicara, takut sakit hati. Namun tampaknya Ia memutuskan untuk bicara. Ia lalu menggenggam tangan Edelstein erat dan berkata, "Schwesser dan Hedervary dibunuh."
Edelstein terdiam. Ia lalu duduk dan melepas kacamatanya. "Saat usiaku 5 tahun, aku bergabung dengan orkestra. Orang-orang dewasa acuh padaku. Lalu aku bertemu dengan Schwesser yang saat itu berusia 13 tahun. Ia menjadi guruku dalam banyak hal, terutama musik. Lalu tiga tahun kemudian Hedervary dan Hoffman bergabung pada usia yang sama; 12 tahun. Dengan ajaran tiga orang itu, aku menjadi virtuoso pada usia 11 tahun. Lalu aku keluar dari orkestra. Karena kemampuanku, beberapa bulan kemudian aku diterima di sebuah universitas. Aku meraih gelar pascasarjana pada usia 13 tahun dan menjadi profesor pada usia 17 tahun. Lalu aku pun mengajar disana sampai sekarang." kata Edelstein. Tenggorokannya tercekat karena duka yang dalam. "Bagaimana bisa..." tanya Gilbert takjub. "Ia seorang jenius." jawab Hoffman. "Tidak, Tuhan hanya memberiku kecerdasan tambahan," kata Edelstein merendah.
"Jadi begitu." kata Holmes. "Baiklah, terimakasih atas kerjasama anda. Selamat siang, Tuan Edelstein." kata Holmes. Lalu kami keluar, dan kami menuju rumah Beilschmidt bersaudara.
"Ada apa antara kau dan Hedervary?" tanya Holmes pada Gilbert tiba-tiba di kereta. Gilbert tersenyum. "Aku dan dia dulu sahabat, lalu aku.. menyukainya." kata Gilbert. Holmes terdiam. "Kau harus menepati janji ini; kau harus bertindak objektif. Kau tidak boleh membunuh siapapun." kata Holmes.
Gilbert terdiam. Lalu ia mengangguk.
Kami sampai di rumah Beilschmidt bersaudara. Kami disuguhi teh. "Omong-omong," kata Holmes, "kau bilang kakakku pernah membantumu. Memang bantuan macam apa yang pernah ia berikan?" Lalu Ludwig tersenyum. "Kau lupa padaku, Sherlock? Aku Ludwig. Mycroft menemukanku ketika aku hampir mati di jalanan Jerman. Lalu ayahmu, Siger Holmes, memungutku. Aku berkenalan denganmu dan Mycroft. Pada usia 10 tahun aku bertemu dengan Gilbert dan pergi dari keluarga Holmes." jelas Ludwig.
"Oh, jadi kau Ludwig! Senang dapat bertemu denganmu lagi." kata Holmes senang. Lalu mereka memeriksa kenalan Schwesser dan Hedervary.
"Yah, sepertinya cukup sampai di sini. Hari sudah mulai petang. Kita akan mulai besok. Selamat sore." kata Ludwig.
Aku, Holmes, dan Hoffman memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak. Kami berhenti di sebuah kafe. "Maafkan aku, tapi.. kukira masa laluku tidak begitu penting." kata Hoffman.
"Yah, kami memang membutuhkan detail, Nona, tapi apa yang sudah berlalu biarlah berlalu." kata Holmes. Tiba-tiba aku merasa ingin ke kamar mandi. "Permisi sebentar," kataku sambil berlalu.
-:::::::::::::::-
Aku duduk di depan Holmes. Sorot matanya nampak cocok dengan cuaca di luar; dingin menusuk. "Kau selalu seperti itu ya pada wanita." kataku dengan nada mengejek. Ia pun tersenyum mengejek.
Tiba-tiba aku teringat pada Schwesser. Ah, Schwesser. Gara-gara aku. Iya, gara-gara aku seorang psikopat. Kau yang harus memikul akibatnya. Ah, karma memang jahat.
Satu butir. Tiga butir. Empat butir. Air mata membasahi gaunku. Aku memang wanita rendah!
Bayanganku tentang Schwesser buyar ketika aku melihat sebuah saputangan putih diulurkan padaku. Aku menatap Holmes. Tatapannya tetap menusuk. Hanya saja terasa lebih hangat. Aku mengerti apa yang kau rasakan, begitu pesan yang kutangkap dari sorot mata Holmes.
Aku lalu mengambil saputangan itu dari tangannya. "Terimakasih." ujarku singkat. Ia hanya mengangguk.
Sialan! Aku malah semakin ingin menangis! Aku menegakkan kepalaku yang tadinya menunduk. Holmes sudah tiada di sana.
Air mataku tumpah ruah. Tak pernah aku menangis seperti ini dalam hidupku. "Apakah kau percaya, Tuan Holmes?" tanyaku, "Apakah kau percaya pada cinta?"
Terjadi keheningan. Dia memang tidak ada di sini, pikirku.
"Sepertinya tidak." jawab seseorang. Ia adalah Tuan Holmes, yang sekarang duduk di sampingku. "Aku tidak percaya pada cinta. Ya."
"Lalu ada apa dengan istrimu?" tanyaku. Ia tertawa. "Manusia membuat kesalahan, Nona Hoffman." katanya, "Dari sana muncullah sebuah keputusan, yang akhirnya membuat sebuah rangkaian kejadian yang disebut hidup."
-:::::::::::::::-
Aku sudah merasa lelah. Atas segala yang kulewati hari ini, aku lelah. Aku hampir tertidur ketika kudengar suara 'klik' dari kamar sebelah, yaitu kamar Carriedo dan Bonnefoy. Aku pun menghampiri mereka.
Aku mengetuk pintu kamar. Tiada jawaban. Kuketuk lebih keras. Masih tetap hening. Lalu kubuka pintu itu. Pintu itu tidak terkunci.
Aku terperanjat.
"Ludwig! Ludwig!" spontan aku berteriak.
"Carriedo dan Bonnefoy menghilang!"
------------------------------------------------
Oh halo! Maaf ini lama banget -.- disini ada tiga sudut pandang, Watson, Gilbert, sama Hoffman. Hoffman itu yang pas di kafe itu lho.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar