Halaman

Senin, 31 Desember 2012

The Algebraic Murder - Pt. 13

Kami semua lalu pergi ke kantor polisi dan menjelaskan semuanya. Gilbert ditahan, sementara yang lain dipersilakan pulang.
"Aku masih penasaran," kataku saat kami sudah sampai di kamar penginapan, "memangnya apa isi surat itu?" Holmes lalu tergelak. "Ini, bacalah." katanya sambil memberikan surat itu padaku.
Kepada Yang Terhormat
Mr. Sherlock Holmes
Mr. Holmes, kita memang belum terlalu kenal satu sama lain, tetapi kau harus tahu, aku memiliki kelainan orientasi seksual, jadi, ya, aku suka padamu. Oleh karena itu, aku akan membeberkan semuanya.
Aku dan Bonnefoy tidak memiliki pekerjaan. Seorang lelaki datang pada kami, yang belakangan ini kuketahui bernama Roderich Edelstein. Ternyata ialah pelaku pembunuhan yang sebenarnya. Ia menawarkan pekerjaan terkutuk itu — menjadi informan. Karena bayarannya yang besar, 50 Goldmark* per hari, kami akhirnya menerima pekerjaan itu.
Lalu aku bertemu dengan dirimu. Aku melihat tingkahmu, mendengar suaramu, baiklah, ini mungkin terdengar menjijikkan, tapi aku jatuh cinta.
Aku benci pada diriku sendiri. Aku ingin mati saja. Lalu aku menulis surat ini. Mungkin ini kali pertama dan terakhir aku bicara padamu.
Carriedo
"Wah, kau populer juga ya..." kataku. Holmes tertawa kecil.
Beberapa hari kemudian, aku dan Holmes pulang ke Inggris. Gilbert dibebaskan karena perlakuannya dianggap penyelamatan.
Kami lalu sampai di Inggris. Kami kembali ke kehidupan biasa, tanpa tantangan, tanpa kasus.
Aku mengunjungi flat Holmes pada tanggal 31 Desember jam 10 malam. Kami lalu berbasa-basi. "Omong-omong," kataku, "Sepertinya Hoffman juga menyukaimu."
Holmes tertawa kecil. "Benarkah itu, Watson? Sepertinya undangan ini membantah teorimu." kata Holmes sambil memberikanku secarik kertas tebal.
KEPADA YANG TERHORMAT
SHERLOCK HOLMES & DR. JOHN WATSON
UNDANGAN PERNIKAHAN
LUDWIG BEILSCHMIDT
VIVIANA HOFFMAN
4 JANUARI 1888
GEREJA KATEDRAL BERLIN
"Mereka menikah?" tanyaku takjub. "Ya, sungguh hidup yang aneh." kata Holmes sambil menghisap cerutunya.
Lonceng gereja berbunyi, menandakan bergantinya tahun. Holmes lalu tersenyum.
"Selamat tahun baru, Watson."
Goldmark= Mata uang resmi yang dipakai Jerman sejak 1873, lalu digantikan oleh Papiermark. Papiermark mengalami hiperinflasi (inflasi yang terlalu tinggi), lalu Papiermark digantikan oleh Rentenmark pada 15 November 1923, dan digantikan lagi oleh Reichmark pada 1924. 2 Goldmark = 1 Euro.
(Sumber= wikipedia.org )

Kamis, 27 Desember 2012

Just Info (The Quest of Eldorado)

Halo~ kabar gembira nih buat yang nungguin Eldorado~
Jadi kan awalnya Eldorado gue tunda ke Februari karena Januarinya gue mau bikin OC, nah gue tuh lagi habis akal banget buat itu OC, makanya OC itu gue tunda sampe Februari.
Ya jadi The Quest of Eldorado gue bakal mulai di Januari!

Selasa, 25 Desember 2012

Serigala dan Kelinci


 Sebelumnya, Selamat Hari Raya buat yang merayakan! Terutama buat Fio~ makin makin yaa...

Karena gue BOSEEEN banget nungguin Tahun Baru (yang mana akan gue post part 13 pada tanggal tersebut) tapi gue mengalami WB akut buat cerita-cerita selanjutnya, akhirnya gue bikin cerita gaje bin mabok ini. Yaudah biar kalian gila nggak bosen, baca aja ya...

“Auuuuu!” teriak serigala yang putus asa. “Ngapa lu?” tanya seekor kelinci yang abis begadang nonton bokep. “Gue WB lagi nih.” jawab si serigala galau. “Oh, WB doaaang... Gampang!” kata si kelinci sambil bayangin adegan bokep yag barusan ia tonton (mohon jangan dikira kalau si kelinci ini kelinci household yang unyu-unyu.).
“Beneran lu cin? (ini gak enak banget ya manggilnya cin) Gimana caranya?” tanya si serigala dengan senyum sumringah. “Datanglah! Ke klinik Tong Fang TCM!” kata si kelinci. Tanpa banyak bacod, serigala pun langsung menerkam si kelinci. Si serigala pun terbebas dari WBnya dan membuat cerita ini.

Problem?

Sabtu, 22 Desember 2012

The Quest of Eldorado Teaser

Februari gue bakal bikin fanfic crossover Sherlock Holmes sama Detektif Conan. Gue bikin teasernya dulu ya. Hehe.

The Quest of Eldorado

Aurelia Vespucci, seorang penjelajah Spanyol, ditemukan mati tertembak di kapal penjelajahannya yang sedang singgah di Inggris. Ia menggenggam sepotong peta yang diduga adalah peta menuju kota emas Eldorado.
Seluruh dunia gempar. Sherlock Holmes pun beraksi. Dalam penyelidikan, ditemukan tulisan '1412' pada naskah peta. Sang detektif SMU dari timur Jepang – Shinichi Kudo, dipanggil karena besar kemungkinan pelakunya adalah Kaito KID.

Akan tetapi, perjuangan mereka terhalangi oleh Black Organization dan pemimpinnya, Anokata, yang juga ingin menguasai kota Eldorado.

Berhasilkah Sherlock Holmes mengungkap misteri pembunuhan Vespucci? Berhasilkah Shinichi Kudo meringkus Kaito KID dan menemukan kota Eldorado? Akankah identitas Anokata terbongkar?

Temukan jawabannya
Februari 2013

Jumat, 21 Desember 2012

Tiga Pengembara

Daripada bengong nungguin part 13, mendingan gue nyampah aja ya.
Eh iya kemaren gue dapet joke dari temen gue, Roy, dan gue gak bisa berhenti ketawa. Tapi sori ya kalo gue ceritainnya agak dry gitu.
Suatu hari, ada tiga orang pengembara. Mereka nemu lampu ajaib. Pengembara pertama menggosok lampunya. Keluarlah jin.
"Kalian masing-masing diberi satu permintaan." kata si jin itu.
Pengembara pertama itu suka main cewek. "Bangunkan aku sebuah gua, yang didalamnya ada wanita-wanita tercantik dari seluruh dunia, masukkan aku ke dalamnya, dan tutup gua itu selama 10 tahun." kata si pengembara pertama.
Pengembara kedua suka mabok-mabokan. "Bangunkan aku sebuah gua, yang di dalamnya ada tuak-tuak terbaik dari seluruh dunia, masukkan aku di dalamnya, dan tutup gua itu selama 10 tahun." kata si pengembara kedua.
Pengembara ketiga suka merokok. "Bangunkan aku sebuah gua, yang didalamnya ada rokok-rokok terbaik di dunia, masukkan aku kedalamnya, dan tutup gua itu selama 10 tahun." kata si pengembara ketiga.
Sesuai perjanjian, 10 tahun kemudian, gua itu dibuka.
Si pengembara pertama, sangat kurus, karena melayani nafsu wanita-wanita yang berada di dalam gua itu. Ia pun terkapar di tanah, mati.
Si pengembara kedua, sangat gemuk, karena kerjanya meminum tuak saja. Nasibnya pun tidak jauh dari si pengembara pertama.
Si pengembara ketiga keluar dari gua dalam keadaan sehat walafiat. Lalu ia berteriak keras-keras,
"WOY DASAR LU SETAN GOBLOK! KOREKNYA MANA???"

The Algebraic Murder - Pt. 12

Aku juga melakukan hal yang sama pada Hēdērvary. Aku lalu mendatangi kawan dekatku, Antonio Carriedo dan Francis Bonnefoy. Kutawari sejumlah bayaran, dan mereka setuju menjadi informan. Aku terkejut, keesokan harinya Hoffman datang bersama Sherlock Holmes. Aku nyaris tidak punya harapan.
Aku lalu mendatangi Carriedo dan Bonnefoy. Aku terkaget melihat Carriedo sudah terbaring dengan pisau menancap di dadanya. "Apa yang terjadi?" tanyaku heran. "Aku tidak tahu, aku datang dan tiba-tiba ia sudah terbaring disini!" kata Bonnefoy linglung. Kami lalu bertengkar. Pikiranku kacau, aku menembak Bonnefoy. Lalu dengan ceroboh aku menaruh pistol itu di tangan kanan Bonnefoy. Lalu aku pulang.
Malam ini, Sherlock Holmes, Hoffman, dan kawan-kawannya datang. Aku sudah pasrah, mereka mungkin sudah tahu apa yang aku lakukan. Ternyata tebakanku benar.
"Roderich... Mengapa kau tidak memberitahuku?" tanya Hoffman. Roderich tersenyum, tiba-tiba ia mengeluarkan pistol dari sabuknya, lalu ia mengarahkannya pada Hoffman dan...
DOR!
Edelstein menembak Hoffman, tetapi Ludwig dengan sigap meloncat di depan Hoffman untuk melindunginya. Tanpa terduga, Gilbert menembak Edelstein di saat yang bersamaan.
Edelstein sudah tak bernyawa dengan bekas peluru di kepalanya, Ludwig mencengkram bahunya yang sedang berdarah, Hoffman terpaku di hadapan Ludwig yang kesakitan, dan Gilbert menjatuhkan senjatanya perlahan.
"Beilschmidt?" tanya Hoffman pada Ludwig. Ludwig mengangguk, manandakan bahwa ia baik-baik saja.
"Penyelamatan yang bagus, Tuan Beilschmidt, keduanya." kata Holmes.
"Tugasku dan Watson sudah selesai. Terima kasih atas bantuan anda semua."

The Algebraic Murder - Pt. 11

Aku segera meraup dokumen itu dari atas meja dan berlari menuju kamarku.
Jantungku berdegup cepat. Aku takut. Aku takut ada yang menyakitiku lagi. Aku takut!
Aku jatuh terduduk di atas ranjangku. Aku terdiam. Aku membayangkan aku akan disiksa lagi seperti dulu saat aku masih kecil. Aku gemetar membayangkannya.
"Ada apa, Roderich?" tanya Abellard yang sudah terbangun. Abellard lalu melihat dokumen itu. Ia terbelalak. Ia marah. Ini pertama kalinya kulihat ia marah.
"Roderich?" bisiknya lembut. "Abellard, tolong, jangan beritahu ini kepada siapapun. Bahkan kepada Hoffman dan Hēdērvary. Aku akan membakar dokumen ini, lalu aku akan kabur, saat ini juga. Kau mengerti, Abellard?" kataku serius.
Abellard menengok pada Hoffman dan Hēdērvary yang masih tertidur. "Tapi Roderich..." kata Abellard lirih. "Percayalah padaku." kataku sambil menggenggam erat tangan Abellard. Air mata Abellard meleleh. Ia balas menggenggam tanganku dan tersenyum.
"Berjuanglah sobat, Tuhan menyertaimu!" bisiknya pelan di telingaku. Aku mengangguk, membereskan barang-barangku, dan kabur lewat jendela. Aku menengok ke belakang, aku melihat bangunan itu.
"Selamat tinggal Abellard..."
11 TAHUN KEMUDIAN
"... Sekian, terimakasih." kataku mengakhiri sebuah pidato. Semua orang bertepuk tangan. Aku turun dari podium.
"Pengaruh Perang Prancis-Prusia pada pendidikan, Tuhan, kau hebat, Edelstein!" kata Greenfield, teman sesama dosen. "Terima kasih, Greenfield." jawabku.
Aku pulang ke rumahku. "Tuan, ada surat..." sambut pelayan. "Terimakasih." jawabku.
KEPADA RODERICH EDELSTEIN
DARI ABELLARD SCHWESSER
"Abellard?" gumamku pelan. Aku lalu membaca isi surat itu.
Roderich,
Sudah 11 tahun kita tak saling bertemu. Aku rindu kau. Kudengar kau sekarang mengajar di Universitas Berlin? Kau hebat, Roderich!
Aku mengirim surat ini hanya untuk memberikan kabarku. Semenjak kepergianmu, aku menjaga jarak dari ayah. Tenyata ia hanya ingin mengambil keuntungan darimu, hatiku sakit sekali. 3 tahun yang lalu, ayahku meninggal. Ia terbunuh oleh Pembunuh Aljabar. Kau pasti tahu kan? Yah, entah mengapa aku tidak merasa kehilangan.
Entah.
Sekarang aku menjadi konduktor. Ini mimpiku, Roderich! Aku sangat senang. Viviana sekarang menjadi kekasihku.
Aku sangat ingin bertemu denganmu lagi.
Salam hangat,
Abellard Schwesser
P.S. : Hēdērvary masih sendiri...
Ceria dan berbasa-basi. Sangat khas Abellard.
Aku membalik kertas itu.
51 Slavik St.
Berlin, Jerman
Temui aku kapanpun.
Aku termenung. Tanpa sadar aku mengambil sebilah belati perak dari dalam laci meja kerjaku. Aku mendapat ide.
Tak lama kemudian, aku sudah berada di dalam kereta. Aku membawa belati itu dan secarik soal aljabar.
Astaga, pikirku, Aku akan jadi seorang kriminal! Pikiranku kalut. Takut, tapi ingin kucoba.
Digerogoti pikiran sendiri, aku sampai tak sadar kalau aku sudah berdiri di depan pintu rumah Abellard.
Pintu itu terbuka. Keluarlah seorang lelaki gagah, namun berpembawaan lembut. Berambut pirang dan bermata hijau. Ya, dialah Abellard, pikirku.
"Roderich? Kau Roderich?" tanya Abellard senang. Ia melonjak bahagia ketika aku mengangguk.
"Roderich Edelstein, guru besar Universitas Berlin!" kata Abellard sambil menepuk punggungku bersahabat. Lalu kami masuk.
Kami berbasa-basi, lalu pada pukul 8, Abellard menyiapkan diri untuk pergi. "Mau kemana kau, Abellard?" tanyaku. "Kencan dengan Hoffman." jawabnya sambil tersipu malu. Aku lalu berdiri di belakang Abellard, mengambil belatiku, dan dengan seluruh kekuatan...
STAB!
Abellard terbaring telungkup di atas lantai. "Mengapa, Roderich... Mengapa..." kata-kata terakhir Abellard.
"Dendam, Abellard. Karena air susu dibalas dengan air tuba..."

Jumat, 14 Desember 2012

The Algebraic Murder - Pt. 10

BAGIAN 2
Kisah Hidup Roderich Edelstein


PLAK! DASH! DUG! BRAKK!
Ayah memukuliku tanpa belas kasihan. Ibu hanya menatap dingin seolah setuju. "Dasar anak haram!" hardik Ayah berulang-ulang. Hatiku sakit sekali. Tubuhku dan hatiku sama saja; tidak kuat menghadapi ini. Setiap sore ayahku pulang bekerja, setiap kali itu pula aku dihantam seperti ini.
Aku tidak tahan lagi. Aku akhirnya kabur.
Aku tidak tahu, yang aku lakukan hanya berlari. Berlari sejauh mungkin dari rumah jahanam itu. Lelah, lapar, haus, tak kurasakan. Aku ingin hidup! Aku ingin hakku untuk hidup!
Entah sudah berapa jauh aku berlari, aku melihat sebuah bangunan, besar, berhias lampu-lampu yang indah. Aku sangat lelah. Tapi aku takut, kalau aku masuk bangunan itu, aku akan bertemu seseorang yang akan menyiksaku lagi. Akhirnya aku terhuyung-huyung duduk di depan bangunan itu. Aku lalu tertidur.
Aku lalu terbangun dalam suatu ruangan. Tercium semerbak bunga mawar. Dimanakah ini?
"Halo, sobat kecil." kata anak laki-laki, mungkin berusia 10 tahun.
"Namaku Schwesser, tapi kau bisa memanggilku Abellard. Siapa namamu?" tanya anak itu.
"Roderich," kataku, "Roderich Edelstein."
Aku lalu mengobrol dengan anak itu. "Jadi, bagaimana kau bisa sampai ke tempat ini?" tanya Abellard. Aku lalu menceritakan apa yang telah aku alami. "Oh, astaga kawan, kau beruntung bisa sampai disini!" kata Abellard. "Memang tempat ini apa?" tanyaku. "Ini adalah sebuah teater. Aku adalah anggota dari orkestra teater. Kau bisa bermain alat musik?" kata Abellard. "Yah, aku bisa sedikit bermain piano.." kataku. "Aku ingin lihat permainanmu. Ayo, ikut aku!" kata Abellard sambil menarik tanganku.
Aku lalu sampai di sebuah aula, aku melihat sebuah gendang, banyak cello, tapi satu benda yang menarik perhatianku; sebuah piano tua, teronggok manis di pojok kiri ruangan, sungguh indah.
"Ini tempat kami berlatih dan..." kata-kata Abellard terputus oleh suara langkah kaki yang berat dari balik punggung kami. Aku menoleh. Berdirilah seorang lelaki paruh baya yang sudah agak beruban. Aku bergidik membayangkan ayahku. Namun pria ini memiliki sorot mata kebapakan.
"Siapa ini, Abellard?" tanya bapak itu sambil berjongkok agar tingginya sama denganku. Aku menunduk, aku jadi teringat makian ayahku dan tatapan dingin ibuku. "Oh, namanya Roderich. Roderich, perkenalkan, ini ayahku, Auckman Schwesser. Ayahku pemilik orkestra ini." kata Abellard. Ia lalu menceritakan apa yang telah kualami.
"Bocah malang," kata Tuan Schwesser sambil menatapku iba, "Nah, sekarang ayo kita lihat kemampuanmu!" kata Tuan Schwesser sambil menarik kursi piano untukku.
Aku lalu memainkan lagu kesukaanku, "Symphony No. 40 In G Minor". Aku senang sekali memainkannya. Bermain piano membebaskan pikiranku dari segala ketakutan.
Tuan Schwesser tercengang. Abellard pun tak jauh berbeda. "Kau hebat sekali! Siapa yang mengajarimu?" tanya Tuan Schwesser. "Aku tidak tahu, aku hanya... mendengar." jawabku ragu.
Tuan Schwesser tercekat. "Jangan-jangan kau..." Tuan Schwesser terguncang, "Jangan-jangan bapakmu itu... Mösen Edelstein?"
Aku lalu teringat tulisan di depan flat ayah – Mr. Mösen Edelstein. "Ya... Ada apa?" tanyaku.
"Mösen Edelstein dulunya adalah bintang di orkestra ini. Semuanya berubah ketika Ia menghamili ibumu, Miller Grosling, yang sudah menjadi tunangan dari pengusaha terkenal, Sebastian Verde. Ayahmu pun dikeluarkan dari orkestra. Grosling pun diceraikan oleh Verde. Jadi mungkin itu penyebab kemalanganmu." jelas Tuan Schwesser.
"Tapi kau kan sudah berada di sini," kata Abellard, "Jadi kau akan aman! Ya kan, ayah?"
"Ya, aku akan memasukkanmu dalam orkestra ini. Kau akan punya nama panggung!" kata Tuan Schwesser sambil mengguncang-guncang tubuhku. "Sekarang beristirahatlah," kata Tuan Schwesser, "Aku tahu kau lelah. Hari sudah malam. Beristirahatlah. Asrama ada di sebelah sana. Antarkan dia, Abellard."
"Baik, Ayah." jawab Abellard patuh.
Aku terbangun. Arloji di samping tempat tidurku menunjukkan pukul 8 lewat 16. "Selamat pagi, Roderich! Ayo kita sarapan!" sambut Abellard hangat. Lalu aku mengikutinya ke ruang makan. Di ruang makan aku melihat sudah ada dua anak perempuan. Perawakan mereka sama, tapi satu anak berwajah keras, berambut hitam lurus dan sangat panjang, berkulit sangat putih, putih seperti salju. Satu lagi berwajah lembut dengan rambut pirang yang mengembang alami dan kulitnya lebih cerah dari pada si rambut hitam.
"Abellard! Selamat pagi!" sambut si rambut pirang. "Menu hari ini sup jagung." kata si rambut hitam sambil tersenyum tipis.
"Bagus!" kata Abellard. "Perkenalkan, namanya Roderich Edelstein. Ia anggota baru kita." kata Abellard memperkenalkanku.
"Halo, Edelstein! Namaku Elizaveta Hēdērvary! Aku violinis junior disini. Salam kenal!" kata si rambut pirang.
"Selamat pagi, Edelstein. Namaku Viviana Hoffman. Aku sama dengan Hēdērvary. Salam kenal. Apa yang membawamu ke sini?" kata si rambut hitam. Abellard lalu menceritakan kejadian yang menimpaku. "Astaga," kata Hoffman, "Ayo makan dulu, lalu kita akan latihan."
Hari demi hari berlalu. Persahabatanku dengan ketiga anak itu berkembang, menjadi persaudaraan. Heinrich Dressler, nama panggung yang dikalungkan padaku. Aku menjadi bintang di orkestra tersebut. Tak terasa 6 tahun berlalu. Pada usia 11 tahun, aku resmi menjadi virtuoso. Hidupku baik-baik saja dan masa depanku terjamin bersama orkestra ini. Hingga kejadian itu menimpaku.
Aku terbangun dari tidurku. Aku menengok disampingku, Abellard masih tertidur. "Hei! Abellard!" bisikku pelan. Ia tetap tidak terbangun. Kami memang baru saja melaksanakan pertunjukan penting di pusat kota semalam, jadi tidak heran kalau ia kelelahan.
"Apa boleh buat," kataku sambil mengangkat bahu. Aku lalu berjalan-jalan di sekitar koridor. "Apa yang anda lakukan, Tuan muda?" tanya Waters, pelayan yang sudah agak lama tinggal di sini. "Tolong jangan panggil aku Tuan muda," kataku sambil tersenyum, "Yah, aku hanya berjalan-jalan, aku tidak bisa tidur."
Aku lalu melihat sebuah pintu terbuka. Aku lalu masuk ke dalamnya. Ternyata itu adalah ruang kerja Tuan Schwesser. Aku hampir keluar ketika aku melihat sebuah dokumen yang bertuliskan namaku di atas meja kerja.
NAMA: RODERICH EDELSTEIN
USIA: 11 TAHUN
TERIMA DARI: AUCKMAN SCHWESSER
HARGA: 1,000,000 POUNDSTERLING
"Apa..?" kataku syok.
"Aku..."
"Dijual...??"

Sabtu, 08 Desember 2012

The Algebraic Murder - Pt. 9

Hoffman terbelalak. "Roderich... Tidak mungkin!" Hoffman marah. "Tapi Nona, pendengaranku masih baik..." kata Mallard. "Baiklah Tuan, terima kasih atas bantuan anda." kata Holmes. Kami lalu kembali ke kereta pergi ke rumah Roderich Edelstein. Hoffman masih terpaku. "Aku.. Aku tidak percaya..." kata Hoffman. "Segalanya bisa terjadi, Nona Hoffman. Selama belum 0%, segalanya masih bisa terjadi." kata Holmes.
Kami lalu sampai di kediaman Edelstein. Saat itu sudah tengah malam. "Aku akan masuk lewat belakang." kata Hoffman. "Tidak." kata Holmes menahan tangan Hoffman. Terjadi kesunyian. Hoffman menatap mata Holmes yang tajam lekat-lekat. "Ayo, kita tidak punya banyak waktu." kata Holmes sambil menarik tangan Hoffman ke depan pintu. Holmes mengetuk pintu itu. Tidak ada jawaban. "Tentu, dia sudah tertidur." kata Holmes. "Tidak. Ia selalu terjaga hingga pagi datang lagi." kata Hoffman. Benar saja, pintu itu terbuka.
"Oh, kalian! Ada apa kali ini?" tanya Edelstein ramah. "Boleh kami masuk?" tanya Holmes. "Baiklah. Silakan masuk." kata Edelstein kemudian. "Jadi, apa yang bisa kubantu?" tanya Edelstein.
"Sebenarnya kami tidak ingin minta tolong. Tapi aku ingin bercerita tentang sesuatu." kata Holmes sambil tersenyum. Semua orang keheranan. "Baiklah." kata Edelstein tersenyum heran.
"Jadi, kau ingin membunuh semua anggota orkestra. Lalu kau mengetahui tentang latar belakang Hoffman. Kau melihat ini sebagai sebuah... Kau tahu, kesempatan. Lalu kau berpikir untuk membunuh konduktor, yaitu Schwesser. Kau menggunakan modus operandi Hoffman, jadi Hoffmanlah yang akan dituduh."
"Benar saja, Hoffman lalu ditangkap. Kau pun kalap dan membunuh Hedervary."
Wajah Gilbert memerah.
"Disini kau melakukan kesalahan. Kau tampaknya tidak tahu kalau Hoffman beraksi sendiri. Begitu mayat Hedervary ditemukan, polisi langsung membebaskan Hoffman. Lalu kami membawakan kertas yang berisi soal aljabar. Kali ini aku yang melakukan kesalahan. Aku tidak melihat kertas itu, dan malah mempercayaimu."
"Mengapa itu salah?" tanya Edelstein.
"Itu artinya aku mempermudahmu melakukan trik psikologi terbalik. Kau mengatakan sifat yang sama sekali berlawanan denganmu."
"Dari kunjungan itu, aku mengetahui satu hal yang pasti,"
"Carriedo dan Bonnefoy sudah mengenalmu sebelumnya. Aku tahu itu karena Bonnefoy kidal. Saat kau bersalaman dengannya, kau mengulurkan tangan kiri. Kalau kalian belum saling kenal, kau akan mengulurkan tangan kananmu. "
"Lalu baru saja malam ini, kau datang ke kediaman Carriedo dan Bonnefoy. Entah apa yang kalian bicarakan, tampaknya seru sekali. Sampai-sampai pemilik flat itu mendengar beberapa kata dari pertengkaran kalian. Tapi dari surat ini," kata Holmes sambil mengambil surat dari Carriedo dan mengacung-acungkannya ke udara, "Aku tahu kalau mereka adalah informanmu."
"Holmes! Apa-apaan kau ini? Semua omong kosongmu itu!" kata Ludwig marah. Memang Carriedo dan Bonnefoy adalah sahabat baik Ludwig.
Tanpa mengindahkan kata-kata Ludwig, Holmes melanjutkan ceritanya. "Carriedo ingin berhenti karena alasan pribadi. Lalu entah mengapa kau membunuh Bonnefoy. Lagi-lagi kau melakukan kesalahan, kau terburu-buru. Kau meletakkan pistol itu di tangan kanannya. Yah, itu adalah segala hal yang kutahu."

Edelstein hanya diam. Namun tatapan matanya tetap tenang. "Tolong katakan semua itu salah.. Tolong, Roderich.." kata Hoffman.
Edelstein tersenyum dan menggeleng. "Yah, apa yang dikatakan tuan ini ada benarnya. Tapi aku akan menambahkan apa yang kalian tidak ketahui."

Jumat, 07 Desember 2012

Curcol Parah -.-

Oke sungguh author yang buruk, bukannya nyelesaiin fic malah curcol -.- tapi gue butuh curcol ini.

Yaa jadi kan gue sekarang punya account ffn (liongholmes14), terus gue nyari forum Sherlock Holmes. Nah ada suatu forum (gue gak akan sebut nama forum ini), sebut aja namanya How To Sherlock. Ya jadi isi forum ini adalah cara membuat fanfic SH yang (katanya sih) baik dan benar. Dan dari situ ada beberapa yang gue langgar, yaitu:

- Sherlock Holmes NEVER fall in love
- NEVER ship Sherlock Holmes with an OC
- No bursting into tears
Yaa pokoknya terlalu banyak yang gue langgar lah gila.

Pasti lo mikir, "Kalo gak suka kenapa gak ngomong aja langsung ke orangnya?" kenapa? Bukan gue takut atau apa, tapi soalnya gue tau pasti jawabannya "If you don't like it, it's up to you". Itu terlalu.. apa ya.. terlalu predictable dan mainstream lah. I mean... AAAAH!

Karena setau gue ya, ff adalah cerita yang kita bikin sendiri tanpa plagiasi, tapi tokohnya diambil dari cerita orang. Nggak ada tuh ketentuan harus IC (In Character).

Ya pokoknya gitu dah. Sori ya kalo gak jelas. Namanya juga curcol. byee~

Kamis, 06 Desember 2012

The Algebraic Murder - Pt. 8

"Apa?" tanya Ludwig tak percaya. "Cepat panggil Sherlock Holmes!"

-:::::::::::::::::-

Aku melihat Hoffman menangis di pundak Holmes. Melihatku, Hoffman langsung mengusap airmatanya dan kembali ke posisi semula. "Tidak ada apa-apa, Watson, aku jamin," kata Holmes sambil tertawa kecil, "Baru saja aku mendapat telegram. Bacalah, Watson." Berikut ini isi dari telegram itu.

Kepada Tuan Sherlock Holmes, Dr. John Watson, dan Nona Viviana Hoffman.
Cepatlah kemari.
Carriedo dan Bonnefoy menghilang.

Beilschmidt Bersaudara

"Bagaimana..?" tanyaku kaget. "Kita lihat nanti, Watson." kata Holmes. Lalu kami berangkat menuju kediaman Beilschmidt bersaudara.


"Selamat malam, Tuan Holmes, Dr. Watson, Nona Hoffman. Ayo masuk!" kata Gilbert menyambut kami.
"Bagaimana kejadiannya?" tanya Holmes. Gilbert pun menceritakan apa yang terjadi. Holmes lalu berpikir keras. Tiba-tiba Ia tersentak. "Kau tahu alamat rumah mereka berdua?" tanya Holmes. Ludwig dan Gilbert kaget. 'Tapi, Tuan Holmes.." kata Ludwig terputus, "Jawab pertanyaanku." tegas Holmes.
"Aku tahu. Mereka tinggal dalam satu flat yang sama." kata Ludwig. "Tolong tunjukkan jalannya." kata Holmes.

Kami sudah tiba di depan flat tersebut. Holmes mengetuk pintunya. Tiada jawaban. Lalu Ia mengetuk lagi. Masih tiada jawaban. Holmes mencoba membuka pintu itu. Ternyata pintunya tidak dikunci. Kami masuk dan menyiapkan senjata masing-masing. Kami lalu memasuki ruang kerja.

"Ah!" Gilbert menjerit kecil. Ludwig menutup mata, Holmes tersentak, Hoffman terdiam.

"Carriedo dan Bonnefoy..." kata Gilbert,
"Mati!"



Sungguh mengerikan pemandangan yang sedang kulihat; Carriedo telentang dengan pisau yang menancap di dadanya, dan Bonnefoy terduduk di sudut ruangan dengan revolver di tangan kanannya. Holmes lalu meneliti kedua mayat itu.
"Kalian tetap disini, aku akan mencari pemilik flat ini." kata Holmes.
Gilbert masih terlihat syok, begitu pula Ludwig. Hoffman masih terlihat sangat tenang. Aku bersumpah aku bisa melihat senyum tipis tersungging di bibirnya. Menyadari tatapanku, Hoffman menatapku lekat-lekat dan tersenyum pahit.
"Ada apa, Tuan-tuan?" tanya seorang bapak tua. "Oh, aku lupa. Perkenalkan, Tuan Arthur Mallard, pemilik flat ini." kata Holmes yang muncul dari balik punggung bapak tua itu.
"Kalian teman Carriedo dan Bonnefoy, bukan? Baik, aku akan mulai bercerita." kata Tuan Mallard.

"Pada pukul 7 tadi, ada seorang lelaki datang kemari. Masih muda, kira-kira 20 tahun-an. Lalu terjadi pertengkaran. Aku mendengar mereka menyebut nama "Holmes" dan "Hoffman". Lalu pertengkaran itu semakin terdengar pelan, lalu sesaat kemudian pria itu keluar. Oh ya, sebelum pria itu datang, Carriedo meninggalkan surat ini. "Berikan kepada pria yang bernama Sherlock Holmes," katanya."
Mallard mengambil sebuah amplop dari saku jasnya dan memberikannya pada Holmes.

Holmes menerima amplop itu, membukanya, lalu membacanya. Beberapa detik kemudian saat membaca surat, wajahnya memerah. Lalu ia menutup surat itu dan memasukkannya dalam kantongnya.
"Apakah anda tahu siapa nama pria itu?" tanya Holmes.

Mallard terlihat berpikir. "Ya, selain nama "Holmes" dan "Hoffman", ada satu lagi nama yang sangat sering diucapkan, lebih sering dari kedua nama itu. Namanya adalah..."

"..Roderich..."