Halaman

Jumat, 14 Desember 2012

The Algebraic Murder - Pt. 10

BAGIAN 2
Kisah Hidup Roderich Edelstein


PLAK! DASH! DUG! BRAKK!
Ayah memukuliku tanpa belas kasihan. Ibu hanya menatap dingin seolah setuju. "Dasar anak haram!" hardik Ayah berulang-ulang. Hatiku sakit sekali. Tubuhku dan hatiku sama saja; tidak kuat menghadapi ini. Setiap sore ayahku pulang bekerja, setiap kali itu pula aku dihantam seperti ini.
Aku tidak tahan lagi. Aku akhirnya kabur.
Aku tidak tahu, yang aku lakukan hanya berlari. Berlari sejauh mungkin dari rumah jahanam itu. Lelah, lapar, haus, tak kurasakan. Aku ingin hidup! Aku ingin hakku untuk hidup!
Entah sudah berapa jauh aku berlari, aku melihat sebuah bangunan, besar, berhias lampu-lampu yang indah. Aku sangat lelah. Tapi aku takut, kalau aku masuk bangunan itu, aku akan bertemu seseorang yang akan menyiksaku lagi. Akhirnya aku terhuyung-huyung duduk di depan bangunan itu. Aku lalu tertidur.
Aku lalu terbangun dalam suatu ruangan. Tercium semerbak bunga mawar. Dimanakah ini?
"Halo, sobat kecil." kata anak laki-laki, mungkin berusia 10 tahun.
"Namaku Schwesser, tapi kau bisa memanggilku Abellard. Siapa namamu?" tanya anak itu.
"Roderich," kataku, "Roderich Edelstein."
Aku lalu mengobrol dengan anak itu. "Jadi, bagaimana kau bisa sampai ke tempat ini?" tanya Abellard. Aku lalu menceritakan apa yang telah aku alami. "Oh, astaga kawan, kau beruntung bisa sampai disini!" kata Abellard. "Memang tempat ini apa?" tanyaku. "Ini adalah sebuah teater. Aku adalah anggota dari orkestra teater. Kau bisa bermain alat musik?" kata Abellard. "Yah, aku bisa sedikit bermain piano.." kataku. "Aku ingin lihat permainanmu. Ayo, ikut aku!" kata Abellard sambil menarik tanganku.
Aku lalu sampai di sebuah aula, aku melihat sebuah gendang, banyak cello, tapi satu benda yang menarik perhatianku; sebuah piano tua, teronggok manis di pojok kiri ruangan, sungguh indah.
"Ini tempat kami berlatih dan..." kata-kata Abellard terputus oleh suara langkah kaki yang berat dari balik punggung kami. Aku menoleh. Berdirilah seorang lelaki paruh baya yang sudah agak beruban. Aku bergidik membayangkan ayahku. Namun pria ini memiliki sorot mata kebapakan.
"Siapa ini, Abellard?" tanya bapak itu sambil berjongkok agar tingginya sama denganku. Aku menunduk, aku jadi teringat makian ayahku dan tatapan dingin ibuku. "Oh, namanya Roderich. Roderich, perkenalkan, ini ayahku, Auckman Schwesser. Ayahku pemilik orkestra ini." kata Abellard. Ia lalu menceritakan apa yang telah kualami.
"Bocah malang," kata Tuan Schwesser sambil menatapku iba, "Nah, sekarang ayo kita lihat kemampuanmu!" kata Tuan Schwesser sambil menarik kursi piano untukku.
Aku lalu memainkan lagu kesukaanku, "Symphony No. 40 In G Minor". Aku senang sekali memainkannya. Bermain piano membebaskan pikiranku dari segala ketakutan.
Tuan Schwesser tercengang. Abellard pun tak jauh berbeda. "Kau hebat sekali! Siapa yang mengajarimu?" tanya Tuan Schwesser. "Aku tidak tahu, aku hanya... mendengar." jawabku ragu.
Tuan Schwesser tercekat. "Jangan-jangan kau..." Tuan Schwesser terguncang, "Jangan-jangan bapakmu itu... Mösen Edelstein?"
Aku lalu teringat tulisan di depan flat ayah – Mr. Mösen Edelstein. "Ya... Ada apa?" tanyaku.
"Mösen Edelstein dulunya adalah bintang di orkestra ini. Semuanya berubah ketika Ia menghamili ibumu, Miller Grosling, yang sudah menjadi tunangan dari pengusaha terkenal, Sebastian Verde. Ayahmu pun dikeluarkan dari orkestra. Grosling pun diceraikan oleh Verde. Jadi mungkin itu penyebab kemalanganmu." jelas Tuan Schwesser.
"Tapi kau kan sudah berada di sini," kata Abellard, "Jadi kau akan aman! Ya kan, ayah?"
"Ya, aku akan memasukkanmu dalam orkestra ini. Kau akan punya nama panggung!" kata Tuan Schwesser sambil mengguncang-guncang tubuhku. "Sekarang beristirahatlah," kata Tuan Schwesser, "Aku tahu kau lelah. Hari sudah malam. Beristirahatlah. Asrama ada di sebelah sana. Antarkan dia, Abellard."
"Baik, Ayah." jawab Abellard patuh.
Aku terbangun. Arloji di samping tempat tidurku menunjukkan pukul 8 lewat 16. "Selamat pagi, Roderich! Ayo kita sarapan!" sambut Abellard hangat. Lalu aku mengikutinya ke ruang makan. Di ruang makan aku melihat sudah ada dua anak perempuan. Perawakan mereka sama, tapi satu anak berwajah keras, berambut hitam lurus dan sangat panjang, berkulit sangat putih, putih seperti salju. Satu lagi berwajah lembut dengan rambut pirang yang mengembang alami dan kulitnya lebih cerah dari pada si rambut hitam.
"Abellard! Selamat pagi!" sambut si rambut pirang. "Menu hari ini sup jagung." kata si rambut hitam sambil tersenyum tipis.
"Bagus!" kata Abellard. "Perkenalkan, namanya Roderich Edelstein. Ia anggota baru kita." kata Abellard memperkenalkanku.
"Halo, Edelstein! Namaku Elizaveta Hēdērvary! Aku violinis junior disini. Salam kenal!" kata si rambut pirang.
"Selamat pagi, Edelstein. Namaku Viviana Hoffman. Aku sama dengan Hēdērvary. Salam kenal. Apa yang membawamu ke sini?" kata si rambut hitam. Abellard lalu menceritakan kejadian yang menimpaku. "Astaga," kata Hoffman, "Ayo makan dulu, lalu kita akan latihan."
Hari demi hari berlalu. Persahabatanku dengan ketiga anak itu berkembang, menjadi persaudaraan. Heinrich Dressler, nama panggung yang dikalungkan padaku. Aku menjadi bintang di orkestra tersebut. Tak terasa 6 tahun berlalu. Pada usia 11 tahun, aku resmi menjadi virtuoso. Hidupku baik-baik saja dan masa depanku terjamin bersama orkestra ini. Hingga kejadian itu menimpaku.
Aku terbangun dari tidurku. Aku menengok disampingku, Abellard masih tertidur. "Hei! Abellard!" bisikku pelan. Ia tetap tidak terbangun. Kami memang baru saja melaksanakan pertunjukan penting di pusat kota semalam, jadi tidak heran kalau ia kelelahan.
"Apa boleh buat," kataku sambil mengangkat bahu. Aku lalu berjalan-jalan di sekitar koridor. "Apa yang anda lakukan, Tuan muda?" tanya Waters, pelayan yang sudah agak lama tinggal di sini. "Tolong jangan panggil aku Tuan muda," kataku sambil tersenyum, "Yah, aku hanya berjalan-jalan, aku tidak bisa tidur."
Aku lalu melihat sebuah pintu terbuka. Aku lalu masuk ke dalamnya. Ternyata itu adalah ruang kerja Tuan Schwesser. Aku hampir keluar ketika aku melihat sebuah dokumen yang bertuliskan namaku di atas meja kerja.
NAMA: RODERICH EDELSTEIN
USIA: 11 TAHUN
TERIMA DARI: AUCKMAN SCHWESSER
HARGA: 1,000,000 POUNDSTERLING
"Apa..?" kataku syok.
"Aku..."
"Dijual...??"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar