Aku sudah sampai di rumah. Pikiranku berkecamuk, entah kenapa. "Ayolah, Holmes hanyalah sahabatmu! Kau bisa hidup tanpa dia!" teriak akal sehatku. Namun hatiku tak mau menurut.
Tak terasa, matahari sudah terbit kembali. "Oh, apakah aku tidur semalam?" gumamku pada diriku sendiri. Aku pun teringat akan Holmes. Dia akan datang pagi ini, pikirku. Lalu aku bersiap dan mengenakan jas terbaikku.
Bel berbunyi. Oh, segalanya berjalan begitu cepat, pikirku. Aku terdiam. Mr. dan Mrs. Holmes berdiri tepat di balik kayu setebal 3 sentimeter ini. Apakah aku siap?
Bel kembali berbunyi. Oh, tentu saja aku siap. Aku harus siap. Aku membukakan pintu. "Hallo, Watson! Belakangan ini aku harus membunyikan bel 2 kali, bukan?" sapa Holmes dengan selera humornya. Di sebelahnya berdiri seorang wanita cantik dan berkulit putih, tanda orang yang bekerja dalam ruangan.
Ya, hadapi itu Watson, dialah Rachel Holmes, pikirku lagi-lagi. "Jadi andalah John Watson? Saya sering mendengar tentang anda." kata Mrs. Holmes dengan sopan. "Ya, terima kasih. Oh, silakan masuk!" kataku.
"Wah, sepertinya London bertambah sehat bukan, Watson? Kulihat praktekmu sepi." kata Holmes. "Oh ya, senang mendengarnya." kataku. "Yah, aku tahu kau pasti mempertanyakan keputusan krusialku untuk menikah," kata Holmes,
"Aku sadar, wanita tidaklah buruk. Mereka baik, jika kau memperlakukan mereka dengan baik pula." kata Holmes. "Oh, begitu rupanya." kataku. "Aku merasa kesal saat kau menikah, jadi kupikir ini pembalasan!" kata Holmes sambil tertawa kecil. Mrs. Holmes tersenyum. Wanita ini tidak banyak bicara, pikirku.
Setelah bincang-bincang yang tidak penting, tamuku keluar. Sepertinya aku harus mencoba obat antidepresan Holmes, pikirku, Kokain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar