Halaman

Minggu, 27 Januari 2013

Pendapat Gue Tentang Diksi

Di awal tulisan ini, gue mau menegaskan bahwa gue nggak bikin tulisan ini untuk menyerang suatu pihak maupun membela pihak lainnya. Gue cuma mau menyalurkan pendapat. That IS all.

Gue mau mulai dengan seorang teman. Sahabat, bisa dibilang. Mungkin sekarang ia sedang membaca tulisan ini. Mungkin.
Seorang yang berbakat dalam bidang seni, khususnya sastra. Diksinya keren. Banget. Untuk anak seusia kita itu udah wah banget. Gue bisa melihat dia bersinar di masa depan. Amin Allahumma Amin.

Jujur, gue bukanlah penyuka diksi. Bahkan kadang-kadang, kalo gue nemu diksi yang agak panjang di sebuah cerita, biasanya bakal gue skip. Serius.
Makanya, gue bikin cerita juga singkat-singkat. Karena ya itu, dikit banget diksinya.

Pada dasarnya gue juga gak sampe gak bisa bikin diksi sama sekali, bisa, tapi kalo disuruh bikin tuh rasanya otak kosong. Mendingan gue bikin satu cerita sekalian dibanding bikin diksinya doang.

Sejak usia muda, kawan gue ini emang udah menunjukkan keberhasilannya dalam menulis. Bahkan gue pun merasa masih berada satu (atau beberapa?) tingkat dibawahnya. Karena apa? Ya itu, diksinya keren.

Lantas gue mikir, sepenting itukah diksi? Gue mulai mikir yang enggak-enggak. Jangan-jangan gue gak bisa sukses di bidang menulis karena gue miskin diksi, dan lain-lainnya.

Gue bingung. Masa iya gue harus berhenti menulis gara-gara ini. Enggak lah. Pasti ada jalan.

Tiba-tiba idola gue melintas di pikiran gue. Tentu saja—Arthur Conan Doyle! Gue langsung nyengir coretpedocoret seneng.
Gimana enggak? Coba lu baca Sherlock Holmes dah. Satu buku aja. Dan kasih tau gue kalo lo bisa mendapatkan lebih dari 10 diksi di dalemnya.

Jawabannya: Mustahil! Bahkan gue gak yakin lo bisa nemuin diksi di situ. Ya, Doyle memang sangat jarang menggunakan diksi. Tapi coba lihat sekarang. Gak usah jauh-jauh, di sekitar lo aja. Berapa orang Sherlockian yang lo kenal? Atau lebih dekat lagi,

Jangan-jangan lo juga Sherlockian?

Singkatnya, Doyle menggunakan sangat sedikit diksi, tapi karyanya sangat disukai orang. Kenapa? Karena penyelesaiannya yang cerdas.

Coba kita lihat Twilight. Dari tebel bukunya aja, kita udah bisa menyimpulkan banyaknya diksi yang ada di dalemnya. Ratusan!

So what? Penggemarnya Twilight juga gak kalah kan sama penggemarnya Sherlock Holmes? Ya, bahkan mungkin jumlah penggemar Twilight sekarang melebihi jumlah Sherlockian.

Tapi itu SEKARANG. Lo harus inget, Sherlock Holmes sudah ada dari hampir 2 abad yang lalu. Dan buktinya, karya itu bisa tetep eksis sampe sekarang. Yah, kita akan lihat. Sejauh manakah Twilight akan bertahan? 1 abad? 2 abad? 3 abad? Atau hanya 10 tahun?

Akhirnya gue menyadari bahwa banyak hal yang dapat membuat sebuah tulisan menjadi sebuah mahakarya. Jadi, buat kawan-kawan gue yang mengalami kegundahan yang kira-kira sama dengan gue,

Cheers.

P.S. :
Gue nulis pake bahasa formal ya? Maklum sudah teracuni Sherlock Holmes.

Minggu, 06 Januari 2013

Info The Quest of Eldorado

Oke jadi gue mau kasih tau sesuatu tentang The Quest of Eldorado.
Gue punya dua kabar tentang ff ini, kabar baik dan kabar buruk.
Kabar baiknya, The Quest of Eldorado sudah di-post di ffn dan mendapat respon yang baik. Bahkan gue udah dapet 2 followers!
Kabar buruknya, gue memutuskan segala aktifitas fanfictioning akan gue pindahkan ke ffn. Jadi blog ini akan jadi sampah curhat doang. Atau kalo gue mau bikin OC, baru deh rame.
Tapi tetep kok, gue akan kasih kabar tentang ff gue di twitter @moonjelly1412 . Kalo ada kritik atau saran, silakan mention atau DM ke @moonjelly1412 . Makasih, sekian dari gue.

Sabtu, 05 Januari 2013

The Quest of Eldorado - Ch. 3

"Berhenti," kata Shinichi pada supir taksi. Lalu ia keluar dari taksi. "Ini dimana sih?" tanya Ran. Shinichi lalu tersenyum senang. "Masa' kamu nggak lihat?" Shinichi menunjuk pintu sebuah flat. Ran lalu mendekatkan matanya ke pintu yang dimaksud. "221B?" Ran lalu mengingat-ingat, dimana ia pernah mendengar kata-kata itu. "Oooh! Ini tempat tinggal Sherlock Holmes?" kata Ran. Shinichi mengangguk senang. "Ia mengundangku kesini. Kamu juga! Ayo!" kata Shinichi. Lalu ada wanita tua keluar dari pintu yang dimaksud.
"Shinichi Kudo? Ran Mouri? Itu kalian?" tanya wanita tua itu bersahabat. "Ya. Dan anda?" tanya Shinichi. "Hudson. Mrs. Hudson. Mr. Holmes dan Dr. Watson sudah menunggu kalian. Ayo masuk!" jawab Mrs. Hudson.

Mereka lalu masuk ke ruang kerja Sherlock Holmes. Sherlock Holmes, Dr. John Watson, dan seorang pria yang tak mereka kenal sedang berada dalam ruangan itu.
"Shinichi Kudo?" sambut Holmes hangat. "Ya. Sebuah kehormatan dapat bertemu dengan anda." kata Shinichi menyembunyikan ledakan kegembiraannya. "Kehormatan itu untukku, Nak. Kau sudah menjadi detektif pada usia yang sangat muda. Oh, ini dia pacarmu. Mouri, eh?" kata Holmes.
Wajah Ran dan Shinichi memerah.
"Engg jadi kita ini..."
"Kita bukan pacaran..."
"Iya kita teman dekat saja..."
"Hahaha iya iya..."

Canggung sekali.

Holmes lalu tertawa. "Baiklah, anggap saja kalian ini teman dekat." kata Holmes.
Shinichi dan Ran mengangguk kaku.
"Ini misi kita. Perkenalkan, Tuan Lionel Vespucci." kata Holmes sambil memperkenalkan Vespucci pada Shinichi dan Ran. Lalu Vespucci menceritakan apa yang telah terjadi.
"Lalu, ada apa sehingga kau memanggilku?" tanya Shinichi setelah Vespucci selesai menjelaskan. "Karena ini." Holmes menyerahkan pesan yang ditinggalkan oleh Aurelia Vespucci.
"Kau kan tahu, aku selalu mengikuti kabar kriminalitas di seluruh dunia. Lalu aku mendengar tentang Kaito Kid ini. 1412, itulah kodenya. Aku juga tahu kalau rival utamanya adalah kamu, Shinichi Kudo. Yukiko Kudo tampil di teater kota hari ini. Aku mengenal Yukiko Kudo dari Yusaku; Yusaku adalah teman baikku. Lalu aku mendapat info dari mereka kalau kau tinggal di Hotel Northumberland bersama ayah, ibu, dan pa... Maksudku temanmu. Aku menyuruh Billy mengantarkan surat itu." kata Holmes.
"Lalu bagaimana dengan dia?" tanya Shinichi sambil menunjuk Ran.
"Aku dengar kau atlet karate, Nona?" tanya Holmes sambil tersenyum pada Ran. Ran mengangguk. "Itulah kenapa aku membutuhkannya. Meskipun aku bisa bertinju, tapi mereka tidak akan meremehkanku. Sebaliknya, Nona muda ini pasti akan dianggap lemah, sehingga mereka akan lengah. Dengan begitu kita akan lebih mudah mengalahkan mereka." jelas Holmes.
"'Mereka'?" tanya Shinichi. Sherlock Holmes lalu mendekatkan wajahnya pada Shinichi dan berbisik tepat di telinga Shinichi,

"Black Organization."

The Quest of Eldorado - Ch. 2

"Apa?!" teriak Shinichi tak percaya. Ia lalu membaca surat itu.


Kepada
Shinichi Kudo

Kudo, saya tahu kamu kira ini lelucon. Tapi sungguh, akulah Sherlock Holmes, dan aku butuh bantuanmu. Aku tidak mengirim lewat e-mail, SMS, ataupun telpon, karena semuanya bisa disadap. Orang yang memberikan surat ini padamu adalah pesuruhku, Billy. Ia sudah bekerja padaku sejak lama sekali, jadi ia dapat dipercaya.
Soal misi kita, terlalu berbahaya bila kujelaskan disini. Datanglah pukul 14:00 ke 221B Baker Street.

Sherlock Holmes

P.S.:
Bawa pacarmu, dia mungkin berguna.

Muka Shinichi memerah ketika Holmes menyebut Ran 'pacarnya'. Shinichi langsung berkemas dan mengajak Ran. "Kita mau kemana?" tanya Ran. "Ra-ha-si-a!" kata Shinichi menirukan gaya Ran.
__________________________
Tiga orang pria muda; dua tinggi kurus dan satu agak gemuk; berjalan dalam kepadatan lalu lintas pejalan kaki di London. Mereka lalu masuk ke dalam sebuah gudang kosong.

"Semua sudah beres?" tanya seorang pria yang duduk di dalam gudang itu sambil merokok. Ia adalah atasan mereka bertiga.
"Ya. Aku sudah mendapatkan sedikit dari kekayaan kita." kata si pria kurus tinggi berambut hitam sambil menyerahkan sebuah kantong kecil kepada atasannya. Atasannya pun mengangguk-angguk.
"Aku berhasil mendapatkan peta menuju sumber kekayaan kita." kata si pria gemuk sambil menyerahkan secarik kertas. Atasannya pun mengangguk-angguk.
"Aku berhasil membunuh Aurelia Vespucci." kata si pria tinggi kurus berambut perak panjang. Atasannya pun mengangguk-angguk lagi.
"Bagus! Hilangkan semua bukti, besok kita menuju Kota Eldorado. Mengerti?" kata si atasan bersemangat.

Ketiga pria itu mengangguk.

"Baik, Profesor."

Kamis, 03 Januari 2013

The Quest of Eldorado - Ch. 1

"Tunggu dulu, Nona Vespucci!" kata Suarez, awak kapal kepercayaan Vespucci, tersengal-sengal. "Anda yakin atas hal ini?" tanyanya penuh pertimbangan. Vespucci, yang semakin dekat dengan batu yang sangat besar di belantara hutan Amazon itu pun berbalik.
"Tentu saja aku yakin! Kalau kita berhasil mendapatkan semua harta yang ada disini, kita akan menjadi kaya, dan tidak perlu lagi menjadi penjelajah dan hidup susah seperti sekarang!" kata Vespucci bersemangat. Awak kapal lain pun bersorak sorai membesarkan hati tuannya. "Tapi, Nona, bagaimana kalau kita salah? Bagaimana kalau memang kota itu tidak pernah ada?" tanya awak kapal lainnya.
"Kupertaruhkan nama leluhurku, itu tidak akan terjadi." kata Vespucci penuh keyakinan.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo kita dorong batu itu!" teriak seorang awak, menyulut semangat seluruh anggota penjelajahan. Bersama-sama, Vespucci dan anak buahnya mendorong batu itu sekuat tenaga.
BRAAK! Batu itu lalu terjungkal. Tersibaklah sebuah dunia dibalik batu itu.

"Hadirin sekalian, Saya, Aurelia Vespucci mempersembahkan kepada anda, ..."

"... Kota Eldorado!"

Semua awak kapal bersorak senang, mereka berpelukan dan bersalaman satu sama lain.

Seorang lelaki muda sedang bersembunyi dibalik semak-semak. Melihat Vespucci dan awak-awaknya, ia lalu tersenyum licik.

"Kau memang brilian, Vespucci..."



"Tuan Sherlock Holmes?" tanya seseorang dari luar. "Masuk." jawab Holmes. Orang itu lalu masuk. Seorang pria yang kurus kering dan berkulit sawo matang dengan rambut hitam.
"Perkenalkan, nama saya Lionel Vespucci, siapa di antara anda yang bernama Sherlock Holmes?" tanya pria yang bernama Vespucci itu. "Dengan saya sendiri." jawab Holmes.
Pria itu tiba-tiba tersungkur di atas karpet kulit beruang. Aku dan Holmes hanya bisa menatap selama beberapa detik. Aku lalu mengambil brendi dan meminumkannya kepada pria itu. Pria itu mulai membuka matanya perlahan.
"Maaf sudah merepotkan, tapi, apa yang saya alami begitu unik, sehingga saya tidak melihat ada celah anda akan melewatkan kasus ini." kata Vespucci kemudian.
"Aku adalah kakak dari Aurelia Vespucci." kata Vespucci.
"Vespucci? Oh baiklah, V. V... V..." gumam Holmes sambil membolak-balik buku indeksnya.
"Ah! Vespucci, Aurelia. Lahir di Spanyol, 31 Agustus 1981. Penjelajah wanita pertama yang berhasil menjejakkan kakinya di hutan Amazon. Keturunan langsung dari Amerigo Vespucci. Hm! Siapa dia? Coba kita lihat..."
"Tidak perlu, Mr. Holmes," potong Vespucci tidak sabar, "Saya akan menjelaskan tentang Amerigo Vespucci."
"Vespucci, Amerigo. Kapten perjalanan pencarian Dunia Baru, salah satu dari orang-orang Eropa yang pertama kali mengemukakan adanya Benua Amerika. Meninggal dalam perjalanan pencarian Dunia Baru. Saat Dunia Baru ditemukan oleh Christopher Columbus, yang menggantikan Vespucci, pada tahun 1492, Columbus menamakan benua tersebut Benua Amerika untuk menghormati Amerigo Vespucci."
"Lalu, apa hubungannya penemuan Benua Amerika dengan penyebab anda kemari?" tanya Holmes sambil memain-mainkan pipa cerutunya.
Vespucci lalu mengangkat alisnya. "Tadi 'kan Anda yang minta dijelaskan. Baiklah, saya akan masuk ke penjelasan sebenarnya."

"Seperti yang ada di buku indeks Anda, adik saya adalah penjelajah. Adik saya adalah sahabat dekat Ratu Spanyol, jadi dia tidak ada masalah dengan biaya. Ia pun melakukan ekspedisi pencarian Kota Eldorado! Eldorado, Tuan-tuan!"
"Maaf," kata Holmes sambil tersenyum, "Tapi apa itu Kota Eldorado?"
"Eldorado adalah sebuah kota, yang mana dijuluki 'Kota Emas'. Tidak ada yang pernah menemukan Kota Eldorado dan kembali dalam keadaan hidup-hidup. Eldorado terletak di dalam Hutan Amazon." jelas Vespucci.
Holmes lalu mengangguk. "Silakan lanjutkan."
"Orangtuaku melarangnya, tapi semakin dilarang ia akan semakin bersemangat. Akhirnya ia berangkat 3 tahun yang lalu. Beberapa bulan sebelum ini, ia mengirimiku e-mail. Ini, saya sudah cetak e-mailnya." Vespucci menyerahkan secarik kertas kepada Holmes. Holmes lalu membacakannya.

Dari: Aurelia Vespucci
Subyek: Eldorado

Hai. Bagaimana hidupmu di Spanyol?
Aku akan pulang beberapa bulan lagi. Aku menemukan Kota Eldorado! Aku akan membawa sebagian kekayaannya ke Inggris. Tunggu aku disana.


"Pagi ini kapalnya tiba di pelabuhan. Aku sudah berniat untuk mengunjungi kakakku, dan melihat emas yang ia dapatkan dari Eldorado. Aku sudah masuk kapalnya, Bottega. Awak-awaknya sudah mengenalku, jadi aku bisa langsung memasuki dek."
"Aku sangat terkejut melihat mayat adikku sudah tergeletak di dek. Ia menggenggam peta yang sudah robek. Sepertinya itu adalah peta menuju Eldorado." jelas Vespucci.
"Apa kau membawa petanya?" tanya Holmes. "Tentu, aku membawanya." kata Vespucci sambil memberikan secarik kertas pada kami.

Kertas itu biasa saja, hanya seperti peta pada umumnya. Tapi itu memang peta menuju Eldorado, hanya saja hilang di beberapa bagian.

Holmes lalu membalik kertas itu. "Kau tahu arti tulisan ini?" kata Holmes sambil menunjuk sebuah tulisan di balik peta.
Vespucci mengamati tulisan itu. "Tidak, aku malah baru tahu kalau ada tulisan disitu." kata Vespucci.
Holmes lalu menyalin tulisan itu ke buku catatannya.

1412 akan menghancurkan dunia

"Apakah ini tulisan adikmu?" tanya Holmes. "Ya. Tapi aku tidak mengerti apa maksudnya." kata Vespucci.
__________________________
"Shinichiiii!" teriak Ran jengkel. Shinichi sedang asyik membaca majalah The Strand, dimana cerita-cerita Sherlock Holmes dimuat. Mereka sedang duduk-duduk di sebuah kafe di London. Mereka memang sedang jalan-jalan di London karena ibu Shinichi, Yukiko, tampil di teater. Ran lalu merebut paksa majalah itu. "Hah! Rasain!" ejek Ran. Shinichi cuma balas tersenyum dan mengambil sesuatu dari tasnya. "Ya ampun! The Strand lagi?" tanya Ran jengkel. Shinichi lalu menunjukkan ranselnya. Setengah isi tasnya itu majalah The Strand! "Astaga... Pantas saja kamu tidak punya pacar!" kata Ran sambil geleng-geleng.
"Biarin, aku kan punya ka..." kata-kata Shinichi terhenti. Wajah Shinichi memerah. "Ka...?" tanya Ran. "Ka... Ka... Kakak sepupu!" kata Shinichi sambil marah-marah. "Kok marah-marah gitu sih?" tanya Ran mengejek sambil tertawa kecil. Shinichi masih menggerutu.
__________________________
"Shinishi.... Kudo? Shinishi Kudo?" kata seorang tukang pos kebingungan. Merasa terpanggil, Shinichi mendekati sumber suara. "Dengan saya sendiri." kata Shinichi. "Ada surat untukmu. Maaf, aku tidak terlalu fasih mengucapkan nama dalam bahasa Jepang." kata tukang pos sambil memberikan sebuah amplop. "Oh, baiklah, tidak apa-apa." kata Shinichi sambil tersenyum. Ia lalu kembali ke kamar hotelnya.
Aneh, pikirnya. Jaman sekarang 'kan sudah ada telepon, SMS, e-mail, kenapa harus pakai surat?
Shinichi lalu melihat nama dan alamat pengirim surat itu.

Sherlock Holmes
221B Baker Street
Westminster, London,
Inggris

OKE gue pake nama Aurelia bukan buat narsis ya -.- Aurelia itu nama Spanyol, kan Vespucci bersodara orang Spanyol kan?
Eh iya ini Sherlock Holmes modern loooh (Sherlock BBC)... Yang BENEDICT CUMBERBATCH ITUU /kemudianfangirling /bukan